Sebuah Catatan Perjalanan
28 - 29 Mei 2011
Gunung Krakatau terletak di Sunda dan termasuk dalam wilayah Propinsi Lampung. Pada tahun 1883, Gunung Krakatau meletus dengan kekuatan yang sangat mengerikan yaitu 13.000 kali kekuatan bom atom. Letusan Krakatau menimbulkan tsunami yang dasyat. Debu letusannya sampai ke Afrika Timur. Pasca meletus, Gunung Krakatau merosot ke dalam laut. Pada tahun 1927 muncul sebuah gunung baru di tempat yang sama. Gunung itu disebut Anak Krakatau.
Perjalanan menuju Gunung Anak Krakatau cukup mendebarkan. Rombongan kami yang terdiri dari dua puluh orang berangkat dari Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur pada pukul 22.00 wib menuju Pelabuhan Merak di Propinsi Banten. Perjalanan menuju Pelabuhan Merak ini memakan waktu sekitar tiga jam. Pukul 01.00 WIB dini hari, kami tiba di Pelabuhan Merak
Perjalanan dilanjutkan dengan kapal Ferry menuju Pelabuhan Bakaheuni di Propinsi Lampung. Jarak tempuhnya memakan waktu kurang lebih tiga jam perjalanan laut.
Sekitar pukul empat dini hari, Kapal Ferry merapat di Pelabuhan Bakaheuni. Perjalanan dilanjutkan dengan sebuah bis kecil atau angkutan kota menuju Pelabuhan Canti. Perjalanan darat ini memakan waktu sekitar dua jam.
Tiba di Pelabuhan Canti, kami beristirahat dan sarapan pagi. Pelabuhan Canti adalah sebuah dermaga kecil dan hanya ada beberapa perahu motor nelayan yang bersandar.
Sekitar pukul 7 pagi, kami bertolak dari Pelabuhan Canti menuju Cagar Wisata Gunung Anak Krakatau. Kami menyewa sebuah kapal motor nelayan. Perjalanan selama hampir empat jam ini cukup membosankan sebab sejauh mata memandang hanyalah hamparan laut yang membentang luas.
Sekitar pukul sebelas siang, kami akhirnya tiba di Cagar Alam Krakatau. Kami langsung melakukan pendakian ringan atau light hiking menuju puncak Gunung Anak Krakatau. Udara sangat panas. Tanah yang kami injak terasa hangat. Dahan-dahan pohon mengering. Beberapa kali, kami melihat biawak-biawak besar keluar diantara semak-semak. Semakin mendekati Puncak, udara semakin panas.
Setiap sepuluh menit sekali, kawah Gunung Anak Krakatau menyemburkan asap hitam bergulung-gulung disertai dengan getaran gempa. Menurut penduduk lokal, letusan Gunung Anak Krakatau itu kadang lebih besar dan bisa sangat berbahaya. Jika letusannya sedang dalam status bahaya, maka Cagar Alam itu akan ditutup bagi pengunjung. Para wisatawan hanya bisa melihat aktifitas Gunung Anak Krakatau dari jarak aman, yaitu sekitar dua kilometer.
Puncak Gunung Anak Krakatau adalah berupa bebatuan dan kapur. Sekilas tampak seperti tertutup salju salju. Asap hitam yang keluar dari kawah terlihat sangat dekat. Bau belerang tercium sangat kuat.
Kami tak bisa berlama-lama berada di puncak Gunung Anak Krakatau sebab udara panas, asap hitam dan bau belerang sudah tak tertahankan. Kami kembali ke perahu motor untuk makan siang di atas perahu dan melanjutkan perjalanan menuju Pulau Sebesi.
Dalam perjalanan menuju Pulau Sebesi, kami berhenti di beberapa spot snorkling. Tempat-tempat snorkling itu sangat indah dengan pemandangan alam bawah laut yang menakjubkan. Batu-batu karang berwarna-warni dipenuhi berbagai jenis ikan dan binatang-binatang laut seperti bintang laut, cumi-cumi, gurita, ubur-ubur, dan sebagainya.
Menjelang senja, kami menuju ke Pulau Sebesi untuk bermalam. Pulau Sebesi adalah sebuah pulau kecil dengan pantai-pantai berpasir putih mengelilingi pulau tersebut. Kami menginap di sebuah rumah penginapan yang terletak di pinggir laut. Dari jendela, kami bisa memandang laut lepas.
Pagi hari, kami menikmati sarapan sambil menunggu matahari terbit di pinggir pantai. Kami sempat menjelajah ke dalam Pulau, dimana rumah-rumah penduduk berjejer dalam jarak yang berjauhan. Sekitar pukul delapan pagi, kami meninggalkan Pulau Sebesi dan semua keindahan serta keramahan penduduk lokal, menuju Pelabuhan Canti.
Dalam perjalanan, kami sempat berhenti beberapa kali untuk ber-snorkling-ria. Kami mampir ke Pulau Uma-Uma, Lagoon Cabe. Kami bersenang-senang di pantai yang berpasir putih dan lembut. Banyak sekali pulau-pulau kecil yang tersebar di perairan Selat Sunda. Pantai-pantainya bisa dipakai untuk snorkling dan beaching. Saya mengumpulkan karang-karang indah yang bertebaran di sepanjang pantai. Rasanya tak ingin pergi meninggalkan semua keindahan itu.
Sekitar pukul tiga sore, akhirnya kami tiba kembali di Pelabuhan Canti. Setelah membersihkan diri dan makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Bakaheuni. Kami mendapat kapal Ferry yang bertolak sekitar jam 7 malam
Lewat tengah malam, kami tiba di Pelabuhan Merak, Banten. Agak susah mencari bis umum yang masih beroperasi pada tengah malam. Namun akhirnya, kami mendapatkan sebuah bis menuju Terminal Kampung Rambutan. Kami tiba di Jakarta sekitar pukul tiga dini hari kemudian berpisah menuju kediaman masing-masing.
Perjalanan mendaki Gunung Anak Krakatau ini bisa dilakukan di akhir pekan. Perjalanan dimulai pada Jumat malam dan kembali pada senin pagi. Biaya yang dikeluarkan cukup murah, yaitu Rp. 400.000 per orang.
Krakatau dengan segala keindahannya yang terkadang berbahaya itu menjanjikan sebuah perjalanan yang tak terlupakan. Letusan-letusan Anak Gunung Krakatau akan terus berlangsung karena letusan-letusan itu menandakan pertumbungan gunung tersebut.
hmmm....lama juga ya dr travelingnya sampe ditulisnya blog ini...hmmmm *tanda tanya*
BalasHapuskarna ... ini 'bersih' he he he
BalasHapus