Cermin Berdarah






Cerpen ini dimuat di Majalah SAY! edisi Juli 2010

Cermin Berdarah
Oleh Dwi Indarti


Al melempar batu kerikil sekuat tenaga ke tengah sungai. Dia mencopot sepatu dan membiarkan kakinya terendam sampai betis. Dia berharap air sungai itu bisa mendinginkan kakinya yang panas setelah berjalan kaki selama satu jam dari sekolah. Al juga berharap rasa dingin menjalar merasuki hati dan kepalanya yang sedang panas membara.

“Memangnya cewek seperti aku gak boleh suka sama cowok seperti Ron?!” Al memungut sebuah kerikil yang agak besar dan melemparnya ke tengah sungai. Kali ini, lemparannya tidak cukup jauh sehingga dia terkena sedikit cipratan air sungai. Al menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan-lahan. Ingatannya kembali melayang pada peristiwa beberapa jam yang lalu di sekolah.




‘***

“Ups! Sorry! Gak sengaja!” Brenda, ketua cheerleader SMA Cahaya berdiri bersama teman-teman gank-nya mengelilingi Al. Segelas es teh yang sebagian isinya telah membasahi baju seragam Al diacungkan dengan sikap menantang. Al tersentak kaget. Sebelumnya dia tak menyadari kehadiran Brenda dan teman-temannya. Al tetap duduk. Dia tidak berani berdiri menghadapi Brenda dan teman-temannya.

“FYI, cowok yang sedang elu pelototin itu adalah cowok terkeren di sekolah ini. Kalau elu belum tahu, cowok keren itu adalah pacar gue! Dan gue gak suka kalau ada yang ngeliatin cowok gue seperti hewan lapar. Jangan mimpi untuk bisa membuat dia tertarik sama elu! Gue rasa, Ron bahkan gak tahu kalau elu ada di dunia ini. Ha ha ha…” Brenda terbahak-bahak diikuti teman-temannya.

Al tetap diam di tempat duduknya. Dia merasa kerumunan orang di sekitarnya semakin membesar. Rasa dingin akibat siraman air es di badannya bercampur rasa panas yang menjalari wajahnya. Dia ingin sekali bisa menghilang seketika dari tempat itu. Tapi Al tidak berani berbuat apapun selain menunduk dalam-dalam.

Untunglah saat itu bel tanda istirahat usai bergema di seantero sekolah. Satu per satu para siswa membubarkan diri dan kembali ke kelas masing-masing. Brenda dan gank-nya masih berdiri mengelilingi Al.

“Awas! Kalau sampai kepergok lagi ngeliatin cowok gue, bukan cuma es teh yang akan menempel di badan lu! Tapi air comberan! Sekarang, pergi dari sini! Cepat jalan!” Perintah Brenda.

Al ragu-ragu. Tapi salah seorang teman Brenda menariknya berdiri dan mendorongnya agar dia berjalan. Akhirnya, Al berjalan meninggalkan cewek-cewek cheerleader yang terbahak-bahak di belakangnya.

Al menangis. Sebelum dia berbelok masuk ke kelasnya, sekilas dia melihat Brenda menghampiri Ron dan menyeka keringat yang membasahi wajah cowok tampan itu. Al semakin sedih.

Sudah dua minggu ini, sosok Ron membuat tidurnya gelisah. Cowok jangkung ketua tim basket itu memang tampan. Tapi, bukan hal itu yang membuat Al jatuh hati, melainkan kebaikan hati Ron.

Dua minggu yang lalu, Ron menolongnya saat dia terjatuh di jembatan dekat sekolah. Itulah pertama kali Al berinteraksi dengan Ron meskipun mereka satu angkatan. Al diterima di SMA Cahaya yang mayoritas dihuni oleh anak-anak orang kaya karena beasiswa prestasi yang diperolehnya. Al adalah gadis yang sangat cerdas.

“Hati-hati, ya. Kamu Al, kan?” Suara barito Ron terdengar lembut di telinga Al saat dia membantu Al berdiri sambil menyerahkan tasnya.

Dia tahu namaku. Al membatin.

“Kok tahu?” Al memberanikan untuk membuka suara.

“Siapa yang gak tahu cewek yang menjadi juara umum satu sekolah selama dua tahun berturut-turut?” Jawaban Ron membuat Al seperti melayang di udara. Mereka kemudian ngobrol sambil berjalan menuju sekolah sebelum Ron dipanggil oleh teman-teman tim basketnya. Ron melambaikan tangan perpisahan seraya berpesan agar Al berhati-hati.

Aku bahkan belum mengucapkan terima kasih kepadanya. Bodohnya aku! Al meruntuk dalam hati menyesali kebodohannya.

Dia ingin mencari kesempatan untuk bisa berbicara lagi dengan Ron, tapi tampaknya mustahil. Ron adalah cowok super sibuk dan sangat populer di sekolah. Orang tua Ron adalah penyumbang dasa terbesar untuk Yayasan. Al tidak berani mendekati Ron.

Sejak kejadian itu, setiap istirahat, Al duduk di pinggir lapangan sambil membawa buku. Tapi buku yang dia bawa sama sekali tidak dibuka. Matanya terpaku menatap Ron yang sedang bermain. Rupanya, hal ini sangat menggangu Brenda, pacar Ron.

‘***

Al kembali memungut sebuah kerikil. Dia melempar asal-asalan saja.

Tringg...kerikil yang dia lempar membentur sesuatu. Al menoleh ke arah suara itu. Dia melihat sebuah benda berkilauan ditimpa cahaya matahari. Al memungut benda itu dari tepi sungai. Ternyata sebuah cermin.

Cermin itu berbentuk oval dengan gagang dan bingkai dari besi yang berat. Lumpur menempel di sekeliling cermin itu, tapi kacanya masih baik dan tak ada retakan sama sekali. Al bisa melihat pantulan wajahnya dengan jelas.

Tanpa pikir panjang, Al memasukkan cermin itu ke dalam tasnya. Setelah itu, dia memakai kembali sepatunya, meraih kruk menyangga yang tergelatak di sampingnya, kemudian berjalan tertatih-tatih menuju rumahnya yang terletak tak jauh dari sungai itu.

‘***

Malam itu, Al tak bisa konsentrasi belajar padahal besok ada ulangan fisika. Peristiwa tadi siang masih jelas teringat di benaknya. Rasa rindu ingin kembali bercakap-cakap dengan Ron bercampur aduk dengan rasa benci yang dirasakan terhadap Brenda.

Al melemparkan diri ke atas tempat tidur. Dia benar-benar tidak bisa menghapal rumus-rumus fisika yang mungkin keluar besok. Dia meraih cermin yang tergeletak di meja samping tempat tidurnya. Al sudah membersihkan cermin itu tadi siang. Kini, cermin itu tampak mengkilat dan sangat indah. Bingkai dan gagang cermin itu berwarna emas.

Al memandangi pantulan wajahnya di cermin itu. Dia sebenarnya cantik. Dengan wajah oval dan rambut ikal serta kulit hitam manis, Al tak kalah cantik dibandingkan dengan anak-anak cheerleader. Al tak pernah dandan dan jarang memakai bedak. Tak seperti Brenda yang selalu tampil stylish dan modish lengkap dengan make up wajah setiap ke sekolah. Al cantik. Hanya saja, dia cacat sejak lahir.

Kaki kiri Al lebih kecil dari kaki kanannya. Untuk berjalan, dia harus menggunakan kruk penyanggah. Kalau tidak, dia tidak bisa berjalan sama sekali. Hal ini yang membuat Al rendah diri meskipun orang tuanya bangga karena Al mempunyai otak yang sangat cerdas.

Al terus menatap bayangan wajahnya pada cermin indah itu. Benaknya mengulang perlakuan Brenda kepadanya tadi siang. Tiba-tiba rasa benci yang teramat dalam menguasai dirinya dan membuat dadanya bergemuruh.

“Aku benci Brenda! Aku ingin dia mati berdarah-darah!” Suara Al seperti berbisik kepada bayangan dirinya di cermin itu.

“Meeeooong….braak…!!!” Al tersentak dan melihat keluar jendela kamarnya. Seekor kucing rupanya melompat dari atas genteng rumahnya.

“Aku juga benci kucing bu Onah! Dia selalu mencuri makananku. Aku ingin dia mati terjerat kawat berduri di pagar!!!” Al kembali menatap bayangan wajahnya pada cermin itu. Sekelebat, dia melihat seberkas sinar merah pada pupil matanya. Namun begitu dia mengerjapkan mata, berkas sinar itu telah hilang dan matanya tampak normal. Al meletakkan cermin hati-hati di samping bantalnya. Kemudian dia tertidur.

Pagi harinya, Al terbangun dan mendapati cermin itu bernoda darah dan ada bulu-bulu bertebaran di kacanya. Al heran tapi dia tak peduli. Dia sudah kesiangan. Ulangan fisika jam pertama. Setelah pamitan pada orang tuanya, dia segera bergegas ke sekolah.

Sampai di ujung jalan, dia melihat beberapa orang berkerumun. Dia mendengar salah seorang berkata,

” Kasihan sekali kucing bu Onah. Kucing itu terjerat kawat berduri di lehernya dan tak ada seroang pun yang melihat untuk menolongnya. Mungkin dia menggelepar-gelepar sebelum mati. Bulu-bulunya rontok karena teriris kawat berduri.”

Al terkesiap, tapi dia tak menghentikan langkahnya. Dia terus menuju sekolah.
Sampai kelas, Al gelisah. Belum pernah dia merasa tidak siap menghadapi ulangan. Tak lama kemudian, Pak Andre masuk.

“Anak-anak, ulangan hari ini dibatalkan. Teman kita, Brenda, meninggal dunia semalam karena kecelakaan mobil. Nyawanya tak tertolong sebab dia mengalami pendarahan hebat di kepalanya. Para guru akan melawat ke rumah duka. Bagi siswa yang ingin ikut, dipersilahkan.”

Al tergugu. Dia ingat apa yang dia ucapkan di depan cermin semalam. Dia tidak ikut rombongan penyelawat, melainkan segera pulang. Dia segera mengeluarkan cermin itu dari laci mejanya.

Bayangan wajahnya di cermin itu memandang dengan sorot ketakutan. Tapi, perlahan-lahan, bayangan wajahnya tersenyum. Bukan. Itu bukan senyum. Melainkan sebuah seringai kepuasan. Pupil matanya merah. Bayangannya di cermin itu tiba-tiba berbicara.

“Aku puas cermin! Dua hal yang kubenci sudah mati!”

Al terpekik. Itu bukan suaranya! Dia bingung tapi kemudian menyimpan cermin itu di bawah tumpukan pakaian di lemari. Al tak menceritakan hal ini kepada siapapun.

‘***

Seminggu setelah Brenda meninggal, suasana sekolah kembali seperti semula. Al kembali pada kebiasaanya memperhatikan Ron dari pinggir lapangan setiap kali cowok itu bermain basket. Kali ini, Al merasa lebih percaya diri. Dia berharap Ron akan mengenalinya dan mengajaknya ngobrol. Akhirnya kesempatan itu datang saat bola basket menggelinding ke tempat Al duduk dan Ron yang mengambil bola itu.
Al memungut bola itu dan dia menyerahkan kepada Ron sambil tersenyum manis.

“Ron, terima kasih, ya karena nolongin aku tempo hari. Kapan-kapan kita jalan bareng, yuk!?” Al berbicara cukup keras sehingga beberapa orang yang mendengarnya menoleh.

“Yeah, whatever! Jalan bareng? In your dream, wierd!” Ron merebut bola dari tangan Al dan berlalu begitu saja. Al mendengar beberapa anak terkikik geli. Secepat kilat dia pergi dari sana dengan terpincang-pincang, namun kruk-nya terantuk bangku sehingga membuatnya jatuh. Anak-anak menertawakannya.

Al malu sekali. Dia tak habis pikir kenapa Ron bersikap sangat berbeda dari yang dulu. Atau, mungkin dia saja yang merasa ke GR-an? Yang pasti, sekarang Al sangat membenci Ron.

Malam itu, tak sengaja dia mengeluarkan cermin yang di simpan di bawah tumpukan pakaian ketika dia mencari handuk. Ditatapnya bayangan wajahnya pada cermin itu. Lalu dia berbisik.

“Aku benci Ron. Aku ingin dia mati tenggelam.!”

Esoknya, Al mendapati cermin itu basah. Ibunya menghampiri dengan tergopoh-gopoh.

“Almaira…ayo kita ke sungai. Ada orang mati tenggelam di sana.”

Jantung Al berdebar keras, tapi dia tetap mengikuti ibunya menuju sungai. Orang-orang berkerumun di samping kantung mayat yang belum di tutup.

“Kasihan sekali, masih muda dan ganteng! Sepertinya dia jatuh bersama motornya dan mati tenggelam tertindih motor.”

Al menyeruak kerumunan itu dan melihat wajah si mayat. Ron! Al memekik lalu pingsan.

‘***

“Al, kamu baik-baik saja, nak?” Al membuka mata dan melihat ibunya sedang mengusap-usap dahinya. Dia berbaring di kamar.

“Yang meninggal itu teman sekolah kamu, ya? Pantas saja kamu shock sampai pingsan. Sabar, ya, Al. Sekarang kamu istirahat dulu, ya…”

Setelah ibunya keluar kamar, Al segera bangkit dan mengeluarkan cermin dari dalam laci. Bayangannya kembali menyeringai dan pupil matanya merah.

“Aku puas cermin. Orang yang aku benci sudah mati! Aku adalah pembunuh” Itu bukan suaranya.

“Aku bukan pembunuh! Kau pembunuh, cermin! Bukan aku!”

Bayangan dalam cermin berkata lagi

“Ya, kaulah pembunuh teman-temanmu. Kau memberitahuku keinginan jahat yang tersimpan jauh di hatimu. Lalu aku memberimu kekuatan untuk bisa mewujudkan semua keinginan jahat itu. Tanpa sadar, malam itu kau menyebar paku-paku di jalan yang akan dilalui mobil Brenda sehingga ban mobil pecah dan menabrak pohon. Lalu kau menangkap kucing bu Onah dan mengikat lehernya di kawat berduri. Dan semalam, kau melempar dahan kayu untuk mengagetkan Ron yang sedang bermotor di pinggir sungai sehingga dia jatuh ke sungai dan mati tenggalam. Kau lah pembunuh itu, Al! Ha ha ha!!!!”

“Tidak…Tidak…aku bukan pembunuh. Aku harus menghancurkanmu, cermin!” Al mengambil batu besar dari halaman dan menghantamkan bertubi tubi ke cermin itu. Tapi aneh, cermin itu tidak pecah. Bahkan tidak retak sama sekali.

Al sangat takut. Bayangan dirinya di cermin itu terus menyeringai dan tertawa. Al panik. Akhirnya dia membungkus cermin itu dan membawanya keluar.

“Hei…kau mau bawa aku kemana?!” Suara bayangannya menjerit jerit dalam bungkusan.

“Aku harus menghancurkanmu!” Jawab Al

“Aku tidak bisa dihancurkan, gadis bodoh! Aku adalah cermin darah keramat! Aku dibuat oleh tetesan darah sang maha putri yang meniupkan ruh jahatnya dalam bingkaiku ratusan tahun yang lalu. Lagipula aku telah menolongmu membinasakan semua yang kau benci!”

“Tapi aku bukan orang jahat! Dan aku tidak akan pernah menjadi orang jahat. Kau harus disingkirkan. Aku akan membuatmu diam selamanya di dasar sungai!”
Setiba di pinggir sungai, Al mengumpulkan batu-batu besar dan menaruhnya di atas cermin. Lalu dia membungkusnya. Kemudian dia naik ke jembatan yang ada di atas sungai itu.

“Jangan pernah timbul ke permukaan lagi dan menebarkan kejahatan. Diamlah selamanya di dasar sungai yang dalam, ruh jahat!” Al menjatuhkan bungkusan itu.

Bungkusan itu tercemplung dan segera tenggelam ke dasar sungai. Al terduduk lemas di jembatan. Dia merasa sangat merana, tapi dia sudah lega, sebab sumber kejahatan telah di singkirkan untuk selamanya. Dia berjalan pulang sambil tertatih-tatih menyandang kruk.

‘***

Beberapa bulan kemudian. Beberapa puluh kilo meter jauhnya dari rumah Al.

“Hey..lihat…aku menemukan bungkusan!” Seorang anak laki-laki meraih bungkusan dari tepi sungai.

“Buka…buka…buka…!!!” Teriak temannya kegirangan. Mereka membuka bungkusan itu.

“Cermin!”

“Buatku saja…!”

“Tidak bisa…ini punyaku! Aku yang menemukannya! Cermin yang bagus!” Kata si anak laki-laki memandangi cermin itu. Tiba-tiba dia berbisik pada cermin itu.

“Aku benci bapak. Aku ingin dia mati bunuh diri…”

‘***

Tidak ada komentar