Pada Untaian Senja


Yang tak terucapkan pada untaian senja
Oleh Dwi Indarti


Cerpen ini jadi CERITA UTAMA di MAJALAH STORY edisi bulan Oktober 2011.
Huff...penantian panjang selama 2 tahun terbayar sudah. Dulu, gw selalu ngebayangin,"Apa rasanya kalau cerpen gw jadi cerpen utama di Majalah? Nama gw tercetak di cover depan..."

Alhamdulillah, akhirnya impian gw jadi kenyataan. Jadi, bagaimana rasanya ? Hmm...rasanya begitulah....!

Oia, judul cerpen ini kena pangkas sang editor. Judul aslinya mah, panjang, euy ...

Note : this short story is based on a true story. I have visited most of the places in this story ... well, actually, this short story is a reflection of my life...#uhuk! mimisan luber...


Cinta, ingin kuuraikan untaian senja yang terpatri di atas tahta kenangan hidupku. Aku tak tahu darimana harus memulainya. Begitu banyak mozaik senja yang terekam dalam benakku. Semua menyatu bagai untaian mutiara. Setiap butir mutiara itu memancarkan kemilau cahaya yang membias dari kenangan-kenangan yang tersimpan di dalamnya.

Entah, sejak kapan aku mulai menyukai senja. Mulanya, aku tak pernah peduli pada penggalan waktu siang dan malam yang kulalui setiap hari. Kuabaikan serpihan sisa cahaya siang dan tak kuhiraukan datangnya kepingan malam. Semua berlalu begitu hampa tanpa makna. Kaulah yang memperkenalkanku pada keajaiban senja.

“Setiap doa yang terbetik di hati manusia akan dibawa terbang menuju Arsy oleh berjuta malaikat yang turun ke bumi setiap fajar dan senja, saat terang dan gelap bersatu.“ Ucapmu di bibir senja.

“Benarkah? Siapa yang mengatakan itu?” Tanyaku

“Ibuku. Aku percaya itu. Mungkin itu sebabnya ada panggilan menghadap Illahi di setiap fajar dan senja.”

“Apakah….”

“Ssst…diamlah sejenak. Biarkan senja berlalu tanpa celoteh dua anak manusia. Sudah terlalu banyak kebisingan yang menghalau melodi kepak sayap-sayap malaikat.” Ujarmu sambil menempelkan jari telunjuk pada bibirku.

Kala itu, kita sedang berada di ruang terbuka lantai teratas sebuah pertokoan di Blok M. Kita berdiri menghadap sang surya yang bulat penuh laksana kuning telur. Matahari menebarkan siluet jingga pada semua benda yang tersentuh oleh cahayanya. Pemandangan yang terhampar dibawah kaki kita adalah kepadatan lalu lintas Jakarta yang sesak. Rasanya cepat sekali matahari tergelincir jatuh dan hilang dibalik gedung-gedung pencakar langit. Tak lama, panggilan suci bergema dari masjid yang terletak di atap gedung itu.

“Shalat, yuk…” Ajakmu. Aku mengekormu tanpa berkata-kata. Ah, Cinta, tahukah kau bahwa saat itu adalah kala pertama mataku terbelalak oleh keindahan senja?
Sejak itu kita berburu senja. Senja yang tertinggi hingga yang tersembunyi. Senja yang centang perentang hingga yang hanya menyuguhkan kegelapan. Senja yang penuh kehangatan sampai kebekuan. Senja yang terindah hingga yang terkelam.
Cinta, inilah sekelumit penggalan-penggalan senja yang telah kita reguk keajaibannya. Senja-senja itu menyemai benih-benih asing di taman hatiku.

‘***

:: Pada senja di puncak Gunung Gede Pangrango ::

“Ayo…kamu bisa! Sudah dekat. Kita tepat waktu. Setelah mendirikan tenda untuk bermalam, kita ke puncak Gede untuk melihat sunset. Come on, tough girl!” Suaramu hanya samar-samar mencapai gendang telingaku. Nafasku terengah. Kakiku protes pada jalan menanjak yang rasanya tak kunjung usai. Pendakian pertamaku ini menyiksa sekali. Padahal di pundakku tak ada beban carrier seperti yang kau sandang. Aku hanya menjinjing sebotol air mineral. Tujuh jam perjalanan mendaki membuat tubuhku berasap seperti mesin.

Kau raih tanganku dan menyemangatiku untuk terus melaju. Begitu tiba, aku rebah pada ilalang. Kau tertawa-tawa bersama teman-teman dan mendirikan tenda, seolah energimu tiada surut setitik pun. Setelah nafasku pulih, kuikuti kau menuju puncak Gunung Gede.

Kutemukan keajaiban senja yang lain. Matahari yang sama ketika kami berada di Mall, kini menampakkan sosoknya di puncak gunung. Kesunyian sakral yang menelingkup hanya terburai oleh suara para penghuni malam. Terlalu cepat kegelapan menghambur ke alam raya dan memaksa sang surya berpaling menjauh. Aku terpekur.

“Hei, kenapa wajahmu murung? Tak sukakah kau pada senja yang baru saja melintas?” Tanyamu saat kita kembali ke tenda.

“Terlalu cepat…” Ujarku singkat.

“Bumi ini berputar, non. Matahari sedang menjalankan tugasnya untuk menerangi belahan dunia yang lain. Atas ijin Tuhan, esok pagi ia akan kembali ke sini dan kita akan menyambutnya saat ia tiba. Besok, kuajak kau ke alun-alun Surya Kencana.”

“Apa itu?” Tanyaku penasaran.

“Sebuah padang savanna yang luas.” Jawaban singkatmu melenyapkan kesedihanku. Kuperhatikan kau terus mengulum senyum.

“Kenapa kau terus tersenyum?” Selidikku.

“Aku senang kau mulai jatuh cinta pada senja.”

O, Cinta…tahukah dirimu bahwa senja di Puncak Gunung Gede itu telah membuatku mengenali apa sebenarnya benih-benih asing di hatiku? Kini, benih-benih itu telah menjadi tunas-tunas muda.

‘***

::Pada senja di Prambanan dan Borobudur::

“Akhirnya, kita sampai di Jogya!” Serumu saat menjejakkan kaki di peron Stasiun Tugu. Dipenghujung tahun itu, kita berkelana lebih jauh ke luar ibukota. Hari pertama di kota Pelajar, kita menyusuri senja menuju Prambanan. Kita menghujamkan tapak-tapak kaki pada jalan beraspal dan berdebu yang bercampur kotoran kuda.

“Lihat, matahari itu! Wow, dia selalu indah dimanapun berada.” Tunjukmu saat menemukan sang surya menyembul di balik dinding-dinding candi. Kita berlarian di sela-sela bongkahan reruntuhan candi yang terserak akibat gempa di tahun yang silam. Tak puas-puasnya kita bergaya di bawah kilatan bliz. Setelah lelah berlari, melompat dan terbahak, kita duduk pada bibir bebatuan tua, menatap lurus sang surya. Angin senja menyapa lembut, mengeringkan peluh yang membasahi tubuh. Nun jauh dalam jangkauan pandangan mata, Merapi yang terselimut kabut berdiri kokoh dalam samar.

“Aku ingin ke sana, suatu hari nanti.” Katamu menunjuk puncak Merapi. Kudapati kesungguhan pada sorot matamu saat kau mengucapkan itu.

“Mengapa kau suka gunung?” Tanyaku. Pandanganku mengikuti arah telunjukmu.

“Karena gunung adalah keangkuhan yang harus ditaklukan. Keindahan yang menipu. Ketenangan yang melenakan. Dan di sana terpendam sejuta misteri yang tak pernah terkuak. Disandingkan dengan gunung, manusia kecil tiada arti. Tapi, kesombongan manusia terkadang jauh melampaui tingginya gunung.”

“Aku mau ikut kalau kau mendaki Merapi!” Kataku bersemangat.

“Gadis kota manja seperti dirimu mau ke puncak Merapi? Ke Gunung Gede saja kau pingsan!” Kau acak poniku dan menggodaku yang bersungut-sungut. Lalu kita kembali tenggelam dalam keheningan senja.

Duhai, Cinta…gairahmu dalam menaklukkan puncak-puncak gunung menularkan semangat pada diriku. Dua tahun kedekatan kita telah membuka ruang cakrawala baru dalam hidupku. Hubungan ini begitu alami dan ringan bagai bernafas. Cinta, tunas itu kini telah ditumbuhi helai-helai daun muda. Namun masih kusembunyikan taman baru dihatiku…

‘***

:: Pada senja di Danau Ranu Kumbolo ::

“Tahukah kau, ini adalah salah satu mimpiku! Danau Ranu Kumbolo…here we come!” Teriakmu saat kita tiba di desa Ranu Pane. Itu adalah kelana kita yang berikutnya setelah Yogja. Tak percuma kita giat kuliah demi beasiswa, supaya bisa menghemat uang pemberian orang tua. Terbayar sudah hari-hari panjang yang kita habiskan di ruang kelas, perpustakaan dan warnet sambil merangkai kisah-kisah fiktif, yang kemudian disebar ke media cetak. Honor yang terkumpul kita nazarkan untuk berpetualang.

Keindahan panorama alam yang luar biasa sepanjang perjalanan mengalahkan keletihan yang hampir membuatku menyerah. Hamparan sawah yang luas dan berwarna warni menyegarkan pandangan mata yang lelah akan kepadatan ibukota.

Di danau Ranu Kumbolo, senja menghampiri bumi lebih cepat. Pukul dua sore, cuaca sudah berkabut dan sangat dingin. Tak lama kemudian, matahari mulai tenggelam di ufuk barat, meninggalkan hangatnya terang, berganti dengan kabut dan suhu yang sangat tidak bersahabat. Danau di pegunungan Tengger-Semeru dengan ketinggian 2500 meter di atas permukaan laut itu menyuguhkan pemandangan yang luar biasa. Keletihan yang mendera setelah melewati lereng-lereng curam terbayar dengan pemandangan kabut tipis keemasan yang melayang-layang di atas permukaan danau. Itu adalah senja terindah.

“Ya Tuhan, itu Mahameru…Puncak abadi para dewa.” Bisikmu saat menatap puncak Semeru yang mengepulkan wedus gembel setiap 15 menit.

“Kau ingin ke sana juga?” Tanyaku sambil menahan gigil yang mendera sekujur tubuh meski telah berbalut lapisan-lapisan baju penghangat.

“Asal kau tahu, Mahameru adalah puncak impian setiap pendaki.” Asap tipis keluar dari hidung dan mulutmu saat kau berucap-ucap.

“Kau ingin mencoba tanjakan cinta? Konon, jika kita berhasil melewati tanjakan terjal itu tanpa menoleh ke belakang, keinginan cinta kita akan terkabul.” Kau menantangku untuk naik ke track tanjakan cinta. Tapi, siapa yang tahan untuk tidak menoleh ke danau yang indah itu. Kau tergelak-gelak.

“Sudahlah, tak usah terlalu percaya. Cinta yang hakiki sudah ditakdirkan oleh Sang Maha Cinta. Cinta itu akan menghampiri orang-orang yang mendamba hanya pada-Nya.”
Duhai Cinta, keindahan senja Ranu Kumbolo adalah cermin keindahan taman di hatiku.

‘***

:: Pada Senja di lereng gunung Halimun-Salak ::

Kali ini tak ada senja. Hanya kabut dan kegalapan yang menemani kita duduk meringkuk di bale bambu, di tengah hutan pinus dan cemara, menatap rinai hujan yang menderas tanpa henti. Sejak tiba pukul satu siang, hujan telah menyambut bersama gemuruh petir dan halilintar. Kala itu, sehari sebelum kemerdakaan Republik tercinta, kita berencana mencapai Kawah Ratu dan memperingati detik-detik proklamasi kemerdekaan di bibir kawah. Namun alam berkata lain. Matahari benar-benar tak menampakkan wajah bulatnya. Sebenarnya aku berharap hujan segera pergi dengan menyisakan pelangi sebagai hiburan bagi kami.

“Jangan sedih. Hujan adalah anugerah. Tuhan memberi karunia-Nya pada senja ini. Nikmatilah kesejukan setiap tetesan air hujan yang menyirami tubuh kita. Semoga ia meluruhkan kotoran dan dosa yang melekat.” Kau menghiburku.

Ketika kita duduk berdampingan menunggu hujan, menatap kabut yang kian menebal, hampir saja meluncur dari lisanku sebuah kalimat yang sudah sampai di ujung lidah. Begitu besar dorongan untuk menunjukkan sebuah taman di hatiku yang kurawat hanya untukmu. Agar kau tahu betapa dirimu sangat berarti bagiku.

Namun, hal itu berhasil kutepis dalam helaan nafas panjang. Cinta, belum saatnya kau tahu karena aku belum siap terhadap kemungkinan penolakan darimu.

“Tak ada yang sia-sia”. Begitu katamu saat kita berkemas kembali tanpa membawa senja dari Gunung Halimun-Salak. Ya, Cinta…tak ada yang sia-sia. Telah terekam satu kenangan lagi. Bagiku, kebersamaan denganmu setiap waktu selalu indah meski tanpa senja.

‘***

:: Pada senja di Pantai Ancol ::

Tersesat! Itulah yang membawa kita sampai pada bibir pantai ini.

“Pulang, yuk. Pusing nih…!” Katamu sambil terhuyung-huyung begitu landai dari TORNADO yang mengaduk-aduk isi perut.

“Masih terang…mampir ke pantai dulu yuk…!” Usulku.

“Aku tak suka pantai. Lagipula, pantai di sini kotor. Banyak sampah dan orang pacaran. Langsung pulang saja…aku ada kuliah malam ini.”

Aku menurut. Bagiku, kesukaanmu adalah kesukaanku. Lantas kita susuri setapak di pinggir jalan menuju gerbang luar sambil tergelak-gelak mengingat petualangan di Dunia Fantasi tadi. Sejak pagi, kita puas-puaskan diri melompat dari satu wahana ke wahana lain, yang semakin menantang dan memicu adrenalin. Kita terus tergelak hingga mendengar suara deburan ombak.

“Itu pantai!” Seruku berlari menyongsong dan duduk dipagar batu. Tak lama kemudian, kau tiba disampingku, mendesa pelan dan duduk terdiam.

“Lihat! Matahari yang sama ada di sini.” Tunjukku pada sang surya yang mengambang di atas laut Jakarta.

“Silly girl… di mana-mana matahari memang sama.” Ujarmu agak ketus.

“Ayolah…kita istirahat sejenak di sini. Mumpung pantai tak terlalu riuh.” Bujukku. Memang hanya sedikit pengunjung yang menikmati deburan ombak sore itu. Tak seramai saat musim liburan. Kau mengikutiku berjalan di jembatan kayu yang menjulur ke laut. Air laut menjilati kaki kita. Angin laut yang asin dan hangat mengibarkan pakaian yang kita kenakan. Inilah senja terhangat. Kau agak diam di sana. Begitu tak sukakah kau pada pantai, Cinta?

“Kau lelah?” Tanyaku.

“Sedikit. Kalau kau ingin menikmati senja ini, puaskanlah. Jangan khawatirkan aku.”
Oh, Cinta, bagaimana aku bisa menikmati senja ini kalau kau tak menikmatinya juga? Tahukah kau, bahwa dirimu adalah pondasi semua rasa yang aku rasakan? Ya…ya…kau belum tahu, sebab aku belum mengatakannya.

Setelah gelap menggeser senja, kita beranjak pulang.

‘***

:: Pada senja di bangsal kamar No 307 Rumah Sakit Pusat Pertamina ::
Hampir sepuluh menit aku memandangi wajah pucatmu yang terlelap. Selang infus melilit pergelangan tanganmu. Kuberanikan untuk menggenggam jemarimu yang terkulai disamping tubuhmu yang berselimut. Kau menggeliat pelan.

“Hai…” Sapaku

“Hai. Sudah lama kau di sini? Jam berapa sekarang?” Suara parau dari bibir pucatmu seolah menusuk-nusuk relung hatiku.

“Senja…” Bisikku

“Jangan menangis. Aku hanya kelelahan. Dokter bilang aku cuma perlu istirahat. Jangan jatuhkan air matamu untukku…” Ujarmu ketika aku tak mampu membendung pecahan cermin tipis yang telah terbentuk di retina mataku. Tahukah kau, Cinta…aku seolah merasakan tusukan jarum yang menembus lenganmu. Aku seolah merasakan sakit yang bermayam dalam tubuhmu. Bagaimana kau bisa menyuruhku jangan menangis?

Sehari setelah kita menikmati senja di pantai Ancol, suhu tubuhmu naik dan kau tak sadarkan diri saat mengikuti kuliah. Typus dan demam berdarah menghantammu secara bersamaan. Kejam sekali mereka! Aku benci mereka! Aku benci apapun yang menyakiti dirimu…!

‘***

:: Pada senja di peron Stasiun Kereta Api Pasar Senen ::

“Jangan pergi…Kau belum sehat benar.” Cegahku

“Harus. Ini kesempatan yang telah lama aku tunggu. Hanya dua hari di Solo untuk meliput sebuah ritual adat. Kau tahu, cita-citaku adalah menjadi reporter. Diminta untuk menjadi wartawan freelance adalah kesempatan emas bagi karir masa depanku. Ikutlah denganku…”

Cinta, aku ingin sekali ikut bersamamu ke Solo. Tapi mamaku sedang sakit dan aku tak bisa meninggalkannya.

“Dua hari, dan aku akan kembali...” Kau melambai dan melompat ke atas kereta Senja Utama Solo.

Kembalilah, Cinta…Aku telah siap menunjukkan taman hatiku padamu. Apapun reaksimu nanti, aku telah siap.

‘***

:: Pada senja di Pemakaman Tanah Kusir ::

Disamping gundukan tanah merah ini kutemui senja seorang diri. Matahari tetap bulat kuning berkilauan dibalik pohon kamboja. Namun sinarnya tak mampu menembus selubung hitam dalam hatiku.

Kemarin, kuterima kabar itu. KA Senja Utama yang kau tumpangi menuju Solo bertabrakan dengan KA Argo Lawu. Aku tak percaya kau menjadi salah satu penumpang yang tewas dalam peristiwa itu sampai aku melihat daftar korban. Kudapati namamu tercantum diurutan nomor 7.

Cinta…kau bohong! Katamu kau akan kembali. Aku telah mempersiapkan sebuah senja untuk menunjukkan taman merah jambu di hatiku. Aku telah melatih lidah ini untuk mengucapkan kata yang selama ini tertahan diujungnya.

“Aku mencintaimu …”

Kau sangat mencintai senja hingga senja sendiri yang mengambilmu dari sisiku. Seperti apakah keindahan senja di sana?

5 komentar

  1. Aku suka senja, entah berapa kali sudah ku bolak-balik lembar Story edisi 26 hanya untuk membaca cerpen ini.
    Isinya provokator banget, aku ingin menikmati senja di tempat-tempat itu juga jadinya. Haha

    Cerpen yg keren, bukan begitu Gifairuz? ^^

    BalasHapus
  2. ayo Gifairuz, tepati janjimu! :p

    kak, izin copas ke blog ku yaa..
    aku cantumin penulis sama sumbernya kok ^^

    BalasHapus
  3. Hai teman ... makasih ya udah ngunjungin blog saya ... seneng uey ada yang mau baca blog ini ...

    Sok atuh, klo mau ditaro di blog, selama saling menjaga hak masing-masing, saya mah, oke-oke aja ... Thanks yaa

    BalasHapus
  4. Gifairuz: sip sip ^^

    Kak phoenix: iya kak masama :) okeh deh kak, kalo sempet mampir-mampir ke blog ku ya kak. ndahkuu.blogspot.com ^^

    BalasHapus
  5. Mulanya gue asal baca aja, gue kira kayak cerita cinta picisan, but rangkaian ceritanya cool dan gue hampir menangis saat adegan di rumah sakit, keep writing, thx 4 your story.

    BalasHapus