

Cerpen ini dimuat di Majalah CHIC
Edisi 20 April 2011
Together Forever, Jogja
Oleh Dwi Indarti
Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat
Penuh selaksa makna…
Argo Dwipangga masih menderu pelan saat kujejakkan kaki di Peron satu. Kulirik jam di pergelangan tangan kiri. 15.20. Senja perlahan menyapa Jogja. Namun diluar sana, terik matahari masih memanggang. Aku merapihkan baju yang kusut karena duduk delapan jam dalam kereta. Kulihat baca lagi pesan singkat yang kuterima sepuluh menit lalu.
Aku sudah menunggu di Stasiun Tugu.
Aku mengedarkan pandangan, menyipitkan mata, mencari sesosok tubuh diantara punggung-punggung manusia yang bergegas keluar stasiun.
Then, there you are …
Sang waktu ternyata tak bisa merubah segalanya. Hanya garis-garis halus kedewasaan yang bertambah di wajah itu. Selebihnya, semua masih sama.
Kau adalah Will Smith-ku. Tubuh atletis, kulit coklat bersih, wajah tampan yang jenaka dan sepasang mata elang. Disitulah letak gravitasi pesonamu. Mata yang berbicara, berbinar, hidup, semangat, dan selalu menangkap senyum yang dilontarkan dari bibirmu. Terkadang mata itu terasa begitu dalam, tajam, mengoyak, mencabik-cabik. Disaat yang lain, mata itu teduh, sejuk, damai, tenang. Seribu hari telah kulalui bersama mata itu, namun hingga detik ini, belum kutemukan dasarnya. Tak dapat kusibak rahasianya...
Senyummu mengembang bersama dengan rengkuhan hangat yang mendekap tubuhku. Rindu.
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja
“Apa kabar, Jelita?” Bisikmu.
Jelita. Rasanya sudah lama sekali aku tidak mendengar nama itu dibisikkan ditelingaku. Kau – ya, hanya kau – yang memanggilku demikian. Aku bergidik bahagia..
“ I am as fit as a fiddle. How about you, Ranger?” Ranger adalah panggilan sayangku padanya.
“As good as you guess. Kau semakin cantik, Jelita…”
“Dan kau semakin...” Aku menggantungkan kalimatku. Dia menatapku dalam. Ugh...aku tidak tahan!
”Semakin Will Smith! Dan berhenti menatapku seperti itu...!
Kau terbahak. Suara tawa renyahmu membangunkan setiap sel tubuhku yang dipenuhi kerinduan.
”Shall we go? Kau menginap di mana ?
“Hotel Mutiara, Malioboro.”
“Pilihan yang bagus.”
“Bukan pilihanku. Kantor yang mengatur semua akomodasi. Aku tinggal menjalani dan menikmati.”
”Berapa hari kau di Jogja, Jelita?”
”Dua hari. Lusa aku sudah harus kembali ke Jakarta.”
”Ck!..dua hari tak cukup untuk membunuh rasa rinduku...”
”Empat puluh jam milikku akan menjadi milikmu. Aku bisa menyelesaikan urusan kantor dalam waktu delapan jam. Sisanya, I’m yours, Ranger...”
Kami melangkah keluar stasiun sambil bergandengan tangan, sesekali mengangguk sopan dan menolak halus tawaran para tukang becak.
Setiba di gerbang stasiun, aku menatap lurus jalanan dihadapan kami. Oh, Mallioboro. Setiap sudutnya menawarkan kenangan untuk dikoyak kembali.
“Jalan kaki?” Tawarmu.
“Jalan kaki.” Jawabku mantap
Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila…
Dan kenangan demi kenangan seperti slide show yang memburu keluar dari ingatanku. Di sini. Di kota ini …
‘***
Senja di depan Benteng Vredeburg, Malioboro
“Aku sayang kamu, Jelita…”
“Kau tahu jawabanku, Ranger…”
“Tegaskanlah…”
“You are my sunshine. My only sunshine. You make me happy. When skies are grey. You’ll never know, dear. How much I love you. Please don’t take my sunshine away.” Kulantunkan lagu lawas milik Jimmie Davis.
Kau mendekapku. Erat. Hangat. Damai.
“Together forever, Jelita ?” Bisikmu.
“Together forever, Ranger.” Balasku.
Bangku taman di depan Benteng Vredeburg menjadi saksi bisu pernyataan cinta kami.
Sejak itu, kita adalah Rangga dan Cinta, Samson dan Delila, Peter Parker dan Marry Jane, Aragon dan Princess Arwen, Edward Cullen dan Isabella Swan.
Kampus Universitas Gadjah Mada menjadi tempat kita menimba ilmu, memadu kasih, merenda rencana-rencana indah serta memupuk impian masa depan.
”Kita akan menikah, punya anak, punya rumah, mobil, asuransi...”
”Hey...hey...hey...pikiranmu jauh sekali, Jelita! Kita ’kan baru semester awal kuliah...Masih jauuuuh...”
”Yaaaa...tapi ’kan bagus kalau direncanakan dari sekarang...”
”Hmm...”
‘***
Lesehan Malam di Malioboro
”Aku ingin keliling dunia! Itu impianku!” Katamu berapi-api
”Dengan travel agent? Asyik, aku ikut!
”Travel agent? Ickh....” Katamu dengan mimik jijik.
”Kenapa?”
”Perjalanan dengan travel agent itu seperti biri-biri yang sedang digembala. Digiring kesana-kesini. Terikat jadwal. Dibatasi waktu dan tempat! Apa enaknya?!”
”Backpacker! Itulah cara petualang sejati!” Lanjutmu
”Menggelandang maksudmu?” Sahutku tak antusias.
”Hah! Susah ngomong sama orang birokrat. Hidup serba teratur mengikuti aturan. Monoton. Membosankan.”
”Buat apa menyusahkan diri kalau bisa berada di zona nyaman?!” Sergahku
”That’s it. What I call. Prison! Zona nyaman itu penjara. Rutinitas itu pembunuh. Keteratuan adalah penyiksaan.”
”Ternyata kita beda, ya Ranger. Aku suka hidup teratur, terencana, nyaman, aman, mempunyai jadwal dan rencana yang jelas. Sedangkan kau membenci semua itu. Kau selalu mencoba hal-hal baru dan ketika kau sudah berhasil dengan satu hal, kau akan meninggalkannya begitu saja. Aku takut kau akan memperlakukan diriku seperti itu...”
”Oh, Jelita...kau terlalu mendramatisir! Bagiku, kau adalah pelabuhan terakhir. Rumah disaat aku lelah. Mata air ketika aku haus. ...”
”Tapi aku perlu rencana. Apa rencanamu setelah lulus kuliah?”
”Keliling dunia!” Sahutmu
”Itu bukan rencana. Itu mimpi. Rencana itu seperti ini; setelah lulus, kau akan melamar pekerjaan di sebuah travel agent, menjadi pemandu wisata karena dengan begitu kau bisa keliling dunia. Gratis dan dapat gaji. Lalu kau akan menikah denganku, membangun keluarga, punya anak, dan setiap tahun jalan-jalan gratis ke luar negeri dapat jatah dari kantor.”
Kau terdiam tidak menjawab apapun.
”Memang apa rencanamu setelah lulus kuliah, Jelita?” Tanyamu setelah beberapa saat keheningan.
”Oh...aku akan ikut test CPNS di departemen keuangan atau melamar pekerjaan di sebuah Bank Pemerintah. Punya penghasilan bagus, ikut asuransi untuk jaminan masa depan...”
”Besok aku akan mendaki Rinjani...” Potongmu tiba-tiba.
”Hoo?...”
’***
Stasiun Tugu, lima tahun yang lalu
”Harus ke Jakarta, ya?” Kau mengajukan pertanyaan yang sama sejak seminggu yang lalu.
”Iya. Aku diterima bekerja di sebuah bank pemerintah dan ditempatkan di kantor pusatnya di Jakarta.”
”Kau tidak mau tinggal di Jogja lagi?”
”Kau sendiri? Katamu kau akan keliling dunia.”
”Iya...tapi Jogja akan selalu menjadi pelabuhanku. Karena di kota inilah aku berasal, dan kelak akan menghabiskan waktu hidupku. Dikota ini, bersamamu Jelita...”
Aku tak sempat menjawab karena peluit kereta sudah bergema.
”Aku akan menunggumu, Jelita...Together foverer,...!” Serumu dari balik kaca kereta. Aku melambaikan tangan dan berurai air mata
’***
“Jadi, kau di sini untuk mengecek salah satu kantor cabang bank di Jogja?” Suaramu membuyarkan lamunanku.
“Yeah…begitulah.”
“Terdengar sangat membosankan!” Kau terkekeh mengejekku. Kuhujani kau dengan cubitan.
“Well, Djenar Arimbi Mutiara…” Kau menyebut namaku dengan lengkap. “Hamba siap melayani penjenegan selama di Jogja. I am your slave!”
“You’re nuts!” Semburku
“Kau sukses, Jelita
“Tak se-sukses kau, Ranger…”
”Memangnya apa yang kau tahu tentangku?”
”Hmm...tak banyak. Cuma sedikit informasi bahwa kau sudah menginjakkan kaki dihampir tiga perempat negara di dunia, Asia, Eropa, Amerika, Afrika. You know how jealous I am to know that ! Bahwa kau adalah pemilik dan pendiri sebuah EO besar dan sukses, yang kemudian kau jual karena merasa bosan. Sebagai gantinya, kau bergabung dengan WWF yang membawamu keliling dunia. Aku kebetulan saja sering melihat foto-foto hasil jepretanmu di majalah-majalah traveling, pameran-pameran foto dan selalu membaca jurnal-jurnal perjalananmu. Aku memang tak banyak tahu tentang seorang lelaki bernama Abimanyu Nibiru, tapi aku tahu semuanya ! Oh ya, satu lagi , kau masih single.”
”Ha ha ha ... Kau lucu.”
”Apakah kau benar-benar menungguku, Ranger?” Aku merendahkan suaraku. Hening. Kau terdiam.
”Kau tahu, aku selalu mencintaimu, Jelita...”
”Itu bukan jawaban atas pertanyaanku.”
”Aku akan selalu mencintaimu, Jelita...” Kau mengulangi lagi kalimat itu. Susah! Keras kepala! Aku tidak akan mendapat jawaban apapun.
Waktu seperti terbang melesat. Jam, menit, detik bagai seorang Sprinter yang berlomba mencapai garis finis. Dua hari yang sempurna telah kulalui bersamamu. Dua hari yang menjadi pelepas dahaga rindu, meski tak bisa benar-benar menghilangkannya, sebab aku akan selalu merindukanmu, Ranger.
Dua hari kami mengelilingi Jogja, merobek lapisan-lapisan kenangan, bertemu dengan orang-orang dari masa lalu.
Tiba saatnya aku harus meninggalkan Jogja dan kembali ke Jakarta. Di stasiun Tugu, seperti kau menjemput saat aku tiba, kini kau melepasku. Kali ini dengan genangan air mata yang berusaha kau penjarakan dipelupuk matamu dan senyummu.
Namun kotamu hadirkan senyummu, abadi
Izinkanlah aku untuk s’lalu pualng lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
Lagu ini berakhir seiring deru Argo Dwipangga menuju Jakarta.
***
Stasiun Gambir
Pagi yang hiruk-pikuk khas Jakarta. Para tukang ojeg berlomba menawarkan jasa mereka. Aku bergeming, berdiri mematung bersandar pada sebuah pilar. Kuketik sebuah pesan singkat.
Aku sudah di Jakarta, Ranger.
Semenit kemudian, balasan darimu masuk
Aku selalu mencintaimu, Jelita. Together Forever...
Kemudian aku terlonjak.
”Mamaaaaaaaa....!” Freya menghambur dalam pelukanku. Gadis kecilku yang berumur 4 tahun itu menghujaniku dengan ciuman.
”Freya sayang...Mama kangen...”
”Freya dan papa juga. Yuk, pulang...!” Freya menarik tanganku.
”Semua terkendali di Jogja, Dik?” Tanya Mas Didit, suamiku sekaligus atasanku di kantor.
”Beres, Mas.” Jawabku.
”Aku mau laporannya sudah ada di mejaku siang ini, Dik” Kata Mas Didit
”Baik, Mas.” Jawabku.
Di dalam mobil, aku mengetik sebuah pesan.
Ranger, aku akan menghapus pesanmu, nomermu, Jogjamu dan segala tentangmu sampai saat kita ditakdirkan untuk bertemu lagi. Jakarta telah mengambilku dan menenggelamkanku dalam kebahagiaan palsu. Kau tahu itu...
’***
Tidak ada komentar