Firework



FIREWORK
Oleh Dwi Indarti


Cerpen ini dimuat di Majalah Aneka Yess
Edisi Maret 2011


But I’m a creep.
I’m a weirdo.
What the hell am I doing here?
I don’t belong here


Kenapa mereka memutar lagu ini? Apakah mereka belum puas menyiksaku? Mereka sengaja membuatku menjadi seorang pecundang..

Gelas orange punch ketiga sudah habis. Aku berharap seorang waiter lewat dan menawarkan minuman. Aku sama sekali tak berselera makan padahal di meja buffet tersaji bermacam hidangan yang menggugah selera.

Oh, shit, Honey! Pelan-pelan kalau makan! Mayonisemu menetesi gaunku!” Bentak cewek yang berdiri di depanku.



“Sorry, beibs! Aku gak sengaja…” Si cowok gelagapan.

“Mbak ambilkan tissue cepat!” Cowok itu berteriak. With whom is he talking to? Aku celingukan.

“Hey, mbak ! Disuruh ambil tissue malah celingukan! Dasar bego!” Oh My God. Is he talking to me? Aku terperangah.

No…No…No, honey…She is not a servant. Let’s go!” Rebecca – si cewek – buru-buru menarik tangan cowoknya menjauh dariku.

Perfect! Sekarang aku dikira pelayan. Rebecca bahkan tidak mau meminta maaf padaku. Dia bersikap seolah-olah tidak pernah mengenalku, padahal kami sekelas. Dia bukan lagi Rebecca yang merangkulku sambil merengek-rengek minta dibuatkan PR.

Di pesta ini, dia adalah Rebecca si cantik artis FTV, model Majalah remaja yang hanya berteman dengan mereka yang ‘selevel’. Mana mungkin gadis seperti Rebecca berteman dengan orang sepertiku…

Ternyata, bersekolah di Rainbow High School bukanlah sebuah kesenangan dan kebahagiaan. Bagiku ini seperti siksaan. Seperti kata Radiohead, I don’t belong here
‘***
“Anakmu sangat pintar, No…”

“Iya, pak. Katty memang pintar. Dia bercita-cita ingin menjadi seorang diplomat.” Ayah merangkulku..

Ayah mengajakku menghadap atasannya, Pak Sasmitra - seorang konglomerat – untuk meminjam uang agar aku bisa meneruskan sekolah di sebuah SMA Negeri. Meskipun sekolah negeri tapi uang pendaftaran masuk cukup besar untuk ukuran ayahku yang hanya seorang sopir pribadi sehingga ayah terpaksa berhutang kepada atasannya.
“Dengan nilai seperti ini, sayang sekali kalau dia hanya sekolah di SMA Negeri. Saya tidak bermaksud bilang kalau sekolah negeri itu jelek, hanya saja, kalau anakmu bisa bersekolah di tempat yang lebih bagus, lebih berkualitas, dia akan mendapat kesempatan lebih besar untuk bisa meraih cita-citanya. Selain itu…” Pak Sasmitra memandangku lekat-lekat. Aku menunduk.

“Selain itu, Katty bisa menjadi teman Perry, putri bungsuku. Tahun ini, Perry juga masuk SMA. Perry perlu teman yang bisa membantunya belajar. Hanya karena aku penyumbang dana terbesar di Yayasan Rainbow High School-lah, Perry bisa diterima di sana. Nilai raportnya cuma rata-rata…”

“Jadi, bagaimana kalau Katty aku daftarkan di Rainbow High School? Soal biaya semua menjadi tanggunganku. Kau tinggal belajar dan membantu Perry dalam pelajarannya. Aku akan mengatur agar kalian selalu sekelas…”

It’s like a dream. Teman-teman SMP-ku kaget sekaligus iri begitu tahu aku akan masuk ke RHS. Siapa yang tidak tahu sekolah mentereng yang hanya berpenghuni anak-anak dari kalangan jet-set itu? Gedungnya saja membuat orang merasa minder. Belum lagi fasilitas-fasilitasnya. Ada kolam renang, lapangan golf, lapangan tennis, lapangan sepak bola dengan ukuran stadion, lapangan basket, auditorium berkapasitas seribu orang, dan semua fasilitas canggih yang tidak dimiliki oleh sekolah negeri. Hanya kalangan yang benar-benar borjuis yang bisa menyekolahkan anaknya di RHS.

Rata-rata, murid-murid RHS itu cantik dan tampan. Mereka putih, tinggi, langsing.. Sampai kapan pun, aku yang pendek, hitam, gendut, rambut keriting, plus kaca mata minus lima, tak akan bisa menyamai penampilan mereka. Dengan berat badan 85 kilo dan tinggi 155 cm, aku terlihat seperti karung beras.

Murid-murid RHS kebanyakan adalah artis, model, pemain sinetron, atau bintang iklan. Di tempat seperti inilah aku akan menghabiskan masa tiga tahunku SMA-ku.

“Kamu harus bersyukur, Kat. RHS adalah sekolah impian. Otakmu memang cocok di sana…” Kata Nina, sahabatku di SMP

Ya, Nina, aku memang sangat bahagia dan bersyukur saat menerima ‘berkah’ ini. Tapi, semua rasa bahagiaku musnah sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di lantai marmer sekolah.

“Mbak mau ngapain ke sini?” Satpam sekolah menahanku di pintu gerbang. Sesaat aku kebingungan.

“Sa…saya sekolah di sini.” Aku gugup. Beberapa murid melirik dan melempar pandangan menghina. Satpam itu memandangku dari ujung kaki sampai ujung kepala.

“Pak, dia memang murid di sini. Yuk, masuk Kat!” Perry menjawilku dari belakang. Aku mengekornya. Aku tadi memang berangkat bersama Perry dengan Mustang merah-nya, tapi dia menyuruhku masuk duluan. Apakah dia malu terlihat jalan bersamaku?

Perlakuan satpam sekolah tadi tidak seberapa dengan perlakuan teman-temanku. Bahkan Perry pun jarang menegurku kalau di sekolah. Dia selalu bersama gank-nya, sesama anak orang kaya. Mereka bersahabat sejak SMP. Aku menjadi seorang penyendiri.

Tampaknya tak ada seorang pun di sekolah ini yang mau berteman denganku. Jika waktu istirahat tiba, biasanya aku ‘melarikan’ diri ke perpustakaan sampai bell masuk berbunyi. Aku hampir tak pernah ke kantin sekolah yang mirip Foodcourt Mall itu.

Aku tahu maksud Pak Sasmitra menyekolahkanku di RHS adalah untuk membantu Perry belajar. Tapi prakteknya adalah aku harus mengerjakan semua tugasnya. Ini agak susah. Bukan tugas-tugasnya, tapi bagaimana cara mengakali agar para guru tidak tahu bahwa aku yang mengerjakan semua tugas Perry. Akan sangat mencurigakan kalau jawaban-jawaban kami selalu sama.

Tentu saja semua ini harus dirahasiakan dari orang tua Perry. Mereka hanya tahu setiap malam kami selalu terlihat belajar bersama di kamar Perry yang mewah. Yang sebenarnya terjadi adalah Perry sibuk chatting, browsing, teleponan, atau tidur sementara aku mengerjakan semua tugas-tugasnya dan membuat ringkasan pelajaran untuknya.

Para guru di sekolah mengakui kecerdasanku. Saat aku bisa membungkam teman-temanku dalam debat di kelas, saat para guru memujiku, saat nilai-nilai diumumkan, saat-saat seperti itulah yang membuat rasa percaya diriku bangkit.

Namun di luar itu, aku hanyalah seonggok sampah di mata teman-temanku. Terkadang mereka menegurku hanya untuk meminta bantuan. Tapi tak seorang pun yang mau mengajakku ke kantin apalagi mengundangku datang ke pesta-pesta yang sering mereka gelar.

Tapi…tunggu. Tidak semuanya. Ada satu orang yang cukup baik padaku. Namanya Julian, cowok tampan ketua kelas. Dia memang jarang menegurku atau bicara lama denganku. Tapi, dia berbeda dengan yang lain. Dia tidak pernah memanfaatkan kepintaranku, sebab dia juga pintar meskipun jarang bisa melampaui prestasiku. Sapaannya kepadaku juga terasa tulus, bukan sekedar basa basi. Tapi, dia menjaga jarak denganku. Yah, aku maklum. Cowok populer seperti dia bisa tak pantas terlihat bersama cewek cupu seperti aku.

Sejauh ini aku bisa meng-handle situasi yang tidak menyenangkan di sekolah dan tidak pernah menceritakannya kepada orang tuaku. Hanya kepada Nina aku curhat tentang sekolahku. Ingin rasanya aku pindah ke sekolah Nina dan menikmati masa remaja dengan teman-teman yang biasa saja..

Aku selalu menghindari pesta-pesta yang sering diadakan. Lagipula, siapa yang mau mengundangku? Aku cukup senang menghabiskan malam minggu dengan membaca buku dikamar. Sesekali Nina datang dan kami akan ngobrol berjam-jam. Aku sama sekali tidak iri membayangkan teman-teman sekelasku sedang berpesta seru di sebuah kafe mewah.. Aku cukup tahu diri.

Tapi, minggu ini adalah mimpi buruk bagiku. Tiga hari yang lalu Pak Sasmitra memanggilku.

“Katty, kau harus menemani Perry ke pesta ulang tahun Julian sabtu ini.” Kata pak Sasmitra.

“Papa, aku akan pergi bersama Cindy dan yang lainnya!” Sergah Perry

“Tidak. Kali ini kau harus pergi bersama Perry. Papa tahu, dia tidak pernah diundang ke pesta manapun…”

“Tidak apa-apa, tuan. Saya dirumah saja.” Aku berusaha memohon.

“Katty, kali ini kau harus pergi ke pesta. Kau sama dengan kami, kau berhak bersenang-senang.”

Aku mengeluh dalam hati. Pak Sasmitra mungkin bermaksud baik menyuruhku bersenang-senang dengan datang ke pesta, tapi sebenarnya dia malah menggiringku ke dalam penderitaan yang lebih parah. Dan aku sama sekali tidak bisa menolak perintah pak Sasmitra.

‘***

Do you ever feel like a plastic bag
Drifting through the wind
Wanting to start again
Do you ever feel, feel so paper thin
Like a house of cards
One blow from caving in


“Hai, Katty. Thanks for coming. Are you enjoying this party?” Julian menepuk pundakku. Aku hanya tersenyum.

“Dengerin lagu ini, deh. Liriknya bagus. Setiap orang istimewa. Termasuk dirimu. Kau pintar, cerdas, smart. Kau hanya harus lebih percaya diri. Just show who you are…” Kata Julian.

“Hoi, Julian ! Pesta kolam renangnya akan segera dimulai. Yuk, nyebur!” Salah seorang teman Julian berteriak memanggil.

“Trust me, Katty. You are special in your own way…” Setelah berkata itu, Julian berlari menyongsong teman-temannya. Mereka telah berganti swimsuit dan beramai-ramai melompat ke kolam renang.

Aku termenung memikirkan kata-kata Julian dan menyimak lagu ini…

Do you ever feel already buried deep
Six feet under scream but no one seems to hear a thing
Do you know that there’s still a chance for you
Cause there’s a spark in you.
You just gotta ignite the light
And let it shine
Just own the night
Like the fourth of July


Aku tersentak. Lirik ini menggambarkan diriku seolah-olah Katty Perry bernyanyi khusus untukku.

Cause baby you’re a firework
Come on show ‘em what you’re worth
Make ‘em go, oh, oh, oh
As you shoot across the sky
Baby you’re a firework
Come on let your colors burst
Make em go, oh, oh,oh
You’re gonna leave ‘em falling down


Seperti ada yang terbakar dalam diriku. Hey, apa yang salah dengan diriku?! Pertanyaan itu menyeruak dalam hati. Aku sempurna. Semua ciptaan Tuhan sempurna. Tak pantas diriku merutuki keadaanku. Julian benar, aku istimewa dengan caraku sendiri.

Aku melangkah ringan sambil menebarkan senyum kepada setiap orang yang kulalui. Letusan dalam diriku semakin menggelegar. Lalu aku meloncat ke tengah kolam renang…

Baby you’re a firework
Come on let your colors burst
Make ‘em go oh oh oh
You’re gone leave ‘em falling down.

‘***
Terinspirasi dari salah satu scene video klip Firework , Katty Perry.

Tidak ada komentar