
Cerpen ini dimuat di Majalah HAI edisi Oktober 2011
Cinta si penggali kubur
Oleh Dwi Indarti
Panas matahari pukul dua siang benar-benar menyengat. Dul terus menggali lubang sedalam satu meter dengan ukuran 4 x 2 meter persegi. Gundukan tanah merah mulai membentuk di atasnya seiring centi-demi-centi kedalaman yang berhasil dia buat. Sesekali, Dul menenggak air putih dari botol mineral yang dia bawa.
Satu jam telah berlalu dan lubang sedalam 3/4 meter telah berhasil dia buat. Dul memutuskan untuk berisirahat sejenak. Dia melompat naik, membasuh tangan dan kaki, kemudian mencari pohon yang agak rindang. Semilir angin sepoi siang itu terasa sejuk, menerbangkan bunga-bunga kamboja yang rontok dari dahan. Tanah pekuburan itu sangat lengang.
Dul menghela nafas. Pikirannya melayang. Jam segini, sebagian besar teman-teman sekolahnya pasti sedang tidur lelap setelah pulang sekolah. Mungkin ada yang sedang jalan-jalan di Mall atau mungkin sedang berkelompok di tempat-tempat olahraga, bermain futsal, basket, les musik, bahasa Inggris atau sekedar nongkrong sambil mengerjakan tugas-tugas sekolah. Dul memikirkan hal-hal yang biasa dilakukan oleh anak seusianya sepulang sekolah. Pasti tak satupun dari mereka, sedang melakukan apa yang sedang ia lakukan saat itu, yaitu menggali kuburan.

Awalnya, Dul merasa malu karena mempunyai seorang bapak yang bekerja sebagai juru kunci sekaligus penggali kubur. Teman-teman semasa SD dan SMP dulu sering mengejeknya.
“Jangan bikin si Dul marah! Ntar kita dikubur hidup-hidup.….!”
“Ayo kita uji nyali! Siapa yang berani nginep di rumah Dul?!”
Belum pernah ada teman sekolahnya yang main ke rumah Dul, karena mereka takut. Rumah Dul berada di tengah-tengah komplek perkuburan yang luas dan untuk mencapai rumahnya harus melewati puluhan kuburan.
Dul hanya tinggal berdua dengan bapaknya, Pak Somad. Ibunya meninggal dunia ketika Dul berusia tujuh tahun. Tanah komplek perkuburan menjadi tempat bermainnya. Ketika Dul sudah akil balig - yang ditandai dengan sunatan massal di Mesjid Raya – bapaknya mulai menurunkan ilmu ‘kuburan’ kepada Dul. Mulai dari memilih lokasi seusai permintaan pelanggan, mengukur kedalaman, panjang dan lebar, memilih papan-papan penahan tanah, cara menggali dan lain sebagainya.
Biasanya, mereka mengerjakan pesanan kuburan berdua. Namun hari ini bapaknya sedang tidak enak badan. Dul harus tetap mengerjakan sebuah liang lahat yang sudah dipesan oleh sebuah keluarga tadi malam. Rencananya, esok pagi, pemakaman akan dilaksanakan. Jadi, Dul harus menyelesaikan lubang itu sore ini.
Dul berdiri memandangi ‘maha karya’ yang baru saja diselesaikannya. Sebuah lubang sedalam satu meter menganga di bawahnya. Kemudian dia pulang kerumah. Bapaknya sedang duduk menonton TV.
“Bapak sudah sembuh?” Tanya Dul.
“Udah. Tadi bapak minum obat warung. Lubang kuburannya sudah selesai, Dul?” Bapak memandangi wajah anak satu-satunya.
“Beres. Orangnya sudah kasih uang muka, Pak?”
“Sudah. Tadi pagi ada yang mengantar uang untuk DP kuburan itu.”
“Dul boleh minta uang itu pak? Dul perlu buku Fisika dan besok harus bayar SPP.” Kata Dul
“Boleh. Ada di laci lemari. Lagian itu emang upah kamu” Sahut Bapak..
“Mau kemana? Udah mau maghrib. Ngayap, mulu!” Sembur bapak melihat Dul mengeluarkan sepeda bututnya.
“Beli buku, Pak…” Jawab Dul.
Ketika dia berada di sesi buku-buku pelajaran, sudut matanya menangkap sebuah bayangan di sudut. Dul mendongak. Tak jauh darinya, berdiri seroang gadis berambut hitam panjang. Gadis itu berdiri agak memunggunginya sehingga dia hanya bisa melihat sebagian pipi dan hidung mancungnya. Dul merasa seperti mengenal gadis itu.
Dia meneruskan mencari buku, sambil perlahan-lahan mendekat ke arah gadis itu. Ketika sampai pada jarak penciuman, Dul bisa menghirup aroma harum yang menguar dari tubuh gadis itu. Dul kembali mendekat sambil berpura-pura menyusuri rak-rak buku. Ketika hanya tinggal sepenggalah tangan, tiba-tiba gadis itu membalikkan tubuh ke arahnya. Dul terlonjak kaget sehingga menjatuhkan buku-buku dan membuat beberapa orang yang berada situ menoleh.
“Bujug buneeeng…!!!”
“Hi hi hi…kaget, ya!?.” Gadis itu terkikik. “Lagi ngapain, Dul?” Tanya gadis cantik itu.
“Macul!” Dul menjawab singkat.
“Duile…dia marah rupanya!!” Goda gadis itu.
“Lagian pake nanya. Kamu sendiri ngapain, Fe?” Tanya Dul kepada gadis itu yang ternyata teman satu sekolahnya.
“Lagi liat-liat aja. Kamu lagi cari buku apa?” Tanya Fe
“Fisika. Pak Purba kasih tugas dari buku itu.” Jawab Dul.
“Oh, si killer kumisan di seantero Prodjost. Wali kelasku , tuh! Killer sih, tapi orangnya baik!”
“Ya pastinya dia baik sama kamu.. Siapa yang bisa galak sama cewek paling cantik di Prodjos?” Jawab Dul. Prodjos adalah julukan untuk sekolahnya, yang berarti Prof. Doktor Johan Susilo, yaitu nama jalan tempat sekolah itu berada
“Lebay, ah…”
“Kamu sama siapa? Pasti sama cowokmu, ya?.”
“Sendiri.” Jawab Fe singkat. Nadanya langsung berubah dingin. “Sudah dapat bukunya?” Tanya Fe. Dul mengangguk.
“Kalau begitu, temenin aku dulu yuk. Aku lagi suntuk, nih..” Kata Fe dengan wajah cantik yang memelas.
“Kemana?” Tanya Dul
“Terserah kamu. Aku benar-benar lagi suntuk, nih.”
“Hmm…nanti cowok kamu marah, gak?” Goda Dul. Raut wajah Fe langsung berubah.
“Sorry, sorry…iya deh…aku temenin...”
Setelah membayar belanjaan, mereka berjalan meninggalkan Mall itu. Dul menuntun sepedanya. Mereka menyusuri setapak.
Mereka berjalan sambil diam. Dul tidak berani bertanya, karena Fe tampak sangat murung. Tapi kesunyian yang ada sangat menyiksa. Akhirnya, Dul angkat bicara.
“Kamu sedang ada masalah?” Tanya Dul. Fe mengangguk.
“Mau berbagi?” Lanjut Dul. Fe tak bereaksi.
“Masalah keluarga? Pacar? Sekolah?” Dul menebak-nebak. Tiba-tiba Fe merangkulnya dan menangis. Dul tergugu. Dia membiarkan pundaknya basah oleh air mata gadis itu. Dul ingin membelai kepalanya untuk menenangkan gadis itu, tapi dia tidak berani. Begitu pun untuk melepaskan pundaknya yang menjadi tumpuan tangis Fe. Hal ini seperti mimpi buat Dul. Sebenarnya diam-diam Dul menaruh hati pada gadis itu sejak kelas satu SMA. Fe tak hanya cantik rupa, tapi cantik hatinya.
Meski dia berasal dari keluarga kaya dan pintar, namun dia tidak sombong. Dia sangat ramah dan mau berteman dengan siapa saja. Sayang, Dul tidak pernah sekelas dengannya meskipun mereka sama-sama jurusan IPA. Dul tidak pernah punya kesempatan untuk mengenalnya lebih dekat. Lagipula, Dul jauh kalah saing dengan Rendy, pacar Fe yang tampan, popular dan ketua tim basket. Apalagi ditambah Dul yang mempunyai profesi sampingan sebagai penggali kubur. Seperti pungguk merindukan bulan. Jadi, cukuplah dia menjadi secret admirer
Hampir sepuluh menit Fe menangis di pundak Dul. Dia mulai bisa menguasai diri. Dul menatap wajah cantiknya yang bersimbah air mata..
“Dul, aku berdosa. Aku melakukan dosa besar. Tidak hanya satu, tapi dua!” Fe mulai bercerita.
“Fe, Tuhan pasti mengampuni dosa apapun bila kita mau bertaubat.” Kata Dul.
“Tapi sudah telat. Semuanya sudah terlambat. Aku sudah tidak bisa bertaubat lagi. Tuhan sudah tidak bisa mengampuniku lagi.” Fe mulai terisak lagi.
“Kalau boleh tahu, apa yang sudah kamu lakukan sampai kamu seperti ini?” Tanya Dul. Fe menggeleng kuat-kuat.
“Ya sudah. Kalau kamu belum mau bercerita, tidak apa-apa.”
“Dul, bolehkah aku minta tolong padamu? Tanya Fe.
“Boleh.” Jawab Dul
“Sebelumnya, berjanjilah kau tidak akan mengajukan pertanyaan tentang permintaanku.”
“Kenapa…?”
“Tolong, berjanjilah…”
Dul bingung tapi kemudian dia menyanggupi.
“Tolong sampaikan permintaan maafku kepada mama dan papaku. Katakan bahwa aku menyayangi mereka dan aku menyesal atas semua perbuatanku.”
“Tapi…” Dul menyela tapi Fe meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.
“Lalu, kalau kau melihat Randy, tolong katakan agar jangan mengulangi perbuatannya lagi kepada gadis manapun. …”
‘Tapi…”
“Kau sudah berjanji tidak akan bertanya, kan? Terima kasih, Dul. Terima kasih untuk semuanya. Sebaiknya kita pulang…”
Fe menyetop taksi yang melintas di hadapan mereka tanpa Dul tahu sebelumnya. Taksi itu berlalu bersama aroma harum Fe yang menggantung di udara malam.
‘***
Paginya, Dul dan bapaknya berdiri agak jauh dari kerumunan orang yang akan mengubur jezasah di lubang yang telah digali Dul kemarin. Mereka akan merapikan kuburan itu setelah upacara pemakaman selesai. Dul memperhatikan keluarga yang sedang berduka itu. Lalu pandangannya jatuh pada sesuatu yang membuat jantungnya seolah berhenti. Tak percara akan apa yang sedang dilihatnya, tanpa sadar Dul berjalan mendekati seorang wanita yang membawa figura foto itu.
“Fe…Fe…Ferisha Kamila?” Dul tergagap memandang foto itu. Wanita yang membawa figura memadang Dul keheranan.
“Kamu kenal Fe?” Tanyanya. Dul mengangguk.
“Kenapa…kapan…bagaimana…?” Dul tak sanggup bicara.
“Fe bunuh diri. Nyawanya tak tertolong karena kehabisan darah akibat mengiris nadi pergelangan tangan. Orang rumahnya terlambat menemukannya…” Cerita wanita itu sambil berbisik.
“Tapi…ke…kenapa Fe bunuh diri?” Dul masih tidak percaya.
“Kamu kenal Fe dimana?” Wanita itu balik bertanya curiga.
“Kami satu sekolah, tapi tidak pernah sekelas. Kenapa Fe sampai nekad bunuh diri?” Desak Dul.
“Oh, kamu belum tahu, ya. Fe sedang hamil. Hasil perbuatan dengan kekasihnya. Ayahnya ingin Fe menggugurkan kandungan itu, tapi Fe menolak dan memilih bunuh diri. Gadis malang…” Dul hanya setengah mendengarkan suara wanita itu. Pikirannya melayang pada kejadian semalam.
“Dul, aku berdosa. Aku telah melakukan dosa besar. Tidak hanya satu, tapi dua!” Dia terngiang pada kata-kata Fe. Tapi semalam ….
“Jam berapa Fe meninggal?” Tanya Dul
“Kemarin lusa. Kami langsung memesan kuburan malamnya, dan kemarin disemayamkan di rumah duka supaya kerabat dan teman-temannya bisa melihatnya untuk yang terakhir kali.” Jawab wanita itu yang adalah tante Fe. Dul benar-benar tercengang sekarang. Bulu tungkuknya merinding. Angin berhembus agak kencang saat itu. Ingat permintaanku, Dul... Tiba-tiba Dul mendengar suara Fe berbisik jelas di telinganya. Dia mengangguk.
Dul menangis. Dia yang menggali lubang ini dan dia yang harus menimbun jasad wanita yang diam-diam dia cintai. Angin kembali berhembus agak kencang. Suara itu datang lagi, Terima kasih, Dul…
Tidak ada komentar