Posesif



Cerpen ini dimuat di Majalah CHIC Edisi 14 Desember 2011
What a beautyful birthday gift...

POSESIF
Oleh Dwi Indart
i

“You’re nuts!” Teriakmu. Aku tergugu. Malu. Marah. Kaget. Sedih. Tak kukira reaksimu seperti ini. Aku diam. Beberapa orang yang sedang berada di sekitarku menoleh. Aku tetap bergeming.

“What’s on your mind?” Tanyamu.

What’s on my mind? Aku mengulang pertanyaanmu dalam hati. Bibirku terkantup rapat tapi hatiku berteriak.

You! Only you! Always you, Samantha.

‘***
*Ku ingin tahu, kau harus mau. Ku ingin kau begitu agar kau tahu. Jadilah engkau milikku selalu, utuh. Tanpa tersentuh…Cuma aku.

Hampir sepuluh menit aku duduk di sini. Sendiri dan tersembunyi. Aku mengawasimu, Samantha. Seperti yang selalu aku lakukan selama seminggu terakhir ini. Tentunya tanpa sepengetahuanmu.

Tahukah kau, saat ini hatiku sedang bergemuruh. Seperti ada badai La Nina menghantam dinding hatiku melihat Bayu membelai rambut indahmu. Rasanya aku bisa mencium harum aroma rambutmu. Aku tahu shampoo apa yang kau pakai.

“Oh…jadi kamu pakai shampoo ini?” Tanyaku waktu sedang menemanimu berbelanja di Supermarket.

“Iya. Aku suka wangi bunga mawarnya. Shampoo ini membuat rambutku lembut seperti habis creambath.”

“Dasar korban iklan!” Ledekku. Rambutmu sangat indah, Samantha. Panjang dan hitam. Selalu tergarai lepas. Sering kali rambutmu menampar-nampar wajahku, tapi aku tidak keberatan. Aku senang sebab aku bisa puas menghirupnya dalam-dalam. Kau tak tahu, kan ? Esoknya, aku membeli shampoo merk itu dan memakainya sejak itu.

Sekarang aku melihat Bayu duduk disampingmu. Dekat sekali. Pasti dia sedang menikmati harum parfummu. Tiba-tiba saja udara di sekelilingku seakan dipenuhi aroma bunga mawar.

“Cium, deh!” Kau menjulurkan tangan kanan ke bawah hidungku. “Baunya enak,ya! Ini parfum favoriteku. Kata Mama aroma mawar cocok untukku. Well, I like it though.” That was another shopping time with you.

Mawar memang cocok untukmu, Samantha. Karakter mawar adalah ramah, alamiah, selalu optimis, menyukai tantangan, penuh ispirasi. Itu semua ada dalam dirimu, Samantha. Kemudian diam-diam, aku membeli parfum itu untuk diriku sendiri. Agar aku bisa selalu menghirup aromamu, merasakan kehadiranmu di sisiku.

‘*Mengapa aku begini. Jangan kau pertanyakan…

Ya, jangan kau pertanyakan mengapa aku seperti ini, Samantha. Seperti kata si @poconggg di twitter, cinta itu seperti kentut, bisa menyerang siapa saja. Kedekatan kita selama setahun ternyata menumbuhkan rasa yang lebih dalam diriku.
It was the most beautiful year that ever happened in my life. Kata orang, pindah kerja itu berat. Kita harus memulai segalanya dari awal. Kita harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru lagi. Tapi semua terasa indah di kantor ini. Semua berkat dirimu, Samantha.

“Hai, aku Samantha.” Tanganmu terjulur kepadaku saat aku duduk sendiri di meja kosong.

“Alex.” Jawabku singkat.

“Hari pertama, ya?”

“iya.”

“Kita satu divisi, loh. You are my partner, now. Aku senang mereka cepat mendapatkan orang baru. Aku sudah hampir overload! Well then, aku kasih tahu job desc kamu dulu, ya… Karena kamu udah punya pengalaman di bidang yang sama, aku yakin, kamu gak akan mengalami kesulitan . ” Kau bicara panjang lebar sementara aku hanya terdiam memperhatikan dirimu.

Cantik adalah kata yang tepat untuk menggambarkan dirimu. Typically wanita masa kini. Penampilanmu tanpa cela. Sederhana namun elegan. Simple but chic. Lembut tanpa kesan lemah.

The day I met you was a new life to me. Berteman denganmu adalah berteman dengan keceriaan, kegembiraan, tawa, canda, gaul dan kesenangan.

“Kamu kaku sekali, sih Lex. Kayak kanebo! Rileks dong! Jangan serius terus! Ngaca deh, muka kamu boros. You look older than your age!” Protesmu suatu ketika. Well, that’s me Samantha.

Aku yang kikuk, selalu salah tingkah, penyendiri dan minder, tak punya banyak teman. Sejak masa sekolah, kuliah hingga memasuki dunia kerja, aku tak pernah punya teman dekat. Aku pun malas berteman dengan mereka. Tapi, bersama kamu rasanya berbeda, Samantha. Kau membuatku merasa dibutuhkan. Kau membuatku merasa ‘ada’, bukan hanya sekedar sosok invisible.

Perhatian kecil dan sederhana darimu sangat berarti besar bagiku. Seperti SMS-SMS yang kau kirim.

Lex, lagi ngapain?>> Itu adalah kalimat SMS terindah bagiku.

Lex, BT nih. Jalan yuk!>> Itu adalah SMS dari surga

Lex, curhat dong! >>Itu adalah SMS berkah dari langit.

Asal kau tahu, Samantha, aku tak pernah menghapus SMS-SMS darimu. Inbox dan saving massageku penuh. Jika sudah overload, aku akan menambah memori agar bisa terus menyimpan SMS darimu. Sebelum tidur, aku membaca ulang semua SMS-mu hari itu. Aku menghitung dan membandingkan, apakah jumlah SMS-mu hari ini kurang dari kemarin.

Mengapa aku begini, jangan kau pertanyakan …

Ya, jangan kau pertanyakan mengapa aku begini, Samantha. Seperti twit-nya si @poconggg yang lain. Cinta itu kayak kentut, ditahan sakit, dikeluarin malu.

“Samantha, cowok kamu siapa sih?” Tanyaku saat kita nongkrong di Starbuck selepas jam kantor.

“Ngapain tanya begitu?”

“Heran aja, masa cewek secantik kamu belum punya pacar?”

“Kalau aku udah punya pacar, ngapain aku di sini sekarang sama kamu.” Jawabmu.

Hatiku melompat riang. Apakah ini berarti aku adalah…?

“Kamu gak kepengen punya pacar? Banyak yang suka sama kamu.” Aku berusaha memancing terus.

“I will, one day. Tapi, untuk saat ini, lebih enak begini. Lagian ada kamu, Jeleeek…” Kau menepuk-nepuk pipiku. O, Sam, you have no idea how I felt at that time. I can’t describe it in words.

Berdua, kita merangkai hari-hari indah. We are partners in crime. Di luar jam kerja, aku senang menemanimu ke tempat-tempat gaul seperti Mall, salon, bioskop, kafe, nonton live music. Dan sepertinya kau juga senang jika kuajak ke tempat-tempat kesukaanku. Musium, galery, teater seni, pameran.

“Gila! Selera kamu tuwir banget, Lex! Classy! Kamu memang istimewa! ” Begitu komentarmu. Istimewa? Apakah aku istimewa di hatimu, Samantha?

Tapi Samantha, mencintaimu sangat menyakitkan. Rasanya, aku ingin menulis kalimat I LOVE YOU di atas batu bata, lalu aku lempar ke kamu biar kamu tahu sakitnya mencintaimu. Bagaimana tidak? You are everybody’s sweet heart. Everybody loves you.

*Jadilah engkau milikku selalu…utuh. Tanpa tersentuh…Cuma aku.

Harusnya aku yang boleh menyukaimu. Yang lain tidak boleh. Suruh mereka cari orang lain saja untuk disukai, jangan dirimu. Sebab kau hanya milikku. Jujur, aku tidak suka kalau kau membalas sapaan mereka yang menyapamu. Aku benci melihatmu tersenyum kepada cowok-cowok yang menggodamu. Aku sebal melihat kau mendengarkan dengan penuh perhatian kepada setiap orang yang curhat kepada. What are you? Psikiater, kah? Ngapain juga mau-maunya menampung sampah orang-orang itu!

“Ganjen! Pecicilan!” Gumamku suatu kali saat sudah tidak tahan melihatmu ngobrol seru dengan sekelompok cowok-cowok IT. Sialnya, kau mendengar gerutuanku.

“Apa kamu bilang barusan, Lex? Aku ganjen? Aku pecicilan? Ouch!” Lalu kau pergi meninggalkanku begitu saja.

Mati-matian aku minta maaf kepadamu dan berjanji untuk memperbaiki sikapku. Ini sebuah pelajaran berharga buatku. Aku harus lebih bisa menahan diri. Memang belum. Kau belum menjadi milikku sebab aku belum mengatakan perasaanku yang sesungguhnya kepadamu.

Sikap dan kepribadianmu membuat semua orang ingin dekat denganmu. Dari satpam gedung sekolah sampai tukang parkir. Dari orang-orang IT sampai Bayu - Manajer baru di kantor ini.

Bayu…Bayu…Bayu…!

Kenapa dia pindah ke kantor ini? Kenapa dia mengepalai divisi kami? Kenapa dia tampan? Kenapa dia pintar? Kenapa dia baik dan ramah ? Kenapa dia kaya? Kenapa dia jago olah raga? Kenapa dia langsung jadi Manajer? Dan yang penting, kenapa dia suka sama Samantha ? Oh, satu lagi, ini lebih penting, kenapa sepertinya Samantha juga suka sama Bayu? KENAPA?

Sebulan yang lalu, monster itu datang ke kantor ini. Di mataku, dia adalah sosok monster yang mengobrak-abrik istana surgaku bersama Samantha. Meskipun Bayu menawarkan persahabatan dengan wajah tulus, bagiku dia memakai topeng. Apa untungnya dia bersahabat denganku selain untuk mengincar Samantha? Seluruh kantor tahu, aku orang yang paling dekat dengan Samantha saat ini.

Bayu…Bayu…Bayu…!

Cewek seantero kantor sibuk kasak-kusuk tentang dia. Mereka berlomba untuk mendapatkan perhatiannya. Apakah Samantha-ku juga ingin menarik perhatiannya? Tidak perlu. Sebab Bayu sendiri yang selalu berusaha mendapatkan perhatian Samantha.

“Samantha, kamu mau langsung pulang atau mampir dulu?” Tanyaku saat berkemas pulang.

“Umm…Lex, Bayu minta ditemenin ke toko buku. Kamu mau ikut?”

Jleb! Rasanya seperti ditebas samurai. Bayu sudah berani ngajak Samantha? O, No!

“Iya. Aku ikut!” Tentu saja aku tidak bisa membiarkan mereka berdua saja. Aku bisa gila karena menderita. Tapi kenyataannya, aku lebih menderita karena memutuskan untuk ikut mereka. Aku seperti orang bodoh yang membuntuti dua pasangan serasi ini. Mereka terlibat pembicaraan seru soal musik, film, buku, kuliner. Samantha tertawa geli mendengar lelucon Bayu yang terdengar sangat tidak lucu di telingaku.

“Lex, Papa kamu jualan cabe, ya? Abis kata-katamu pedes!” Kata Bayu. Aku memang berkomentar sinis tentang segala topik yang coba dilontarkan Bayu.

“Garing!” Jawabku ketus sambil mencincang steak tanpa ampun. Setelah keliling toko buku, kami bertiga makan di Foodcourt. Tiba-tiba, Blackberryku berbunyi.

Lex, kamu kenapa, sih? Aku ‘kan gak enak sama bayu. Kalau kamu capek, pulang duluan aja. Jangan begini, dong. Aku gak suka.

Kata-kata itu terpampang di layar BB-ku. Samantha mengirim BBM kepadaku diam-diam. Aku menatapnya dan dia menghindari kontak mata denganku.

Sorry deh. Aku gak capek, kok. Aku mau pulang bareng kamu, ya.

Aku mengirim balasan dan tersenyum. Aku bisa bersandiwara. Yang penting aku tidak membiarkan Samantha berdua saja dengan si Bayu.

Oke. Just behave! Balasnya

Setengah mati aku menahan diri dan bertahan bersama mereka. Aku sama sekali tidak mau meninggalkan Samantha berdua dengan Bayu. No way! Not in a million time!

Setelah kejadian itu, kau seperti menjauh. Kau jarang mengirim BBM kepadaku. Meskipun kau masih mau membalas BBMku, tapi, jawabannya hanya berupa kata-kata singkat dan seperlunya. O, Samantha, aku sedih, kesal, marah, galau.

Lalu aku memutuskan, sudah saatnya untuk bertindak sebelum semua terlambat. Kau harus tahu tentang perasaanku yang sebenarnya. Kau harus tahu bahwa kau hanya boleh untukku, bukan Bayu, bukan juga yang lainnya. Aku rela mati demi dirimu, Samantha.

Jika kumati, kau juga mati. Walau tak ada cinta sehidup semati.
Terdengar seram memang, tapi itulah diriku. Aku hanya ingin memilikimu seutuhnya. Dan kau hanya boleh jadi milikku.

Maka, malam ini kuputuskan untuk bicara denganmu …

‘***

“Kau sakit, Lex !” Desismu.

“Aku…aku memang sakit karena kau, Samantha!” Gumamku.

“Hentikan! Aku jijik mendengarnya ! Mulai sekarang, jangan pernah dekat-dekat denganku lagi! Aku gak menyangka sama sekali …!” Katamu berapi-api.

“Kenapa, Samantha ? Kenapa kau tidak mau menerima cintaku? Aku tulus mencintaimu. Aku…aku tak bisa jauh darimu. Tolong, jangan suruh aku pergi darimu …” Aku berusaha menggenggam tanganmu, tapi kau menepisnya dengan kasar.

“Mana mungkin aku menerima cintamu?”

“Kenapa tidak? Aku bisa membahagiakan dirimu, Samantha. Aku akan melakukan apapun untukmu. Matipun aku mau….”

“Sadarlah Alexandra Putri Damayanti! Kau itu sakit jiwa !” Lalu kau berlari
meniggalkan diriku sendiri. Ditengah tatapan orang-orang sekitar…

‘***

Tidak ada komentar