
Suka nonton film ? Suka jalan-jalan ? Suka film tentang perjalanan ? Gw suka !
Film tentang perjalanan memang selalu menarik, semenarik perjalanan itu sendiri. Ide utama film itu bukan tentang perjalanan. Mungkin film itu bercerita tentang cinta, bisa jadi tentang keluarga, atau soal pencarian jati diri.
Ide utama itu dimasukkan dalam sebuah perjalanan. Perjalanan hanya menjadi sebuah ‘alat’ untuk mengusung sebuah tema. Di situlah letak sisi menariknya.
Kita mungkin akan menemukan cinta dalam sebuah perjalanan. Kita bisa menyadari pentingnya arti keluarga setelah melalui perjalanan seru dan menegangkan. Pun kita dapat menemukan jati diri.
Well, gw bikin daftar film-film tentang perjalanan. Sebenernya, ide ini gw dapat setelah baca sebuah artikel majalah tentang film perjalanan. Film-film-nya bervariasi. Mulai dari film Indonesia, Hollywood, sampai film Eropa
So, gw langsung berburu film-film itu. Yang pasti, gw tonton dulu sebelum gw berani nulis review. Baru ada 5 film …dan gw bertekad untuk terus ngumpulin film-film lainnya…>> kayaknya, film-film Eropa bakalan agak susah dicari, deh… <<
List ini bakal bertambah kalo gw nemuin film-film tentang perjalanan lagi. Untuk sekarang, segini dululah …
1. 3 HARI UNTUK SELAMANYA

Film produksi tahun 2007 besutan Riri Reza ini gak terlalu ‘menjual’ di box office (kalah sama film-film horror dan sex), tapi kudu diakui bahwa ini salah satu film Indonesia yang berkualias.
Meskipun, info yang gw dapet dari sebuah blog, film ini sangat mirip dengan sebuah film Asing dari Amerika Selatan berjudul Y Tu Mama Tambien. Secara gw belum nonton film Y Tu Mama Tambien, jadi gw gak bisa cerita soal kemiripannya. (mulai hunting, ah !)

3 Hari Untuk Selamanya diperankan oleh Nicholas Saputra (my ex – mimpi!) dan Adinia Wirasti. Yusuf dan Ambar melalukan perjalanan darat dari Jakarta – Jogja. Sepanjang perjalanan, mereka mencoba hal-hal yang berbahaya, seperti ngisap ganja, nginep di rumah orang yang gak dikenal, nyolong pisang buat sajen, dll.
Film ini memperlihatkan dengan cukup jujur fenomena-fenomena yang nyata ada dalam budaya kita. Memotret kejadian-kejadian yang sering terlihat di dalam masyarakat kita, khususnya di daerah-daerah sepanjang jalur pantai utara Jawa.
Pemandangan alam, pantai dan bahkan perkampungan yang semrawut mampu diperlihatkan secara indah oleh film ini.
Gw baru tahu kalau pekuburan seperti Sendangsono ternyata bisa terlihat demikian indahnya. Ditambah lagi oleh soundtrack keren dari "Float". Lagu-lagunya membuat aura "hidup bebas"
Endingnya , menggantung…
2. PUNK IN LOVE

Lucu ! Itu adalah kata pertama yang keluar dari mulut gw setelah nonton film ini. Berkisah tentang 4 remaja Punk yang berasal dari Malang. Bayangin aja, dandanan udah Punk pol tapi logat mereka medoooogggh banget.
Tema besar film ini ‘sih klise…It’s all about Love. Tapi yang bikin beda adalah perjalanan ala backpacker dan cenderung gembel.
Malang – Bromo – Blitar – Cepu – Semarang – Banyumas – Cirebon – Jakarta adalah rute yang ‘terpaksa’ diambil oleh keempat anak Punk itu. Sebenarnya niat mereka mau langsung ke Jogja – Jakarta, tapi karena salah ‘numpak’ truk, akhirnya nyasar mereka kemana-mana dulu.

Nonton film ini bikin gw ‘melek’ akan keindahan alam Indonesia. Bikin mupeng! Pengen keliling dunia sih, bagus…tapi keliling Indonesia ajalah. Ups, jangan Indonesia, lah…Jawa dulu…Kalo masih ke-luasan- Jawa Barat dulu, lah …
Tapi gw kurang suka ending-nya. Payah, kenapa kayak gitu, sih ? (kayak gimana? Nonton aja sendiri …)
3. LITTLE MISS SUNHINE

Sebuah keluarga aneh bahu membahu mendukung putri kecil mereka untuk ikut kontes kecantikan Little Miss Pigeon.
Keluarga itu terdiri dari ayah ibu yang selalu bertengkar soal duit, karena keluarga itu diambang kebangkrutan, kakek yang super cerewet, pecandu sex dan narkoba, kakak laki-laki yang gak mau ngomong selama hampir 9 bulan, dan paman gay yang depresi selalu ingin bunuh diri.
Keluarga ‘ancur’ itu melakukan perjalanan darat dari Albuquerque ke California yang berjarak sekitar 700 km dengan sebuah minibus reyot, untuk mengantar si kecil Olive ikut sebuah kontes kecantikan.

Secara kasat mata, si Olive ini gak punya modal sama sekali untuk menang. Secara, dia gendut, pake kaca mata minus super gede dan rambut lurus gak ada model apapun.
Cerita yang terbangun dari perjalanan itu sungguh amat mengasikkan untuk disimak
“I HATE THIS FAMILY” ditulis Dwayne (abangnya si Olive) untuk menegaskan betapa ancurnya keluarga itu.
Apakah si Olive akhirnya bisa ikut kontes kecantikan itu ? Yes.
Apakah dia menang ? Ho ho ho .. mungkin kalau di film Indonesia, dia bakal menang. (Mengingat perjalanan super berat yang harus dia lalui untuk sampai ke California dan mandaftar in the last minute). Tapi ini film Hollywood, cuy. Mereka realistis…!

Endingnya keren! Salah satu anggota keluarga itu meninggal di perjalanan. Tapi, akhirnya mereka sadar How important the meaning of the family is …
Film produksi tahun 2006 ini mendapat banyak penghargaan di berbabagi ajang film bergengsi dunia, termasuk memenangkan Piala Oscar untuk pemeran pembantu Pria terbaik tahun 2007
There are two kinds of people in this world, winners and losers.
4. INTO THE WILD

"You are wrong if you think that the joy of life comes principally from the joy of human relationships. God's place is all around us, it is in everything and in anything we can experience. People just need to change the way they look at things."
Into The Wild diangkat dari kisah nyata Christopher Johnson McCandless ( February 12, 1968 - August 18, 1992 )
Impian Chris adalah keliling Amerika dan menaklukkan Alaska seorang diri. Dia mewujudkan mimpi ini setelah lulus kuliah. Dia mengganti identitasnya supaya orang tuanya tak dapat mencari dan melacak jejaknya.

Perjalanan dilakukan dengan menumpang truk / bis / mobil yang ditemui ditengah jalan. Chris bertemu dengan bermacam-macam karakter, mulai hari pasangan Hippies, sekelompok kaum nuddies, sekelompok petani mabuk, seorang kakek tua yang kesepian, dan gadis cantik yang jatuh cinta kepadanya. Eh, si cantik ini diperankan oleh Kristen Steward, loh…taukan…si Isabella Swan.
Alur cerita film ini lompat-lompat kayak pocong. Past – present – Past – Present (#ngajar Grammar, bu?). Sumpah, gw gak bisa cerita banyak, karena terlalu banyak untuk diceritakan dari film ini. Banyak tagline-tagline bagus bertebaran sepanjang film.
Gw suka banget dengan lagu-lagu soundtrack yang menghiasi sepanjang film ini. Semua musik digarap oleh Eddie Vedder. Tau dong, siapa dia? Gak tau! Ah, kebangetan! Dia itu vokalisnya Pearl Jam! Pasti tahu, lah Pearl Jam!
Gak tau juga …? #ups, jadi kebongkar deh gw gede di jaman apa … cari tau sendirilah soal Eddie Vedder dan Pearl Jam.
Endingnya…end..
"Happiness only real when shared".

5. THE WAY BACK

September, 1939 / Hitler invades Poland from the West. Several days later Stalin invades from the East. They divide the country between them
Pelarian sekelompok tahanan dari Kamp konsentarsi Siberia. Kelompok ini dipimpin oleh seorang Polandia bernama Janusz. Mereka menempuh perjalanan darat sejauh 4000 mil dari Siberia menuju India untuk meminta suaka politik.

Musuh yang harus mereka hadapi sepanjang perlarian adalah keganasan alam. Mereka menghadapi badai salju pegunungan Siberia yang membekukan dan merenggut nyawa salah seorang dari mereka. Kekurangan makanan dan airyang membuat mereka saling bertengkar karena lapar. Terpanggang dibawah teriknya matahari gurun Gobi yang membuat dua orang anggota pelarian itu tewas. Serangan Nyamuk-nyamuk ganas, serta ujian kemanusiaan diantara mereka.

Ditengah jalan, mereka bertemu seorang gadis Polandia yang akhirnya menjadi bagian dari kelompok itu dan menjadi satu-satunya perempuan.
Film ini bertutur apik tentang nilai sebuah ideologi, rasa kemanusiaan. Harga sebuah nyawa manusia ditengah alam liar, dan pemandangan-pemandangan spektakuler.
We are not criminals. We are escaping from criminals.
BAGUS-BAGUS
BalasHapus