Heaven Knows


Pak …

Pagi itu Ramadhan hari ke 27. Hawa sejuk berhembus. Tak seperti biasanya. Hari-hari Ramadhan selalu diwarnai panas dan kering bahkan di pagi hari. Tapi hari itu, hawa sejuk seperti di daerah pegunungan terasa sejak malam hingga waktu Dhuha menjelang …

Pak…

Pagi itu, melalui toa masjid, saya mendengarnya …“Bapak telah berpulang…”

Lalu semuanya kembali. Ingatan-ingatan itu kembali. Kenangan-kenangan itu kembali. Detik-detik itu kembali …

Dulu, Pak …

Setiap habis magrib, saya berdiri di depan pintu. Menunggu Bapak pulang dari Masjid. Ketika saya tangkap sosok Bapak dikejauhan, saya berlari menyongsong dan mencium tangan Bapak

Dulu, Pak …

Saya duduk dihadapan Bapak. Lalu, bapak bertanya,”Sampai di mana kemarin bacanya?” saya menunjuk tanda pembatas. “Teruskan…”

Saya bertanya”Berapa lembar?”

“Setengah juz!"

“Banyak amat,…nanti keburu habis film di TV” Saya memberenggut protes.

“Jual aja TV-nya!”

Lalu saya membaca dengan suara keras-keras dan cepat-cepat. Seringkali Bapak mencubitku karena membaca asal-asalan. Seringkali aku menangis, kesal!

Dulu, Pak …

Dengan sabar, Bapak memperkenalkanku pada huruf-huruf mulia itu. 26 jumlahnya. Dari Alif sampai Ya’ …

Dulu, Pak …

Dengan semangat tinggi, Bapak memberitahuku kawan dari huruf-huruf itu, agar mereka berirama indah. Fatha, Kashrah, Domha, Tanwin, Sukun

Dulu, Pak …

Dengan ikhlas, Bapak mengajarkanku ilmu tajwid, supaya huruf-huruf itu berarti dan bermakna. Izhar, Idhgom, Iqlab, Ikhfa ..

Dulu, Pak …

Sehabis mengaji, Bapak tak lantas menyuruh saya pulang. Bapak bercerita. Tentang kisah-kisah indah jaman Rasul. Tentang kisah-kisah lucu Abu Nawas. Tentang kisah-kisah kepahlawanan Khulafaur Rashidin dan para Sahabat. Tentang kisah-kisah kesederhanaan para Wali.

Sebuah cerita yang masih lekat dalam ingatan saya, sampai detik ini adalah kisah Ashabul Kahfi. Berkisah tentang tujuh pemuda dan seekor anjing yang membunti mereka. Bahkan seekor anjing pun bisa masuk surga, asal pintar memilih teman, ya kan, Pak ?

Dulu, Pak …

Saat saya akhirnya bisa mengkhatamkan kitab suci 30 juz untuk pertama kali, bapak hanya berpesan singkat ,”Tiap hari dibaca, ya …”

Dulu, Pak …

Suara bapaklah yang membangunkan orang-orang setiap pagi. “Asha-shalaatu khairum minan naum. Shalat itu lebih baik daripada tidur.”

Kadang, seorang diri, bapak membuka pintu Mushola, menyalakan lampu, bershawalat, azan, iqomat, imam, sekaligus makmum. Seorang diri.


Dulu, Pak …

Selepas subuh, bapak melangkah menuju pasar. Membuka kios kecil di sudut pasar dan mulai berjualan daging sapi. Penjual daging dan pemotong hewan Qurban, adalah pekerjaan yang bapak jalanin untuk menafkahi keluarga.

Namun demikian, ibuku, juga ibu-ibu tetangga sekitar, jarang membeli daging di kios bapak.

“Bu, kenapa gak pernah beli daging di tempat bapak?” tanyaku, dulu

“Gak enak. Kalau tetangga yang beli, duitnya gak pernah mau diterima. Kasihan, jadinya rugi …”

Hmm…itu rupanya. Mereka segan berniaga dengan bapak, karena bapak tak mau menerima pembayaran dari para tetangga.

Dulu, Pak …

Setiap Idul Adha, bapak sibuk luar biasa. Panggilan untuk menyembelih hewan Qurban datang dari mana-mana. Sebagai upah, bapak menerima banyak kepala kambing. Lalu, bapak membagikan kepada siapapun yang mau. Tidak dijual. Tidak dimasak sendiri. Tidak disimpan sendiri.

Kemudian ...

Saat masa remaja kemudian dewasa, merenggut semua hal indah dan lugu, saya tak pernah lagi duduk bersimpuh di depan bapak, mengeja ayat-ayat-NYA, mendengar kisah-kisah hikmah.

Tapi, Pak ..

Apa yang telah bapak tanamkan mengakar kuat dalam diri saya. Membuat saya tak tercabut dan mengapung-apung terbawa arus liar. Saya tetap kukuh, meskipun sering oleng dan bengkok ke arah yang salah, namun saya selalu kembali. Karena saya ingat pesan Bapak …

Tapi, Pak…

Apa yang pernah bapak semai, akan berbunga lalu berbuah. Mungkin bapak tak dapat menyaksikan keindahannya. Mungkin bapak tak bisa merasakan kelezatannya. Di dunia ini…

Tapi, Pak …

Mereka - benih-benih kebaikan, ilmu, amal sholeh, sabar, dan iklhas - telah menunggu Bapak. Menerangi gulita alam kubur. Menyejukkan panas alam barzakh. Melapangkan sempit dan curamnya titian sehelai rambut dibelah tujuh. Hingga, mengantarkan Bapak sampai di Surga firdaus

Pak…

Saya tidak tahu apapun tentang kematian, kecuali satu hal bahwa dia PASTI akan datang

Yang saya tahu, bapak hanya ‘menderita’ sesak nafas untuk kemudian terbaring selamanya.

Yang saya tahu, pagi itu, udara sejuk. Langit mendungi tidak hujan. Angin berhembus dingin meskipun matahari mengambang.

Yang saya tahu, hari itu, hari ke 27 Ramadhan. Semalam adalah malam ganjil ke 27.

Yang saya tahu, sholat jenazah dilakukan dalam beberapa gelombang.

Yang saya tahu, saya bisa membaca Al-Qur’an, karena bapak yang mengajarkan …

Selamat Jalan, ya Pak …

Pintu surga terbuka lebar untuk Bapak …

*Mengenang guru mengaji masa kecil... Alm Bapak Madi

Tidak ada komentar