Tunggu Bunda, Val


Ini cerpen pertama gw yang dimuat di majalah SEKAR edisi no 15/09 tanggal 7 Oktober 2009.
Tunggu Bunda, Val …
Oleh E.D

Rasa bahagia menyelimuti hari-hari ku dan Zack, suamiku. Kami tengah menanti detik-detik kelahiran anak pertama. Penantian akan hadirnya malaikat kecil dalam kehidupan rumah tangga kami setelah lima tahun usia pernikahan akhirnya berbuah manis. Usia kandunganku kini memasuki bulan kedelapan. Aku mendapat perhatian yang melimpah dari Zack, agak berlebihan sebenarnya, namun aku sangat menikmatinya. Perhatian dalam bentuk sms atau telephone pun gencar dia berikan. Bukannya dia tidak perhatian sebelum aku mengandung. Zack adalah seorang lelaki dan suami yang sempurna bagiku. Namun, perhatian dan curahan kasih sayangnya melimpah dua kali lipat sejak mengetahui aku positif hamil. Satu untukku, dan satu untuk malaikat kecil yang sedang meringkuk di rahimku, begitu ujarnya suatu kali.





“Ingat Beib, jangan stress ya. Jangan telat makan siang. Jangan terlalu capek. Limpahkan saja semua tugas-tugasmu pada Isma, sekretarismu itu. Toh kamu akan cuti melahirkan seminggu lagi.” Seperti biasa Zack membacakan daftar panjang larangan yang sudah terprogram di kepalanya sebelum melepasku turun dari mobil di depan gedung kantorku.

“Trus, aku ngapain dong, say ? Aku gak mau makan gaji buta.” Ujarku sambil pura-pura memasang wajah cemberut.

“Just take care of our baby. That’s your main duty right now !” Ughr, Zack sudah mengeluarkan ultimate dalam bahasa ‘urdu’ dan aku menjadi speechless. Ku kecup bibirnya – ups, semoga pak satpam tidak melihat kami – dan Zack membalasnya kemudian mengecup perutku.

“Dede, temanin bunda kerja ya. Jangan tendang perut bunda keras-keras, pelan-pelan saja. We love you.” Kata-kata Zack membuatku tersenyum.

“Take it easy, Honey. Everything will be just fine. I’ll see you soon. Bye !” Ujarku seraya melangkah turun karena pak satpam sudah membukakan pintu mobil untukku.

Kulambaikan tangan pada Zack sebelum membalikkan badan berjalan menuju lift naik ke kantorku di lantai 15. Aku tersenyum-senyum sendiri mengenang kisah cintaku bersamanya.

Zack dan aku bertemu di kampus UI saat aku di semester empat Fakultas Sastra Inggris, sedang Zack adalah mahasiswa semester akhir Fakultas Ilmu Komunikasi jususan Jurnalistik dan Broadcasting. Zacky Wayana Axelle, begitu nama lengkapnya. Nama yang sangat tidak umum.

“Axelle itu artinya sumber kehidupan, diambil dari bahasa Prancis.” Begitu ujarnya ketika aku bertanya tentang namanya yang aneh. Zack adalah anak seorang diplomat. Dia lahir dan menghabiskan masa kecilnya di Prancis sebelum kembali ke Jakarta pada usia 10 tahun. Walaupun berasal dari keluarga kaya, namun Zack sangat low- profile. Salah satu hal yang membuat aku jatuh cinta kepadanya selain wajahnya yang kata orang mirip Ricardo Kaka, bomber kesebelasan AC Milan itu. Love at the first sight terjadi pada kami. Pertemuan di perpustakaan kampus menjadi awal hari-hari penuh cinta. Aku adalah Isabella Swan baginya, dan dia adalah Edward Cullen bagiku. Setelah lima tahun berpacaran dan kami telah memiliki pekerjaan tetap - aku bekerja sebagai Asisten Direktur Utama sebuah perusahaan asing dan Zack bekerja sebagai Chief Editor sebuah surat kabar terkemuka -, akhirnya kami melabuhkan cinta suci di pelaminan.

Namun kehidupan kami tidaklah sempurna. Ujian kesabaran dalam menanti buah hati kami jalani bersama. Berbagai upaya telah kami tempuh untuk mendapatkan seorang bayi mungil buah cinta kami. Dan akhirnya penantian itu akan segera berakhir.
“Ting !” Pintu lift terbuka di lantai 15 membuyarkan lamunanku.
***
“Dia akan menjadi bayi yang cantik, seperti ibunya.” Ujar dokter Kamila sambil duduk di balik meja kerjanya. Dokter cantik itu terlihat anggun dan feminim dalam balutan jas putih. Tak tampak sama sekali sosok seorang wanita penakluk puncak gunung. Setahun sekali, Kamila mengharuskan dirinya mengambil cuti sebagai seorang dokter kandungan dan berubah menjadi seorang pendaki gunung yang ulung. Sungguh perpaduan yang unik, cantik, pintar, kuat, berani dan lembut. Ah, sungguh bodoh para lelaki yang tak dapat melihat semua kelebihan wanita super ini, hingga sampai saat ini Kamila masih melajang. Dokter Kamila adalah kawan kami semasa kuliah. Sama-sama anak UI. Dia anak kedokteran lalu melanjutkan study-nya ke spesialis dokter kandungan. Semasa kuliah dulu, aku cukup aktif di senat sehingga punya banyak teman dari berbagai fakultas yang berbeda.

Sore itu aku dan Zack mengunjunginya untuk pemeriksaan rutin kehamilan.
“Zack, bantu aku ya ! Vita jangan sampai terlambat makan. Aku khawatir penyakit maag kronisnya akan mempengaruhi kesehatan janin.” Ujarnya sambil tersenyum menampilkan lesung pipit di kedua pipinya.

“Oh…pasti Dok !” Jawab Zack dengan lantang sambil melemparkan senyum genit kepadaku. Hah ! Aku tahu Kamila cari aman. Dia tahu betul kondisi kesehatanku dan tahu betul kalau aku akan sewot bila dia terlalu cerewet mengingatkanku untuk makan.
“Dok ? Sejak kapan kamu panggil aku dok, Zack? Aku tahu kalian berdua sedang gembira bercampur gugup. Tenang saja. Sejauh ini semua baik-baik saja. Bayi kalian sehat. Aku hanya agak menghawatirkan penyakit maagnya Vita. Tapi semua bisa teratasi. Banyaklah berdoa.” Tutur Kamila.

“Kalau di luar aku panggil kamu Mila. Tapi di dalam sini aku tetap panggil kamu dokter karena kau adalah dokter kami. Profesional, lah ! Aku percayakan Vita dan bayiku kepadamu, sebab, sebagai sabahatnya kau pasti lebih tahu tentang dia. Vita memang agak keras kepala, tapi dia sudah mulai melunak dan patuh, kok. Kan, dia akan segera menjadi ibu yang paling cantik sedunia.” Zack membelai kepalaku.Aku hanya bisa nyengir. Oh, Zack, kau tak tahu betapa besar cintaku padamu dan betapa bahagianya aku saat ini. Seorang bayi perempuan akan segera melengkapi kebahagiaan ini.

Bayi perempuan yang memang sangat dinanti-nantikan, tidak saja oleh kami berdua melainkan oleh keluarga besar. Di keluarga suamiku, cucu perempuan memang sudah lama dinantikan. Kedua kakak perempuannnya memiliki anak yang semua berjenis kelamin laki-laki. Lima pendekar kecil itu rupanya belum memuaskan Papa dan Mama mertuaku. Keinginan hadirnya putri kecil dalam garis keturunan cucu sangat mereka dambakan. Sedang bagi kedua orang tuaku, ini adalah cucu pertama mereka. Jadi, mereka tidak terlalu mempersoalkan jenis kelamin. Sebagai anak tunggal mereka, papa dan mamaku hanya menginginkan aku, suami dan bayiku sehat dan bahagia.
***
Semua perlengkapan bayi telah disiapkan, nuansa pink menjadi tema untuk kamar bayi kami. Pernak pernik lucu menghiasi setiap sudut. Dokter Kamila memprediksi persalinanku minggu depan, awal bulan Juli.

“Jaga kesehatan kamu ya, Vit. Ingat, aku prioritaskan kamu untuk melahirkan secara normal.” Pesannya kepadaku saat terakhir kali aku check-up.
***
Ternyata prediksi dokter Kamila tepat. Hari minggu jam delapan malam aku merasakan mulas yang tidak biasa, nyeri dan rasa sakit yang maha dahsyat. Air ketubanku pecah. Sudah pembukaan dua. Dengan sigap Zack menuntun dan menenangkanku selama perjalanan menuju rumah sakit. Dokter Kamila segera dihubungi dan telah siap menyambutku. Papa dan Mama mertua yang sudah seminggu menginap di rumah kami ikut serta. Papa dan Mamaku segera menyusul ke rumah sakit. Perjalanan yang menegangkan. Penantian yang mendebarkan dan kegembiraan yang berbalut rasa khawatir menguar di dalam ruang bersalin. Aku merasakan sakit yang luar biasa. Belum pernah aku merasakan sakit seperti ini seumur hidupku.

Aku berusaha menahan jeritan, namun tidak kuat. Zack terus berada di sampingku memegang erat tangan kananku. Saking kuatnya cengkraman tanganku pada Zack, sempat ku lihat dia meringis kesakitan. Namun sakit yang aku rasakan membuatku tidak bisa berpikir. Berulang ulang Zack menghapus keringat dan air mata yang bercampur di wajahku.

Melihat kondisiku yang lemah, akhirnya operasi cesar yang dipilih. Dokter Kamila tidak mau mengambil resiko, begitu pula mertuaku tidak mau ambil resiko kehilangan cucu perempuan pertama. Aku pasrah saja walaupun aku sangat ingin merasakan persalinan normal.

Jam 2 dini hari bayi perempuan mungil lahir ke dunia ini. Euforia penuh suka cita pecah di luar kamar bersalin menyambut bertambahnya makhluk Tuhan ke muka bumi. Putri pertama yang telah lama dinantikan akhirnya keluar dari rahimku. Perjuangan antara hidup dan mati telah aku tunaikan, rasa sakit dan mulas yang tadi aku rasakan, lenyap sudah ketika bayiku yang masih berlumur darah itu diletakkan tepat diatas payudaraku. Inisiasi dini, begitu istilah dokter. Namun ada yang tidak wajar. Bayiku tampak biru. Dokter segera mengambilnya dari pelukanku dan membawanya ke ruang incubator.

Zack yang terus mendampingi perjuanganku tak mampu berkata banyak. Hanya dari raut wajahnya, ku lihat ketegangan masih menggelayutinya. Setelah beberapa saat dokter Kamila menjelaskan bahwa putriku menelan air ketuban cukup banyak sehingga menimbulkan infeksi pada saluran pernafasan. Juga kelainan jantung. Putriku dalam kondisi yang krisis.

Kedua orang tua dan mertuaku memohon kepada dokter agar cucu mereka bisa diselamatkan. Rasa khawatir mulai timbul manakala ditemukan infeksinya sudah meradang. Jantungnya pun sangat lemah. Kegembiraan yang sempat muncul berganti kepanikan dan ketegangan. Aku hanya bisa menangis dan menangis seraya berdoa semoga putriku bisa melalui fase krisis ini.

Tiga hari kemudian kondisiku sudah kembali normal. Jahitan bekas operasi Cesar sudah mengering. Aku diperbolehkan melihat malaikat kecilku dari balik kaca. Hatiku seperti diremas-remas melihat kondisi bayiku yang berada di incubator. Ibu mana yang yang tidak remuk hatinya melihat bayi yang telah lama dinantikan harus lahir dengan penyakit yang telah meradang, Ibu mana yang tidak meneteskan air mata menahan rindu untuk menimang malaikat kecilnya.

Zack jauh lebih sedih, sejak Valerie— begitu dia memberi nama malaikat kami—terlahir dan diketahui mengidap infeksi. Valerie berasal dari bahasa Latin, yang artinya kuat. Itu adalah doa dan harapan kami. Zack menjadi sangat diam, namun tetap berada di sampingku. Tak banyak yang bisa kami lakukan. Kerabat, teman dan handali taulan datang silih berganti memberi dukungan moral dan doa.

Manusia hanya berusaha, namun kehendak Tuhanlah yang pasti terjadi Rupanya Tuhan lebih menyayangi malaikat kecilku. Setelah tujuh hari di incubator, infeksi pernafasan Valerie bertambah parah dan pada akhirnya malaikat kecilku menyerah. Surga telah menantinya. Aku tak kuasa menerima kenyataan itu hingga berkali-kali tak sadarkan diri. Rasanya seperti berada di antara langit dan bumi. Aku bermimpi menggandeng seorang gadis kecil yang mengenakan gaun putih bersih dengan rambut panjang berpita putih. Gadis itu menarikku ke sebuah gerbang. Setibanya di pintu lengkung gerbang putih , gadis kecil bermata biru cemerlang itu menatapku.

”Bunda gak bisa ikut Val masuk. Belum waktunya. Nanti, jika tiba saatnya, Val akan menunggu bunda di pintu surga ini. Val suka sekali di sini. Bunda jangan sedih, ya.”
Mimpi itu membangunkanku dari ketidaksadaran yang cukup lama. Aku kembali terhempas ke dunia fana ini. Aku mulai berusaha menerima apa yang telah terjadi. Aku harus kuat. Aku tidak boleh tenggelam dalam kesedihan terutama karena Zack ternyata menerima kenyataan ini jauh lebih buruk dariku. Ya, Zack suamiku menderita depresi berat dan harus di tangani seorang dokter kejiwaan.

Aku harus kuat. Demi Zack. Demi orang tua dan mertuaku. Dan demi Val. Dia telah bahagia di sana. Tuhan sangat menyayanginya sehingga DIA tidak rela membiarkan malaikat kecilku tercemar polusi dunia yang kotor ini. Val putih, bersih, dan suci dari semua debu dosa. Ku berharap Val mengenali aku, bundanya, saat kami bertemu nanti.

Aku telah memiliki seorang malaikat yang akan menungguku di pintu surga. ”Val sayang, tunggu bunda di pintu surga ya, nak….”


Jakarta, 10.06.09
16.04 WIB / 23.05 WIB

Tidak ada komentar