Aku, Kau dan Gede Pangrango










Aku, kau dan Gede Pangrango
Oleh Dwi Indarti


Cerpen ini dimuat di Majalah KAWANKU
Edisi bulan September 2011

Basecamp di kaki gunung. 03.56 dini hari

Tara, kau terima smsku tadi malam, kan? Aku pamit naik gunung bersama Ken dan Al. Sekarang kami sedang di basecamp menunggu pagi. Ken dan Al langsung terlelap begitu sampai di basecamp jam 2 dini hari tadi. Tapi, aku tidak bisa tidur. Kau tahu,kan Tara, aku menderita insomia akut. Jadi, aku membunuh waktu dengan membuat catatan perjalanan pendakian ini . Aku ingin memberikan catatan ini kepadamu saat aku turun nanti.

Kau tahu, Tara, setiap menit aku mengecek HP, berharap ada sms balasan darimu. Tapi, ya sudahlah…

Barusan Ken terbangun dan menyuruhku tidur supaya besok kami bisa mulai pendakian pagi-pagi sekali.

Pos Mata Air Panas. 12.55 siang

Taraaaa … kami sudah sampai di Pos Pertama! Piuhh… pendakian ini benar-benar menguras tenaga.

Kami mulai mendaki jam 7 pagi. Ken menjadi ketua kelompok kecil ini. Dia sudah pernah mendaki gunung Gede ini empat kali. Al juga anak gunung. Dia pernah merambah Lawu, Sumbing, dan Salak. Hanya aku yang belum pernah naik gunung. Ini pengalaman pertamaku.

Kata Ken, mereka sebenarnya bisa sampai di Pos Pertama ini sekitar jam 11 an, tapi karena aku berjalan terseok-seok, mereka terpaksa menungguku.

Tara, dadaku sakit. Aku diam saja. Aku tidak mau memberitahu Ken dan Al. Nanti mereka bete. Aku yang memaksa untuk ikut mendaki bersama kedua sahabatku ini. Habis, aku tak tahan setiap kali mereka bercerita soal gunung. Aku ingin merasakan seperti apa rasanya.

“Naik gunung itu capek, Bek! Gak kaya berenang dan berjemur di pantai. Anak gunung beda sama anak pantai. Elo ‘kan biasanya main ke pantai…!” Kata Ken waktu aku menyatakan mau ikut pendakian ini.

“Woi, jangan remehin gue! Gue yakin bisa! Lagian, gue pengen buktiin ke Tara kalo gue tuh macho. Pendakian ini gue persembahkan buat dia!”

“Kalo urusannya cinta dan cewek, susah deh. Gunung ’kan kudaki, lautan ‘kan kuseberangi…!” Al mengolok-olokku.

Tara, pendakian ini memang aku dedikasikan untuk dirimu. Sepanjang perjalanan tadi, aku selalu teringat dirimu. Jika aku kehabisan tenaga, aku akan berteriak “TARAAAAA” dan ajaib! Aku seperti melihat dirimu tersenyum kepadaku dan memberiku semangat.”Ayo, Bek! Kamu bisa!” Lalu energiku terisi kembali. Ken dan Al terbahak-bahak melihat kelakuanku.

“Tara gak denger kali, Bek! Dia bahkan gak tau elu ada dimana!” . But who cares?

Kata Ken, jalur yang sudah kami lalui sampai Pos Mata Air Panas tadi belum ada apa-apanya. Medan yang lebih berat telah menunggu di depan. Ken bilang, kalo kami gak terlalu banyak berhenti untuk istirahat, kami bisa mencapai puncak sebelum sunset.

Aku diam saja. Aku berharap nyeri di dadaku ini segera hilang. Rasanya timbul tenggelam. Kadang muncul, kadang hilang.

Ken dan Al sibuk memasak nasi, mie, telor dan kopi untuk makan siang. Aku hanya duduk sambil merendam kaki di mata air. Airnya hangat-hangat kuku. Kedua sahabatku itu tidak menyuruhku untuk membantu. Mereka memang sangat pengertian. Isi carrierku juga sudah banyak berkurang, berpindah ke dalam carrier mereka.

Tara, kau lagi apa? Disini tak ada sinyal, jadi aku tidak bisa kirim sms atau sekedar ngecek HP, apakah kau membalas smsku semalam.

Ah, Ken sudah memberi isyarat untuk bersiap melanjutkan pendakian. Doakan aku, ya Tara sayang…

Pos Kandang Badak. 14.14 siang

Brug! Aku tersungkur. Kepalaku pusing. Ken tampak khawatir dan menyuruhku minum obat sakit kepala. Al menggelar matras supaya aku bisa berbaring. Aku sempat tertidur sebentar. Ketika aku terbangun, kedua sahabatku sedang sholat di sebelahku.

“Elu mau lanjut apa turun, Bek?” tanya Ken

“Lanjutlah! Udah sejauh ini masa nyerah? Masih jauh gak?” Tanyaku

“Lumayan. Elu yakin, Bek?” Tanya Al.

“Yakin! Demi Tara…!” Jawabku sambil nyengir. Tapi kali ini Ken dan Al tidak tertawa atau berkomentar. Mereka hanya memandangiku. Aku jadi gak enak.

“Gue gak papa! Santai aja, bray…” Aku memasang wajah ceria.

Sesungguhnya Tara, nyeri di dadaku semakin menjadi-jadi. Sekarang ditambah pusing. Aku semakin jauh tertinggal dibelakang mereka. Sebentar-sebentar aku meminta waktu istirahat, dan mereka selalu menungguku. Ah, pendakian ini tak semudah yang aku bayangkan, Tara.

Disini, Tuhan seolah-olah menegurku yang sering kali meremehkan segala sesuatu. Jujur, sebelum mendaki, aku sempat meremehkan bahwa aku bisa menaklukan gunung ini dengan mudah. Nyatanya, aku termehek-mehek. Sekarang aku sangsi apakah aku sanggup mencapai puncak.

Tara, untung kau tidak disini, melihatku seperti ini. Memalukan sekali !

Puncak. 17.41. Senja

Tanganku gemetar hebat saat mengambil buku catatan dan mulai menulis. Ada dua hal yang membuatku gemetar.

Pertama, senja. Finally, aku sampai di Puncak, Tara. Setelah melewati perjalanan yang super berat – ada Tanjakan Setan, lalu jalan berbatu yang membuatku benar-benar merangkak untuk melewatinya – istilah kata, dengkul ketemu dagu.

Tapi pemandangan senja ini menghapus semua rasa lelah itu. Senja ini begitu menakjubkan. Tara, kau pernah bilang kalau kau sangat suka cerpen ‘Sepotong Senja untuk pacarku’ karya Seno Gumira Ajidharma. Lalu aku mencari cerpen itu dan membacanya. Cerpen yang indah. Seindah dirimu dimataku, Tara.

Aku juga ingin membawakan senja ini untukmu, Tara. Senja yang spektakuler. Dihadapanku berdiri menjulang Puncak Pangrango, timbul tenggelam dibalik awan berarak. Sang surya terbelalak di ufuk barat. Cahayanya merah, membuat segala sesuatu yang tertimpa oleh sinarnya menjadi merah.

Aku jadi teringat ucapan gembong PKI di film G30S PKI, ‘Darah itu merah, Jenderal! Disini, aku ingin menggantinya, ‘Senja itu merah, Tara!’ Dan bila awan menutupi sang surya, maka bola matahari itu menyipit seperti The eyes of Mordor di film The Lord of The Ring. Pemandangan ini benar-benar membuatku gemetar.

Tapi, hal kedua penyebab aku gemetar membuatku takut. Ada apa dengan tubuhku, ya? Rasanya aneh. Panas dan dingin menjadi satu. Ah, aku tak bisa menjabarkannya, Tara…
“Bek…cepat masuk ke tenda. Sepertinya malam ini akan ada badai!” Ken memanggilku dari depan tenda yang telah dia pasang bersama Al sementara aku menikmati senja.

Di puncak gunung ini, cuaca berubah cepat dalam hitungan detik. Sepertinya Tuhan sengaja menyisakan senja yang indah, sebagai ‘hadiah’ untukku kemudian menggantikannya dengan awan hitam yang datang bergulung-gulung bersama angin kencang. Aku segera masuk ke dalam tenda.

Tara, kenapa badanku rasanya aneh, ya ….

Tenda di tengah badai. 23.23 malam

Ken dan Al menggigil kedinginan. Aneh. Sedangkan aku merasa panas. Panas sekali! Aku mau buka baju, tapi mereka melarang. Mereka malah menutupi tubuhku dengan jaket berlapis-lapis dan sleeping bag.

Tara, tenda kecil ini seperti ditampar tangan besar yang tak terlihat. Suara badai menderu-deru seperti pesawat jet tempur. Kami duduk berhimpitan mengelilingi lampu badai. Ditengah ganasnya alam, sebuah janji terucap dalam hatiku…

Sepulang dari pendakian ini, aku harus mengatakan perasaanku padamu. Aku gak mau seperti ini terus, hanya memendam rasa sayang dan cintaku padamu tanpa keberanian untuk mengutarakannya.

Aku ingin kau tahu bahwa aku ada. Bukan sekedar bayangan.

Aku selalu ada di pinggir lapangan menonton kamu berlatih cheerleader. Aku selalu ada di sudut kantin sekolah, memandangmu bercanda dengan sahabat-sabahatmu. Aku selalu ada di perpustakaan, memperhatikanmu serius membaca. Aku selalu ada di halaman parkir, memberi jalan untuk sopirmu agar bisa menjemputmu dengan mudah. Aku selalu ada di dalam kelas, dua bangku di belakangmu.

Tapi, apakah kamu tahu aku ada, Tara ? Disini, hanya ada aku, kau dan Puncak Gede Pangrango. Pendakian ini, catatan ini, kupersembahkan untukmu, Cinta…

Aduh, dadaku perih. Aku susah bernafas. Hidungku seperti ditindih bantal. Panas!
“Bek! Hidungmu berdarah!” Itu suara Ken. Suara terakhir yang aku dengar. Lalu wajahmu. Lalu cahaya putih…

‘***

“Ken, bagaimana dia…?” Tara menutup buku catatan itu sambil terisak-isak memandangi batu nisan yang masih baru.

“Bek kena serangan hiportemia. Kami panik. Kami sudah melakukan segala cara agar dia bisa bertahan. Ternyata Bek juga punya penyakit jantung bawaan. Kami tidak tahu. Bek menghembuskan nafas terakhir menjelang fajar, saat badai mereda. Maafkan kami, Tara…”

“Ken, kenapa Bek gak pernah bilang padaku? Kenapa aku tahu semua ini setelah dia pergi untuk selamanya? Aku menunggunya untuk mengatakan itu. Aku selalu menunggunya sampai aku bosan…!” Tara tak bisa meneruskan kata-katanya.

“Bek, kau dengar itu, kan? Tara menunggumu. Tapi Puncak Gede telah memilihmu terlebih dahulu. Selamat jalan, sahabat…”

‘***

Tidak ada komentar