Senja di Sanur




Cerpen ini telah dimuat di Majalah CHIC edisi 1 Desember 2010

Senja di Sanur
Oleh Dwi Indarti


Di sanalah pertama kali aku bertemu dengannya. Diantara deburan ombak yang menjilati bibir pantai Sanur Pada sebuah senja yang berpendar gemilang seolah menyinari hatiku yang dilanda pekatnya kegelapan. Ironi …

“Apa yang kau lakukan?!” Suara halus menahan tajamnya mata silet yang hampir mencapai nadi di pergelangan tangan kiriku.


“Bukan urusanmu!” Bentakku tanpa menoleh.





“O..ya! Ini urusanku! Kalau pasir putih indah ini menjadi kotor oleh darahmu, itu menjadi urusanku! Kalau tubuh tak bernyawamu mencemari laut Baliku, itu menjadi urusanku! Kalau jiwa gelisahmu menghantui senja-ku, itu akan menjadi urusanku!” Suaranya seperti berdenting-denting dalam rongga kepalaku.

Aku menghentakkan kakiku dengan kesal pada pasir putih. Mata silet tajam masih terjepit diantara jemariku.

Sedemikian bencikah Tuhan padaku, sehingga DIA tidak mau menerima jiwaku untuk berlabuh disisi-NYA? Sudah tiga kali aku mencoba mengakhiri hidup, namun semuanya gagal. Nyawaku masih melekat erat diragaku hingga detik ini. Detak jantungku masih memompa darah ke dalam sel-sel tubuh. Yeah, I am still alive!

Usaha pertamaku untuk mengakhiri hidup ini adalah dengan minum sembarang obat dengan dosis yang berlebihan. Kutemukan sebotol pil penenang di lemari obat dan kutelan dua pertiga isinya. Segera saja aku merasa tenang. Tapi tak lama. Kudapati diriku terbaring di kamar putih dan tubuhku dihiasi berbagai selang. Rupanya, salah seorang pembantuku menemukanku tak sadarkan diri di kamar mandi pada saat yang tepat, hingga nyawaku dapat diselamatkan.

Beberapa minggu setelah itu, kucoba cara lain untuk bunuh diri. Kukebut Ferrari merah tuaku dengan kecepatan tinggi membelah udara malam yang dingin di kawasan Halimun-Salak sambil berharap ban mobilku selip, lalu meluncur terbang bebas ke jurang yang menganga di sisi jalan. Ternyata, aksiku membuat polisi berang. Mereka mengejarku seperti aksi kebut-kebutan dalam film Fast and Furious.

Adrenalinku terpacu. Dari kaca spion, kulihat mobil polisi megap-megap untuk menghentikan laju Ferrariku. Aku tersenyum penuh kemenangan. Tapi aku salah perhitungan sehingga tanpa sadar aku salah mengambil rute dan terjebak kemacetan di kawasan Puncak. Shit!



Malam itu aku terpaksa menginap di balik jerusi besi, meski hanya beberapa jam. Pengacara keluarga segera datang dan membebaskanku.

Melihat semua kelakuanku, Paman memaksaku untuk hengkang dari Jakarta dan menyepi ke Bali untuk menenangkan diri. Dia berharap Bali bisa menghilangkan obsesiku untuk bunuh diri.

Tapi dia salah! Keinginan untuk mati masih ada. Kuputuskan untuk melaksanakan niat itu di sini. Di surga ini. Dalam cahaya keemasan senja Pantai Sanur, disaksikan matahari yang membulat tergelincir ditelan laut. Angin senja akan menerbangkan jiwaku menuju nirwana. Dan air laut akan menghanyutkan tubuhku.

Aku yakin, kali ini pasti berhasil. Pantai sangat sepi. Hanya satu dua peselancar yang sedang menikmati ayunan ombak, tampak dari kejauhan, bagai titik-titik hitam lukisan alam. Entah berapa lama aku duduk menyepi di sini. Waktu terasa mengerut dan hilang ditelan deburan ombak. Kulahap keindahan senja di Sanur sepuasnya. Sebab sebentar lagi aku akan mati.

Penggalan-penggalan episode terkelam dalam hidupku tiba-tiba melintas dalam benak, membentuk sebuah kaledioskop penutup sebuah era kehidupan seorang anak manusia…

‘***

“Zee! Maafkan aku! Dengarkan aku dulu!” Linggar berteriak dan menangkap pergelangan tanganku sebelum aku sempat berlalu. Kutepis tangannya dengan sekuat tenaga.

“Apa?! Kau mau menjelaskan apa? Penghianat! Kalian berdua penghianat!!!” Aku
berteriak histeris sehingga membuat orang-orang yang berada di kafe itu menoleh.

“Ini tidak seperti yang kamu kira. Aku dan Re tidak bermaksud menghianatimu! Aku…Aku mencintaimu, Zee!” Linggar mengucapkan itu tanpa menatap pada Re yang terpaku di sebelahnya. Re tersentak, menyambar tas tangannya dan berlari sambil terisak.

“Renata!” Panggil Linggar. Moment ini kupergunakan untuk melepaskan diri dari cengkraman tangannya dan berlari keluar menyusul Re. Aku melihatnya menangis di samping Honda Jazznya. Sungguh, aku tak ingin bertemu dengannya saat ini.

“Zee, maafkan aku.” Ucapnya lirih.

“Re, kamu sahabat terbaikku. Teganya kau lakukan ini padaku!” Aku membanting pintu Ferariku dan menginjak gas dalam-dalam. Penghianatan yang dilakukan oleh sahabat terbaikku sejak kecil dan kekasih yang kucintai selama 5 tahun, menorehkan luka perih yang dalam di hatiku. Kasak-kusuk tentang hubungan mereka kuabaikan karena rasa percaya terhadap keduanya. Namun hari itu semua kebusukan terbongkar ketika tanpa sengaja aku memergoki mereka sedang bermesraan di sudut kafe favoriteku, di sofa favoriteku juga.

Kulambatkan laju Ferrariku ketika mendekati komplek perumahan elit. Biasanya komplek perumahan sunyi senyap meskipun pada tengah hari bolong, tapi hari itu banyak sekali orang berkerumun dan kendaraan-kendaraan yang diparkir di sisi jalan. Beberapa diantara mereka membawa kamera. Ada mobil polisi juga! Aku bertanya-tanya dalam hati.

Saat melihat Ferariku mendekat, orang-orang berkamera itu berlarian ke arah mobilku, berteriak, dan menggedor-gedor kaca mobilku.
”Itu putrinya! Mba Zee, apa komentar anda tentang …”

Aku membunyikan klakson keras-keras dan satpam bergegas membukakan gerbang untukku. Suasana di dalam gerbang lebih ramai daripada diluar. Tepat saat aku keluar dari mobil, Papa keluar dari rumah dengan tangan diborgol dan diapit oleh dua orang polisi.

“Zee! Maafkan Papa, nak!” Hanya itu kata-kata yang terucap dari lisannya sebelum dia dimasukkan ke dalam salah satu mobil tahanan.

Seroang wanita cantik bicara dengan microfon di depan kamera.
“Akhirnya Bapak Harris Surya Atmadja resmi menjadi tersangka atas tuduhan penggelapan uang negara sebesar dua trilyun rupiah dan di tangkap di kediamannya di kawasan Pondok Indah…”

Aku menghambur masuk ke dalam rumah. Dua pukulan bagai godam berat menghantamku sekaligus hari ini. Pengkhianatan oleh kekasih dan sahabatku dan Papaku yang ternyata seorang koruptor. Ternyata semua kekayaan dan kebahagiaan yang aku rasakan adalah semu.

Belum lama berselang ketika musibah pertama kali menghampiri kehidupanku yang terlihat sempurna. Yah, siapapun pasti iri melihatku. Cantik, kaya, pintar. Apapun yang kuinginkan bisa kudapat dalam sekejap..

Lima bulan yang lalu, kanker otak merenggut Mama dari kehidupanku selamanya. Saat itu aku sangat terpukul, tapi aku masih bisa bertahan sebab ada Papa dan Linggar yang selalu ada di sampingku untuk menghiburku. Tapi sekarang ? Linggar pergi. Papa pun pergi. Keduanya pergi dengan cara yang sangat menyakitkan.
Detik itu juga kuputuskan untuk segera menyusul Mama ke alam baka.

‘***

“Hey, berikan silet itu padaku!” Suaranya membuyarkan lamunanku. Aku menoleh. Ternyata dia sudah duduk di sampingku. Aku bergeming. Dia mengambil silet yang masih terselip dijerariku dan meleparkan sekuat tenaga ke tengah laut.

“Jangan suka ikut campur urusan orang!” Bentakku.

“Aku Niluh. Kamu siapa?” Dia mengulurkan tangannya seolah tidak memperdulikan kemarahanku. Entah kenapa, aku membalas uluran tangannya.

“Zee.” Jawabku singkat.

“Ok, Zee. Aku tak tahu kenapa kau ingin mati. Tapi satu hal yang aku tahu adalah bahwa senja ini teramat indah untuk dirusak oleh sesuatu yang hitam seperti kematian. Bersabarlah, kegelapan akan segera turun. Jika waktunya tiba, setiap orang pasti akan menghadapi kematian. Kamu tak perlu terburu-buru menyongsong kematian. Nikmati saja waktu yang tersisa sebelum kematian menjemput karena saat kita telah melewati gerbang itu, kita tidak akan pernah bisa kembali.” Logat Bali-nya tersamar diantara kata-kata bijak yang menghambur dari bibir tipisnya. Entah kenapa, kata-kata itu menelusup relungku.

Kuperhatikan Niluh lebih seksama. Dia gadis yang cantik. Rambutnya yang panjang – kontras dengan rambutku yang cepak - digelung dengan hiasan sekuntum bunga kamboja. Kulitnya putih bersih, tak seperti kebanyakan orang Bali yang berkulit coklat.

“Ngomong memang gampang!” Semburku. Niluh hanya tersenyum. Aku mengeluarkan sebatang rokok dan siap membakarnya, tapi dia menepisnya.

“Hey!” Teriakku.

“Senja ini terlalu murni untuk dicemari oleh asap beracun.” Ujarnya tenang. Ada sesuatu yang terpancar dari dalam dirinya yang membuatku tetap duduk.

“Zee…bersyukurlah bahwa Tuhan masih memberimu kehidupan hingga detik ini.” Niluh kembali berkata-kata. Matanya menatap jauh pada cakrawala yang berpendar

“Tapi kau tak akan bersyukur jika mengalami apa yang sedang aku alami.” Balasku.

“Tuhan tidak akan memberi cobaan pada manusia diluar batas kemampuannya.”

“Tapi Tuhan sangat kejam padaku!. Cobaan ini terlalu berat untuk ditanggung olehku.

“Tidak, Zee. Tuhan Maha Baik...”

“Seandainya aku mempunyai kepercayaan terhadap Tuhan, seperti kau percaya pada-NYA…”

Tiba-tiba Niluh merangkulku. “Aku akan menunjukkan kasih sayang-NYA padamu, Zee. Dengan ijin-NYA, dalam 17 hari, kau akan mempercayai-NYA seperti aku percaya pada-NYA. Semoga …”

‘***

Sejak saat itu, aku dan Niluh selalu bersama. Dia gadis yang menyenangkan dan tulus. Niluh membawaku ke tempat-tempat tersembunyi yang hanya diketahui olehnya. Bukit-bukit indah, danau-danau hening, sawah-sawah yang hijau.

Kami selalu melewatkan senja di Pantai Sanur. Duduk bersisian di tepi pantai, kadang sesekali ditimpali oleh percakapan, tapi kami lebih sering berdiam diri jika sedang menikmati senja. Sibuk bercakap-cakap dengan diri sendiri, berkelana dalam benak masing-masing.

Ada saat-saat aku menumpahkan semua beban padanya. Aku bercerita tentang kerinduan pada mamaku, berkeluh kesah tentang pengkhianatan kekasih dan sahabatku, juga kekecewaan pada papaku. Niluh mendengarkan dengan sabar dan memberi nasehat-nasehat yang membesarkan hatiku. Dia sangat dewasa padahal dia lebih muda dariku. Perlahan-lahan, kesedihanku terhapus dan jiwaku menjadi lebih tenang. Keinginan untuk bunuh diri memudar dan semangatku pelan-pelan bangkit kembali.

“Niluh, I think GOD sent you to be my guardian angel.” Ucapku. Tanpa terasa ini adalah senja ke 17 yang kami lewatkan di pantai ini. Niluh selalu menorehkan sebuah garis pada sebatang pohon pisang setiap kali kami hendak pulang ke rumah masing-masing.

Niluh hanya tertawa mendengarnya dan tak berkata apa-apa. Seharian ini dia lebih diam dari biasanya dan hanya mendengarkan ceritaku tentang masa-masa indah bersama Mama.

Dua minggu lewat aku mengenalnya, tapi tidak cukup tahu tentang hidupnya. Aku hanya tahu bahwa dia berdarah campuran Bali-Australia. Ayahnya orang Bali sedangkan ibunya berasal dari Australia. Hal ini menjelaskan tentang warna kulitnya yang putih. Hanya itu yang kau tahu tentangnya.

Ketika kami bersama, I am the center of attention. Yang dibicarakan selalu tentang aku. Masa laluku, mimpi-mimpiku, masa depanku, rencana-rencanaku, keluh kesahku, semua tentang aku. Betapa egoisnya. Besok, aku harus bertanya kepadanya tentang hidupnya. Aku ingin Niluh membagi kisah hidupnya seperti aku membagi kisahku padanya. Itulah yang dilakukan oleh dua orang sahabat. Take and give.

‘***

Pagi-pagi aku bangun dan bersiap menunggu kedatangan Niluh, seperti hari-hari sebelumnya selama aku di Bali. Dia selalu datang menjemputku di rumah dan kami akan berkelana seharian kemudian berakhir dengan menikmati senja di Pantai Sanur. Ritme yang sama selama 17 hari.

Matahari udah hampir sepenggalah, namun Niluh belum menunjukkan batang hidungnya. Kadang-kadang dia telat dari waktu perjanjian kami, dan sesudahnya dia selalu minta maaf berkali-kali. Lewat tengah hari, dia belum muncul juga. Aku memutuskan untuk pergi ke rumahnya. Aku pernah ke sana sekali dan berkenalan dengan badung-nya.
Rumah Niluh sunyi senyap. Aku mengetuk pintu namun tak ada jawaban. Kemudian, ayah Niluh muncul dari halaman depan.

“Zee…Lakar kija?’ Tanyanya.

“Niluh ada, Pak?” Balasku bertanya. Tiba-tiba kabut pekat seolah meliputi wajah lelaki Bali setengah baya itu.

“Kamu tidak tahu?” Selidiknya. Aku menggeleng.

“Duduklah…” Katanya

Lalu Ayah Niluh bercerita. Aku hanya mendengarkan samar-samar. Benakku bagai terombang-ambing ombak Laut Bali. Kesadaranku timbul tenggelam demi mencerna setiap kata yang meluncur dari bibirnya.

“Semalam Niluh meninggal dunia, tepat 17 belas hari setelah dokter memvonisnya dan memperkirakan sisa waktu hidupnya hanya tinggal 17 hari saja. Lihat, Zee ! Niluh mencoret kalender ini seolah dia menghitung berapa lama lagi waktu yang tersisa. Dan lihatlah lebih dekat. Dia menulis sesuatu disetiap tanggal-tanggal ini. “Bersama Zee.” Niluh, gadis mudaku itu harus menyerah pada leukemia…”

‘***

• badung = ayah (bahasa Bali)
• lakar kija = mau kemana (bahasa Bali)

1 komentar

  1. Saya pernah menmbaca cerpen yg mirip dengan jalan cerita ini sebelumnya. Sungguh sebuah kehidupan telah memberi pelajaran. Tapi kenapa ya, kalau orang mau dekat mati, selalu berlaku baik,,, heheheh...! Terus berkarya dan kau akan dikenang.

    BalasHapus