Catatan Anakku







Cerpen ini dimuat dimajalah SEKAR
Edisi 15 Juni 2011
Judul aslinya : www.ade-sayang-mama.blogspot.com
Tapi diganti sama Redaksi Majalah Sekar
menjadi "CATATAN ANAKKU"
Sok wae, euy ...



www.ade-sayang-mama.blogspot.com
Oleh Dwi Indarti


Gemetar. Aku setengah sadar saat menemukan bungkusan ini. Secarik post it berwarna kuning bertuliskan alamat sebuah blog. www.ade-sayang-mama.blogspot.com menempel di atasnya. Aku menguatkan diri dan menyalakan komputer.

:: Blog-ku, tempat sampahku ::

Mama sayang, sekarang aku punya blog. Semacam diary, gitu. Hari gene ‘kan kita harus peduli global warming dan ikut gerakan go green. Jadi, daripada aku beli buku diary, lebih baik aku membuat blog. Lebih oke!



Sebenarnya, blog ini bukan buatanku sendiri. Bunda yang mengajariku. Mama pasti bertanya,”Bunda itu siapa ?”. Sudah lama aku ingin bercerita tentang Bunda kepada Mama. Tapi, Mama gak punya waktu untuk dengerin ceritaku.

Mulai sekarang, aku akan menuliskan semua hal di blog ini. Aku berharap, suatu hari nanti Mama akan menemukan alamat blog ini dan punya waktu untuk membaca semua postinganku.

Hoaaam, aku ngantuk, Ma. Nanti saja aku cerita tentang Bunda. Mama sudah pulang belum, ya? Selamat malam, Ma … Ade chayank Mama…muuaachh!


:: Bunda, my dream mother ::

Mama jangan marah dan iri, ya kalau membaca judul postingan ini. Mama oke, kok! Aku sayang Mama. Buktinya, aku memberi judul blog ini : “ade sayang mama”.

Aku senang punya Mama yang cantik seperti model-model di majalah. Setiap minggu, Mama rutin mendatangi salon kecantikan untuk perawatan. Sebenarnya aku ingin ikut. Tapi, Mama selalu bilang,

”Ade di rumah saja, ya. Salon Mama itu bukan untuk anak kecil. Kalau Ade pengen ke salon, nanti Mama ajak ke salon khusus anak-anak dan remaja.” Tapi kapan, Ma? Sampai sekarang Mama belum pernah sekalipun memenuhi janji itu.

Mama pintar. Ya eaalah! Kalau tidak pintar, mana mungkin Mama menjadi salah satu direktur di Perusahaan Papa. Papa direktur. Mama direktur. Kadang aku bingung, kenapa direktur tidak satu orang saja,ya…? Kenapa Mama gak jadi sekretatis saja, biar bisa pulang lebih cepat ?

Mama juga baik. Mama selalu memberiku benda-benda paling mahal yang ada di toko. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, semua yang aku pakai bermerk mahal. Koleksi bonekaku sampai tiga lemari besar. Apapun yang aku minta, pasti langsung dibelikan. Padahal, kadang aku meminta suatu benda bukan karena ingin benda itu, tapi karena aku ingin belanja bareng Mama dan memilih sendiri di toko.

“Ma, ada barbie Kate Middleton, loh…cari di toko, yuk!” Kataku kemaren

“Barbie Kate Middleton, ya… Ok, sayang, nanti Mama belikan.” Jawab Mama tanpa melepaskan pandangannya pada Blackberry. Sore ini, boneka barbie itu sudah ada dipangkuanku.

Aku langsung menaruhnya di deretan koleksi boneka barbie tanpa membuka bungkusnya. Hare gene, siapa yang mau bermain dengan Barbie? Aku curiga, jangan-jangan Mama lupa berapa umurku. Anak SMP sudah gak main Barbie lagi, Ma!

Mama beda sama Bunda. Bunda adalah ibunya Agatha, sahabatku. Bunda gak langsing seperti Mama, tapi dia gendut dan lucu. Wajahnya bundar dan selalu tersenyum. Waktu pertama kali aku ke rumah Agatha, aku memanggilnya dengan sebutan ‘tante’ seperti yang Mama ajarkan kepadaku. Tapi Bunda bilang,

“Jangan panggil ‘tante’ sayang. Panggil Bunda saja. Semua teman Agatha adalah anak Bunda juga.”

Bunda selalu menemani kami belajar dan mengajarkan semua mata pelajaran. Meskipun Bunda bukan orang kantoran, tapi Bunda pintar loh, Ma. Bunda tau semua mata pelajaran anak SMP. Aku sempat berpikir, untuk apa aku ikut les bimbel banyak? Aku belajar sama Bunda saja. Toh, Agatha tidak pernah ikut les ini itu, tapi dia selalu dapat rangking di sekolah. Tapi Mama pasti marah kalau aku berhenti les. Sebenarnya, aku mulai bosan dengan les-les itu. Les piano, biola, bahasa Inggris, Mandarin, balet dan matematika. Kadang, kalau aku sedang capek, aku bolos dan main ke rumah Agatha.

“Kenapa kamu tidak ke tempat les, sayang?”

“Aku capek dan bosan, Bunda”

“Tapi Mamamu sudah membayar mahal untuk les-les itu.”

“Biar saja. Mama banyak duit, kok.”

“Kamu tidak boleh begitu, sayang. Pokoknya, kamu tidak boleh bolos les lagi. Bunda tidak suka. Janji, ya…” Aku mengangguk. Sejak ditegur Bunda, aku tidak pernah bolos les lagi, Ma. Pulang les, biasanya aku minta sopir mengantarkanku ke rumah Agatha. Bunda selalu menyambutku dengan riang gembira.

Mama, aku senang bermain di rumah Agatha meskipun rumahnya tidak sebesar rumah kita. Bunda selalu ikut bermain bersama kami. Beliau menceritakan cerita-cerita lucu yang membuatku terpingkal-pingkal. Bunda jago cerita. Kami sering nonton film kartun bersama di ruang keluarga. TV mereka tidak sebesar TV kita. Tapi, asyik banget, Ma!

Bunda juga jago masak. Kue-kue buatan Bunda enak sekali. Namanya lucu-lucu. Ada kue cucur, kue gemblong, kue pepe, kue cubit, serabi, dan lain-lain. Semua dibuat sendiri oleh Bunda. Kami boleh membantu. Aku senang sekali membantu Bunda masak. Seru! Bunda sering iseng melumuri mukaku dengan tepung. Lalu kami saling mengolesi wajah dengan tepung. Lucu banget! Kami semua seperti badut.

Kami masak sambil bernyanyi. Bunda suka sekali bernyanyi. Kalau ayah dan kakaknya Agatha ada di rumah, mereka ikut bergabung. Kami makan bersama lalu aku dan Agatha disuruh cuci piring.

Bayangkan, Ma, cuci piring! Mana pernah aku cuci piring? Dirumah, semua dikerjakan oleh pembantu, ya kan Ma? Mama selalu berteriak marah kalau ada setitik debu yang menempel atau ada gelas kotor ditaruh di sembarang tempat. Di rumah Agatha, tak ada pembantu. Semua dikerjakan sendiri.

Ternyata cuci piring itu mengasyikkan loh, Ma! Aku suka meniup-niup sabun hingga jadi gelembung-gelembung busa. Bunda tidak pernah marah kalau aku bermain-main dengan sabun. Beliau hanya mengingatkan agar aku tidak berlama-lama bermain air karena bisa masuk angin.

Kalau sudah di rumah Agatha, aku malas pulang. Kalau Pak Supri tidak memaksa , aku tidak mau pulang.

“Non, Nyonya tadi telepon. Katanya, kenapa jam segini Non belum pulang? Pak Supri kena marah sama Nyonya.”

“Bilang saja, aku mau nginap di sini!”

“Tapi gak boleh sama Nyonya. Nona harus pulang.”

“Sayang, kamu pulang ya, nak. Besok boleh main ke sini lagi. Mamamu pasti kangen sama kamu.” Kata Bunda. Dengan berat hati, aku pulang. Bunda gak tau, sih. Pasti Mama belum ada di rumah. Sebenarnya aku berharap Mama ada di rumah dan memarahiku karena pulang telat. Tapi tidak. Mama selalu pulang di atas jam 10 malam. Dan kalau Mama melihatku masih keluar kamar jam segitu, dia pasti marah.

Padahal, aku ingin sekali bercerita kepada Mama sebelum tidur. Tentang kejadian sepanjang hari itu. Tentang kegiatan seru yang aku kerjakan bersama Agatha dan Bunda. Tentang cerita-cerita lucu. Aku ingin sekali masak di dapur bersama Mama. Aku ingin nonton film kartun bareng Mama dan Papa. Aku ingin…Ah, sepertinya itu hanya mimpi. Tapi gak masalah karena sekarang aku punya Bunda. Mama jangan iri, ya…

:: Aku sebal dan sedih ::

Aku sebal sekali. Barusan aku mendekati Mama yang sedang asyik di depan komputer.

“Ma, Ade lapar.”

“Minta Bi Onah masak dong, Ade…”

“Aku bosan dengan masakan Bi Onah.”

“Kalau begitu, kita delivery order saja ya…”

“Gak mau, ah. Kita masak bareng aja, yuk Ma!”

“Aduh, Ade. Mama gak sempet.”

“Emang Mama lagi ngapain, sih?” Aku melihat ke monitor. “Ih, Mama cuma main game!” Jeritku.

“Ade, Mama ‘kan capek. Setiap hari kerja dari pagi sampai malam. Sekali-sekali Mama perlu santai. Kamu main sana, gih! Jangan ganggu Mama…’

Aku masuk kamar dan menangis di atas bantal. Kesal. Kesal. Kesal! Aku ingin sekali ke rumah Agatha, tapi mereka sekeluarga sudah pindah ke luar kota dua hari yang lalu. Ayah Agatha mendapat pekerjaan di kota lain. Aku benar-benar sedih. Aku menangis sejadi-jadinya dipelukan Bunda.

“Bunda jangan pergi. Bunda aku ikut, yaa…Aku sedih sekali kalau Bunda pergi…”

“Bunda juga sedih, sayang. Bunda juga gak mau berpisah denganmu. Kamu sudah Bunda anggap seperti anak sendiri. Tapi, kamu ‘kan punya Mama.”

“Tapi, Mama gak pernah ada waktu untukku. Aku seperti gak punya Mama. Mama hanya sibuk dengan pekerjaannya, dengan salonnya, dengan BB-nya, dengan notebooknya, dengan facebook-nya, dengan twitter-nya, dengan teman-temannya…”

Sekeras apapun aku menangis dan merajuk, mereka tetap pergi. Bunda memberiku sebuah kado. Isinya adalah buku Iqro yang aku pakai untuk belajar mengaji bersama Bunda. Buku Iqro itu dibelikan Bunda khusus untukku waktu aku bilang bahwa aku tidak bisa mengaji.

Itu adalah hari yang paling gelap. Aku menangis terus di dalam kamar. Bi Onah menyuruhku makan, tapi aku tidak ingin makan. Aku tidak ingin apapun. Aku hanya ingin Bunda dan Agatha ada di sini.

Aku ingin cerita tentang kesedihan dan kehilanganku ini pada Mama. Tapi Mama gak pernah peduli…Aku kesal, sebal, bete !!!


:: Aku sakit ::

Ma, tadi aku pingsan di sekolah. Aku gak ingat kejadiannya, tiba-tiba saja aku sudah berbaring di atas tempat tidur di ruang UKS. Aku disuruh pulang. Pak Supri dan Bi Onah berkali-kali menghubungi telepon Mama, tapi gak diangat. Mereka telephone ke kantor. Kata sekretaris, Mama dan Papa sedang rapat penting direksi, jadi gak bisa diganggu.

Aku lemas sekali, tapi aku bosan tiduran terus. Jadi aku nyalakan laptop. Ma, aku menemukan puisi ini. Aku merasa senasib dengan Serafina Ophelia. Begini puisinya…

Ibu dan Facebook.
Ibu. Facebook. Hubungannya erat sekali.
Setiap hari, sehabis mandi, selesai makan, sehabis apapun
Dalam hatiku, aku berpikir mau kemanakah gerangan ia
Notebook. Tapi apa yang selalu ia lihat di notebook. Facebook.
Setiap hari tawanya menggema. Sampai kapankah hubungan erat antara Ibu dan Facebook.
Mungkin sampai akhir hayatnya. Notebooknya akan dibawanya…ke…surga.

Lucu ya, puisinya? Aku jadi berfikir tentang surga. Ma, seperti apa surga itu? Mungkinkah di sana aku akan bertemu dengan seorang seperti Bunda? Maafkan Ade ya, Ma. Bukannya Ade lebih sayang Bunda daripada Mama. Gak kok. Ade sayang Mama. Tapi, Ade lebih suka punya ibu seperti Bunda.

Bunda memang tidak secantik Mama, tapi Bunda selalu ada. Bunda memang tidak sekaya Mama, tapi bunda selalu melimpahkan perhatian. Bunda memang bukan seorang direktur, tapi bisa mengajar ngaji. Aku iri pada Agatha. Jika aku ditakdirkan untuk terlahir kembali, aku ingin lahir dari rahim Bunda.

Ade kesepian, Ma. Ade sendirian di rumah besar ini. Hanya ditemani oleh boneka-boneka, mainan-mainan, dan benda-benda mahal pemberian Mama dan Papa. Ade perlu teman. Ade ingin Mama dan Papa …


‘***

Masih gemetar. Aku membuka bungkusan berwarna coklat itu. Gemetarku semakin hebat saat bungkusannya terbuka sempurna.

Buku Iqro. Kubalik sampulnya. Dihalaman pertama, ada sebuah foto ditempel di situ. Foto anakku bersama seorang wanita berwajah bulat jenaka dan seorang anak gadis kecil seumuran anakku. Wanita itu memeluk mereka dan mereka semua tertawa lebar.

“Mama, jenazah siap diberangkatkan…” Suamiku sudah ada di belakangku. Dia memapahku. Aku tak kuat. Tiba-tiba saja, semua kejadian itu terulang kembali dengan cepat.
Pagi hari,

Jeritan Bi Onah,“Nyonya ! Non Ade gak bisa dibangunin…”

“Bangunkan terus, Bi! Nanti dia telat ke sekolah!”

“Nyonya cepat kesini …”

“Ade bangun, sayang…” Aku mengguncang tubuh anakku, tapi dia tetap diam.

Panik .

Ruang Gawat Darurat.

Menunggu.

Dokter keluar.

“Maaf, Bu, Pak…kami sudah berusaha sekuat tenaga, tapi Tuhan lebih menyayangi putri anda. Penyakit typusnya sudah akut, ditambah mag dan demam berdarah. …”.

Gelap…

‘***

Tidak ada komentar