Natal Tanpa Pandawa Ke-Lima



:: Natal tanpa Pandawa ke-Lima::
Oleh Dwi Indarti


Cerpen ini dimuat di Majalah STORY edisi bulan Desember 2010
















Bro, this is Christmas Eve. Hembusan angin dingin bulan Desember memasuki celah jendela ruang keluarga. Pohon Natal besar yang berdiri gagah di sudut ruangan seolah ingin menawarkan kehangatan, tapi gagal. Pohon Natal itu tampak sunyi tanpa hiasan warna-warni, lampu-lampu, bola-bola kaca dan malaikat kecil bersayap yang bertengger di puncaknya. Sesunyi ruang keluarga ini, meskipun ada enam orang di dalamnya.

Bro, tidakkah kau lihat perbedaan di malam Natal kali ini ? Lihatlah! kami semua berkumpul. Hal yang sudah lama tidak bisa diwujudkan dalam keluarga ini. Semenjak kita meninggalkan masa kanak-kanak, semenjak ayah sibuk dengan bisnis dan permintaan Kotbah di berbagai kota, semenjak ibu ‘menggila’ dengan sosialita dan aktifitas Kerohanian. Keluarga kita jarang berkumpul lengkap. Rumah besar ini seperti halte transit. Penghuninya datang dan pergi begitu saja. Bahkan pada malam Natal.



Tapi, malam ini berbeda, bro. Semua berkumpul. Ayah, Ibu, Mas Yudhi, Mas Bima, Mas Arjuna, dan aku.

“Bim, letakkan dulu bukumu.” Suara ayah memecah keheningan. Dengan enggan, Mas Bima meletakkan buku Dan Brown. Kurasa dia hanya menggunakan buku itu sebagai alat untuk bersembuyi, sebab kuperhatikan sedari tadi dia tidak membalik halaman-halamannya.

“Jun, copot headsetmu.” Mas Arjun cuek. Tentu saja dia tidak mendengar perintah ayah. Suara musik dari Ipodnya sampai terdengar di telingaku yang duduk sebelahnya. Aku menjawilnya. Mas Arjun memberiku pandangan protes, tapi aku menunjuk pada ayah. Akhirnya, dia melepas Headset.

“Yudhi, matikan dulu BB-mu. Semua urusanmu bisa diselesaikan nanti.” Mas Yudhit patuh dan mematikan Blackberry-nya.

“Bu, berhentilah menagis.” Ujar ayah disela-sela isakan tangis ibu yang sedari tadi menjadi satu-satunya suara di ruangan ini. Ibu menggeleng pelan.

“Tak perlu disesali yang sudah terjadi. Ini pelajaran untuk kalian semua…” Ujar ayah.

“Untuk kita semua, Yah!” Potong Mas Bima.

“Untuk kita semua. Terutama kalian! Sebab kalian…”

“Sebab kami kenapa? Ayah mau menimpakan kesalahan kepada kami? Ayah merasa suci?” Sergah Mas Bima.

“Jaga ucapanmu!” Hardik ayah.

“Kami akan menjaga ucapan kalau ayah juga menjaga perasaan kami!.” Kali ini Mas Arjuna yang angkat bicara.

“Dengan siapa kau sedang bicara, Arjuna?!” Wajah ayah mulai memerah.

“Ayah menganggap diri suci seperti seorang Santo!” Sahut Bima

Keheningan kudus malam natal pecah. Suara Mas Bima, Mas Arjuna, Mas Yudhistira beradu dengan teriakan ayah dan tangisan ibu. Ah, kepalaku pening! Aku beringsut meninggalkan ruang keluarga. Tak seorang pun yang menyadari kepergianku.

Bro, aku ingin di kamar saja. Hanya berdua denganmu, mengenang natal-natal indah yang kita lewati bersama. Natal-natal terbaik dalam hidupku bersama Pandawa Lima.

Bro, inilah jejak-jejak Natal yang masih tertinggal dalam memoriku.
‘***
:: Natal di Panti Asuhan Vincentius Putra ::

Waktu kita berumur 5 tahun, ayah membawa kita sekeluarga merayakan Natal di Panti asuhan.

”Yah, kenapa kita tidak Natalan di rumah saja?” Tanyamu waktu itu.

”Ayah ingin kalian meresapi makna Natal yang sesungguhnya di tengah teman-teman sebaya yang kurang beruntung. Terutama kau, Sadewa. Supaya kau tidak bandel lagi.” Kau cemberut dan membuang pandangan ke kaca mobil yang tengah melaju. Kau memang yang paling bandel diantara kita berlima. Mungkin karena kau anak bungsu.

Bro, meskipun awalnya kita enggan merayakan Natal di Panti asuhan, namun, kita harus mengakui, bahwa itu adalah Natal yang paling berkesan.

Kau tampak sangat antusias membagikan kado Natal kepada teman-teman di Panti. Mas Bima, Mas Yudith, dan Mas Arjuna langsung akrab dengan anak-anak panti. Aku sendiri, sangat terkesan dengan salah seorang seorang anak kecil buta yang hafal isi Al-kitab.

Kita semua bersuka cita dalam kasih-NYA.

:: Natal di sebuah desa di Lereng Gunung Bromo ::

“Natal adalah saat terbaik untuk menyatukan jiwa-jiwa yang tercerai karena kesibukan duniawi. Saat seperti ini, keluarga-keluarga yang terpisah jauh akan berkumpul kembali untuk merenungkan makna kehidupan ini, saling berbagi kasih sayang dan saling memaafkan. Eyang senang kalian mau datang ke sini untuk merayakan Natal. ” Eyang Kakung duduk di atas kursi goyang, menghadapi lima anak laki-laki. Beliau bercerita tentang masa lalu dan kegemarannya pada cerita-cerita wayang.

“Tahukah bahwasanya kalian berlima adalah anugerah terbesar dalam hidup kami? Sejak dulu, aku dan ayahmu sangat kagum pada seorang tokoh pewayangan, yaitu Pandu. Aku ingin mempunyai 5 orang cucu laki-laki. Tuhan Yang Maha Baik telah mengabulkan doa kami. Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, berdirilah kalian semua. Mari kita panjatkan doa dan puji-pujian di malam yang kudus ini.”

Bro, kau pasti ingat Natal itu, kan ? Waktu itu kita berumur 10 tahun. Mas Yudhi 16 tahun, Mas Bima 14 tahun, dan Mas Arjuna 12 tahun. Tahun itu, ayah membawa kita sekeluarga untuk merayakan Natal bersama Eyang di desa kelahirannya. Sebuah desa yang terletak di lereng gunung Bromo.

Pagi hari natal, kita mengikuti Misa di sebuah gereja kecil di sudut desa. Tak ada jamuan mewah setelah ibadat selesai. Sebagai gantinya, Eyang membawa kita berlima menuju salah satu bibir kawah Bromo. Eyang memimpin perjalanan melewati hamparan gurun pasir. Sesekali beliau menyapa orang-orang yang berjalan terbungkuk-bungkuk membawa kayu.

Bro, waktu itu kau senang sekali ketika kita semua sampai di puncak. Kau meloncat-lincat kegirangan hingga terjatuh dari sebuah batu besar. Kau meringis menahan sakit sambil memegangi kakimu yang berdarah. Lalu Eyang Kakung menghampiri dan menjewer telingamu. Eyang memang keras dan sifat ini menurut pada ayah.

“Cah ora iso kalem! Nakula, jaga adik kembarmu ini!” Eyang menyuruhku membopongmu. Abang-abang kita yang lain tertawa-tawa di balik punggung Eyang melihat kau dimarahi. Tapi kecelakaan itu terbayar saat menikmat hidangan sederhana yang disiapkan oleh ibu dan Eyang Putri dari rumah. Ubi rebus, wedang jahe, pisang goreng, nasi liwet dan ikan mujair bakar.

Pada pagi pergantian tahun baru, di puncak Bromo, kita menyaksikan matahari yang tergelincir jatuh di balik punggung Gunung Semeru. Kita mengagumi pusaran angin yang bergelung-gelung, membuat pasir-pasir berjumpalitan dan seolah saling berbisik memaki angin yang menerbangkan tubuhnya. Kita mendapatkan kotbah langsung dari Sang Maha Pencipta tentang alam semesta. Kotbah yang lebih dasyat dari semua Pastor di dunia.

Bro, itu adalah salah satu Natal dan Tahun baru yang terindah dalam hidupku.

:: Natal di Swiss ::

Beruntung sekali kita bisa merasakan Natal di Eropa , ya Bro. Natal Putih yang sebenarnya, karena hampir semua benda yang ada di kota kecil ini tertutup salju.

Bulan Desember, saat kau dan aku berumur 12 tahun, kita sekeluarga pergi ke Interlaken, sebuah kota kecil di kaki pegunungan Alpen, mengantar Mas Yudhi yang mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di sebuah Perguruan Tinggi di kota itu. Interlaken adalah kota yang sangat cantik, berada diantara dua danau Bienzersee dan Thunersee. Itu sebabnya dia dinamakan Interlaken, yang berarti di antara danau. Dari kota ini tampak gunung-gunung yang diselimuti salju abadi menjulang di depan mata.

Kita merayakan Natal Putih di sebuah kapel besar di pusat kota. Meskipun kita tidak mengerti kotbah yang di sampaikan Pastor, meskipun suhu minus 5 derajat celcius membuat kau dan aku mimisan, meskipun masakan Eropa tidak sesuai dengan lidah kita, meskipun aku terperosok dalam salju dan terbenam hingga lutut, meskipun Mas Bima dan Mas Arjuna selalu rebutan jaket tebal untuk dipakai dan membuat ibu jengkel, tapi semua itu terbayar dengan keindahan natal, kesyahduan dentang lonceng gereja dan paduan suara gereja yang membahana, memenuhi setiap sudut kota.

Bro, kita patut bangga pada Mas Yudhi. Dia memang pintar. Ayah menyebut Mas Yudhi sebagai tauladan keluarga.

Itulah Natal terakhir dengan formasi lengkap Pandawa Lima. Ditahun-tahun selanjutnya, tak pernah semua berkumpul bahkan saat Natal tiba.

Setahun kemudian Mas Bima pindah ke Jogja untuk meneruskan kuliah di UGM. Mas Arjuna mulai tour keliling kota bersama band-nya. Mereka hanya mengirimkan kartu Natal dan permintaan maaf tak bisa pulang karena kesibukan membuat mereka lupa memesan tiket jauh hari sebelum high season. Akhirnya, mereka tak dapat tiket. Di rumah, tinggal aku dan kau. Suatu hari kau berkata,

”Na, kita udah gede. Udah 16 tahun. Udah saatnya berpisah.”

”Maksudnya?”

”Ya, udah saatnya gue pindah kamar. Gue mau pindah ke kamar Mas Yudhi.”

”Kok gitu?”

”Ya ampun, Na! Kita bukan lagi bocah kembar yang kemana-mana harus pakai baju sama, tidur di kamar yang sama, pergi pulang sekolah sama-sama! Emang elu mau selamanya kayak gitu?”

”Ya nggak,si. Tapi...”

”Ya udah! Gue pindah kamar.”

Bro, semenjak kau pindah kamar, kita seolah berpisah jalan. Kau menolak mentah-mentah ketika ayah hendak mendaftarkan ke sekolah Katolik khusus cowok. Kau memilih bersekolah di sebuah SLTA Negeri. Sedangkan aku tetap menuruti kemauan ayah.

Perlahan tapi pasti, malapetaka beringsut mendekat. Kesibukan yang menenggelamkan masing-masing anggota keluarga telah membentuk tembok tak kasat mata.
Ayah jarang di rumah karena urusan bisnis dan permintaan kotbah di berbagai daerah. Ibu, tentu saja, selalu stand-by di sampingnya dan mengekor kemanapun ayah pergi. Aku sendiri sibuk dengan gadis-gadisku. Walaupun aku bersekolah di sekolah khusus cowok, tapi bukan halangan bagiku untuk mengisi masa muda dengan belajar dan pacaran.

Sheila, Jess, Maria, Stef, Debby hanyalah segelintir dari gadis-gadis yang mengisi hidupku. Mereka benar-benar membuatku sibuk. Aku harus pintar membagi waktuku dengan adil. Bro, aku benar-benar memanfaatkan wajah tampan karunia Tuhan ini.

How about you, bro ? Apa kesibukanmu ? Aku tak pernah tahu sampai suatu hari aku masuk ke kamarmu untuk meminjam t-shirt. Berantakan sekali! Pakaian kotor, kertas, sepatu, tas, dan segala macam sampah berserakan di atas tempat tidur. Tembok kamar dipenuhi dengan poster band-band rock dan coretan-coretan graviti bernada sarkastik.
Saat aku hendak menutup laci meja yang terbuka, kutemukan benda-benda itu. Benda yang selama ini hanya kulihat di poster-poster sekolah, majalah, koran, pamflet.
Aku terhenyak. Tanganku gemetar saat meraih pil-pil kecil berwana putih yang berserakan, lintingan daun ganja, jarum suntik yang diujungnya menempel sisa darah kering, aluminium foil, dan alat yang aku tak tahu namanya.

Tiba-tiba pintu menjeblak terbuka. Kau berdiri diambang pintu dengan wajah murka. Aku benar-benar tak mengenali dirimu lagi, bro. Biasanya, ketka aku berdiri berhadapan denganmu, aku seperti berkaca karena kita kembar identik. Tapi sekarang, siapakah pemuda kurus kering yang berdiri di depanku ini ?

”Ngapain lo masuk kamar gue ?!” Bentakmu.

”Dewa, apa-apaan ini?!” Aku tak memperdulikan kemarahanmu sebab aku juga sedang marah. Kuacungkan barang-barang haram itu di depan wajah tirusnya.

”Bukan urusan, lo! Cepat pergi dan jangan pernah sekali-sekali masuk ke kamar gue lagi!” Kau merampas barang-barang itu.

”Ini urusan gue juga karena elu saudara kembar gue! Dewa, kenapa elu nge-drugs? Elu sudah menghancurkan dirilu dan keluarga ini!”

”Hah! Saudara kembar kata, lo? Masih inget rupanya kalo elu punya sodara ? Dimana elu waktu gue butuh orang untuk cerita tentang masalah gue ? Dimana elu waktu gue kebingungan menghadapi pelajaran-pelajaran sekolah yang gak gue ngerti? Elu tahu,kan, otak gue gak se-encer elu! Gak se-genius Mas Yudhi, Mas Bima atau Mas Arjun. Dari dulu gue jadi biang masalah di keluarga ini?!”

”Elu terlalu sibuk dengan pacar-pacar elu! Kalau gue telphone, elu selalu bilang, ”Jangan sekarang, Wa. Gue lagi di bioskop! Ntar aja, Wa. Gue mau ngaterin Vina dulu. Wa, ntar gw telephone balik kalau udah selesai candle light dinner!”

”Dimana ayah dan ibu saat gue perlu didampingi orang tua menghadap kepala sekolah? Dimana kalian saat gue butuh keluarga? Kalian terlalu sibuk mengukir prestasi, mengejar penghargaan, menyembah berhala materi! Sampai akhirnya gue bosan menunggu! Lalu gue kenal mereka. Dan hidup gue berubah! Gue bahagia karena meraka bisa menghilangkan kesedihan gue, rasa kesepian dan putus asa!”

”Su...sudah berapa lama elu pakai narkoba?” Tiba-tiba aku menjadi gugup dan sangat takut pada Sadewa.

”See!! Bahkan elu gak tahu apapun tentang gue padahal kita tinggal seatap!”

”Dewa, please, berhenti! Jauhin barang-barang ini! Atau ...”

”Atau apa? Elu mau ngadu ke ayah dan ibu? Ha ha ha ... Pengen liat sebesar apa nyali, lu?”

Bro, kau tahu persis kondisiku. Aku terperangkap dilema. Jika kulaporkan pada ayah, maka kau pasti akan berakhir di penjara, sebab ayah tak akan pernah mentolerir apapun yang bisa mencoreng nama baik keluarga. Tapi, jika aku diamkan, maka aku sama saja membantu menggali kuburanmu.

Tapi kebingunganku berakhir pada penyesalan tak terperi ketika jeritan mbak Ijah membelah pagi yang hening, tepat satu purnama menjelang Natal.

”Sadewaaaaa!”

Kau ditemukan tewas over dosis, terbujur kaku dikamarmu, dengan mulut berbusa. Semua tersentak seperti dipaksa bangun dari mimpi. Ayah memanggil Mas Yudhi, Mas Bima dan Mas Arjun pulang. Ibu hampir mengalami depresi.

Dengan rapih dan sistimatik ayah membuat upacara pemakaman sederhana. Dia memberitahu semua orang bahwa kau meninggal karena sakit typus. Kebohongan yang harus di-aminkan oleh seluruh anggota keluarga.
’***
Prangg !!!

Suara porselene pecah membuyarkan lamunanku. Aku menghambur keluar kamar untuk melihat apa yang telah terjadi. Ibu, wanita bertubuh mungil yang sedari tadi hanya menangis, sekarang berdiri sambil memegang sebuah guci yang siap dia lemparkan.

”DIAM!!!” Jerit ibu.

”Tidakkah kalian sadar, saat ini, mungkin Sadewa sedang menangis di alam sana menyaksikan keluarganya bertengkar?!! Dia sudah menderita...Ini memang salah kita. Ini salahku...Salahku...” Ibu jatuh terisak-isak tak terkendali. Sejenak kami tertegun. Lalu kami semua bergegas menghampirinya, kemudia bersama. Bahkan ayah pun akhirnya menangis, untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

Bro, jika apa yang ibu katakan benar, bahwa saat ini engkau sedang menyaksikan kami, maka maafkanlah kami. Maafkan kami yang tidak bisa menjagamu, adik. Maafkan kami yang tidak bisa mencontoh kearifan Pandawa Lima. Maafkan kami, brother...

’***

Tidak ada komentar