

Ini cerpen asli gw sendiri yang pertama kali di muat. Majalah HAI edisi khusus SEX No 09 tanggal 7 Maret 2010
Suara-Suara di MCK 13
Oleh Dwi Indarti
“Gooool…!!!” Teriakan penonton di lapangan footsal indoor stadion membahana. Rijal berlari mengelilingi lapangan. Tiba-tiba puluhan bola meluncur ke arah Rijal dan menghantam perutnya bertubi-tubi.
“Auuooww!” Rijal menjerit dan membuka matanya. Ternyata cuma mimpi. Tapi perutnya benar-benar sakit. Rasanya melilit-lilit. Rijal segera berlari ke kamar mandi.
“Ya, ampun, gue lupa! Kamar mandi lagi dibongkar. Duh, gimana nih? Udah gak tahan lagi!” Rijal kalang kabut. Tangan kanannya mencengkram perut dan tangan kirinya memegang pantat. Tergopoh-gopoh dia membuka pintu depan dan langsung ngacir. Dia sempat melirik jam dinding digital di ruang tamu. 02.05 wib. Rijal berlari kencang. Hanya satu tempat yang ada di kepalanya, yaitu MCK 13 dekat rumahnya. Tanpa menoleh kiri kanan, dia lari ke ujung gang, melewati pos hansip yang sepi, lalu pos RW yang gelap dan sampailah di MCK 13.
Rijal langsung masuk ke salah satu biliknya.
“Huuahhhh...” Rijal menyeka keringat dingin yang membanjiri tubuhnya. Perutnya benar-benar sakit. Seperti ada blender yang sedang mengaduk-aduk di dalam. Ini pasti gara-gara 20 biji cabe rawit merah yang dia makan tadi sore.
“Brengsek tuh, anak-anak! Tunggu pembalasan gue…!” Rijal mengulang kejadian tadi malam dalam benaknya.
“Oke, saatnya beraksi! Kita harus menang! Kita tunjukin ke anak-anak komplek orang kaya itu, kalo kita gak bisa dipandang sebelah mata! Mereka udah berani nantangin GOCAPAN. Gerombolan Cowok Pasar Nangka! Mereka jual, kita beli!” Rijal memberi semangat kepada teman-temannya di ruang ganti footsal Indoor stadion. Malam itu, tim footsal anak Pasar Nangka yang digawangi oleh cowok berambut keribo, Rijal Murojal, akan bertanding melawan tim footsal anak komplek perumahan elit.
“Jal, elu yakin mau pasang Rudi jadi kiper?” Bisik Abel sambil melirik Rudi. Rudi, anggota paling junior di tim footsal itu duduk di sudut paling jauh dari yang lain, tampak gugup.
“Yakin! Gue punya feeling kalo gue harus pasang Rudi jadi kiper malam ini. Elu liat dong postur badan tuh anak, gede banget! Umurnya baru 13 tahun, tapi body-nya segede Dida, kiper AC Milan! Badannya doang bisa nutupin mistar gawang!” Jawab Rijal mantap.
“Iye…tapi dia lemot banget! Mending elu pake si Asep yang udah bagus permainannya. Kasian noh! Si Asep pengen banget main lawan anak-anak komplek elit itu.” Timpal Ahong.
“Gue udah ngomong ke Asep kalau gue mau kasih kesempatan sama Rudy malam. Lagian kita perlu re-generasi. Asep udah sering jadi kiper.” Kata Rijal. Anak-anak yang lain diam dan menatapnya tajam penuh selidik. Rijal tahu mereka gak bisa dibohongin.
“He he he…sebenarnya gue udah diwanti-wanti sama Pak RT. Dia pengen anaknya yang jadi kiper malam ini. Gue gak bisa nolak permintaan Pak RT. Ntar kalau dia gak mau bikinin gue KTP tahun depan, bisa berabe masa depan gue!” Rijal garuk-garuk kepala sambil nyengir. Temen-temannya cuma bisa melengos, mendengus dan mencibir.
“Udah, tenang aja. Kalo sampe kita kalah, gue sebagai kapten tim, bersedia makan 20 biji cabe rawit merah!” Kata Rijal mantap.
Akhirnya, GOCAPAN kalah telak. 6-1. Usai pertandingan, Rijal diadili seperti maling ayam kesiangan. Dia duduk dikelilingi teman-temannya, menghadapi 20 buah cabe rawit merah dan sepotong tahu goreng kecil.
“Airnya, mana?” Rijal memasang muka memelas.
“Gak pake air!” Bentak Dedi.
“Tahu-nya tambah lagi, dong. Masa cuman satu?” Rijal berusaha melobby. Tapi lima pasang tangan terkepal yang berbaris di depan wajahnya adalah jawaban mutlak untuk kata TIDAK.
“Iye..iye..gak perlu marah-marah gitu, dong. Ini kekalahan Tim. Kita harus mengakui keunggulan tim lawan. Gak heran, mereka anak-anak orang kaya. Punya lapangan sendiri, punya pelatih professional jebolan Timnas. Lah, kita? Mau latihan aja susah. Tanah kosong tempat latihan kita baru dipagarin tembok. Katanya mau dibangun Mall. Tapi, sebenarnya permainan kita cukup bagus, kok. Dan kita seharusnya bisa memperkecil score kekalahan, kalau si Markus gak kena perangkap offside sampe empat kali. Terus…”
“Diaaaaam! Jangan ngomong terus! Kita semua tahu siapa biang keladi kekalahan malam ini. Sayang si Rudi anak masih SMP dan anaknya Pak RT! Kalo gak, udah gue gibeng! Mau main bola apa mau cari cewek! Matanya kagak ngeliatin bola datang, tapi melotoin cewek bahenol yang dudul deket gawang! Dan biang keroknya adalah elu yang ngotot mau pasang anak ingusan! Sekarang, buktiin omongan elu sendiri!” Dedi yang angkat bicara.
Rijal menyerah. Dia harus sportif. Akhirnya dengan susah payah, Rijal menelan satu per satu cabe rawit merah.
“18, 19, 20!” Teman-temannya bersorak saat Rijal menelan rawit terakhir dengan muka merah dan bibir jontor. Dia basah kuyup oleh keringat dan setengah teler sehingga harus di bopong teman-temannya pulang.
Sepanjang malam, Rijal merasakan penderitaan yang sangat perih. Perutnya panas membara dan seperti diremas-remas. Rijal gak mau bilang ke emak. Dia tahu, emak akan membuatnya lebih menderita kalau tahu apa yang dilakukan anak semata wayangnya. Diam-diam, Rijal minum dua butir obat sakit perut. Lumayan, sakit perutnya hilang dan dia bisa tertidur pulas. Tapi, dini harinya, dia terbangun dengan perut seperti ditusuk-tusuk besi.
Sudah hampir sepuluh menit Rijal nongkrong dan sakit perutnya belum mereda. Tiba-tiba, tubuhnya kaku. Telinganya mendengar sesuatu. Pertama-tama suara itu terdengar halus dan jauh, seperti suara desau angin. Lama kelamaan, suara itu terdengar semakin jelas.
Nafas! Itu suara nafas orang. Kadang cepat, kadang menghilang, lalu seperti memburu. Nafas itu semakin lama semakin cepat, seperti orang berlari mengejar sesuatu. Terus menerus seperti itu. Pelan, cepat, semakin cepat, lalu pelan lagi. Suaranya sangat dekat, seperti ada orang bernafas tepat di samping telinga.
Rijal merinding. Dia baru ingat, MKC 13 ini lumayan angker. Dulu, waktu dia kelas 3 SD, ada orang bunuh diri di MCK ini. Kalau gak salah salah, tepat di bilik tempat dia sekarang nongkrong.
Rijal ingat orang yang bunuh diri dengan minum racun serangga itu namanya Bang Oong. Rijal mendengar cerita dari emaknya, waktu itu, anak Bang Oong kena demam berdarah dan masuk rumah sakit. Bang Oong, yang hanya seorang kuli bangunan tidak mampu membayar biaya perawatan, lalu dia meminjam uang kepada seorang rentenir dengan bunga dua kali lipat. Tapi, nyawa anak Bang Oong tidak dapat ditolong dan akhirnya meninggal. Bang Oong stress karena kehilangan anak satu-satunya dan mendapat ancaman penjara dari rentenir itu. Akhirnya, bang Oong bunuh diri. Tubuhnya ditemukan sudah kaku dan hitam legam pada keesokan paginya. Sebulan kemudian, janda Bang Oong kawin dengan rentenir itu.
Sejak itu, banyak orang mengaku pernah melihat Bang Oong berkeliaran di sekitar MCK. Itulah sebabnya MCK itu dinamakan MCK 13. Karena, orang-orang menanggap nomor 13 adalah nomor angker dan kramat.
“Jangan-jangan, itu suara nafas Bang Oong yang masih penasaran.” Rijal bergidik. Dia ingin membaca ayat suci, tapi kata guru ngajinya, kalau lagi di WC, jangan baca ayat suci. Rijal gemetar, sementara sakit perutnya menjadi-jadi. Dia seperti membawa sesuatu yang besar dan berat dan susah sekali untuk di keluarkan. Sakitnya minta ampun. Rijal mengejan. Suara nafas itu semakin dekat dan kencang.
BROOOOOOT….BROOOOOT….BROOOOT….Tiga kali Rijal kentut super gede. Dia tercengang sendiri mendengar suara kentutnya. Rasa-rasanya seumur hidup dia belum pernah kentut sekencang ini. Tapi lega. Perutnya jadi ringan dan adem. Dan Suara nafas itu seketika menghilang. Ajaib!
“Maap, Bang Oong…Aye gak maksud kurang ajar. Abis udah gak tahan!” Rijal buru-buru menyiram air dan cebok. Tapi…
Hiiiii….hi hi hi…..Hiiiii…hi hi hi….hiiiii…hi…hi…hi
Tawa seorang perempuan merobek kesunyian dini hari itu. Rijal berdiri kaku. Matanya melotot dan mulutnya menganga lebar. Suara tawa itu terdengar jauh dan teredam. Itu pasti suara kuntilanak. Katanya, kalau mendengar suara kuntilanak dekat, berarti kuntilanak itu jauh, Tapi, kalau suaranya jauh, berarti kuntilanak itu dekat.
Sebuah kesadaran melintas dibenak Rijal. Bang Oong marah! Lalu, dia manggil pacar kuntilanaknya untuk ngusir orang yang udah kentut kurang ajar.
Rijal mengambil langkah seribu. Dia lari tunggang langgang tanpa memperdulikan apapun, termasuk celana basah yang belum sempurna dia pakai.
‘***
“Rijaaaal…Banguuun…lu kagak sekolah??!!” Suara emak membuyarkan mimpi Rijal menerima piala Champion di Old Trafford. Dia bangun sambil terhuyung-huyung.
“Elu ngompol?” Emak tau-tau sudah berdiri di depannya.
“Yang bener aje, Mak!” Rijal tersinggung.
“Trus, kenape celana lu basah?” Emak menunjuk celananya yang basah.
“Kena air!” Jawab Rijal sambil lalu. “Mak, kapan kamar mandi kelar dibetulin?”
“Minggu depan. Tukang WCnya lagi pulang kampung. Elu ke MCK 13 aje. Emak ama babe juga mandi di situ. Nih, bawa anduk. Jangan lupa bawa uang seribu perak buat uang kebersihan. Cepetan, ntar elu telat sekolah!”
Rijal malas-malasan pergi ke MCK 13 tapi dia harus mandi. Dia masih terngiang-ngiang suara tawa kuntilanak semalam. Sampai di MCK, ternyata ramai. Rijal harus antri. Dia berdiri bersandar sambil mendengarkan percakapan dua orang yang duduk di dekatnya. Rasa kantuk belum sepenuhnya hilang.
“Bini lu masih marah?” Bang Browek, penjaga MCK 13 bertanya pada Bang Rojak yang duduk sambil merokok di dekatnya.
“Masih.” Bang Rojak menjawab singkat.
“Trus, semalem elu tidur di mana?” Tanya Bang Browek.
“Di sini. Di bale-bale belakang. Eh, semalem ada orang boker kagak bayar. Dia main kabur begitu aja. Mana nyiramnya kagak bersih. Orang gila, kali. Kentutnya gede banget. Gue sampe kaget!”
Rijal terkesiap dan menoleh. Ternyata, semalam Bang Rojak tidur di sini. Berarti, suara nafas itu adalah nafasnya bang Rojak. Ya ampun, gue penakut banget. Rutuknya dalam hari. Eh, tapi masih ada suara kuntilanak…
Bang Rojak, preman pasar yang banyak tattoo-nya itu menatap tajam. Rijal gemetar. Aduh, jangan-jangan semalam dia ngeliat gue kabur. Rijal membatin. Dia paling takut sama bos preman yang satu ini.
“Heh! Elu ‘kan kapten Tim Footsal GOCAPAN? Semalam kita kalah, ye? Payah, lu! Pensiun aja jadi kapten. Malu-malu-in warga sini aje!” Kata bang Rojak.
“I…i…iya bang…Sorry.” Rijal gugup tapi lega. Selamet, selamet, bukan soal BTK. Boker Trus Kabur. He he he. Tiba tiba…
Hiiiii….hi hi hi…..Hiiiii…hi hi hi….hiiiii…hi…hi…hi
Rijal kaget setengah mati. Kuntilanak yang semalam! Kuntilanak itu masih mengejar dirinya. Tapi kok, hari terang begini?
“HALLO…Iya neng. Ntar malem abang pulang. Tapi eneng jangan nyambit abang pake bakiak lagi dong. Ntar abang tidur di MCK lagi. Mmuuah, I lop you!” Bang Rojak menutup HP sambil nyengir. Rijal memandangnya tak percaya.
“Kenape,lu? Ada masalah sama gue?” Bang Rojak balas melotot.
“Eh, nggak…nggak…bang! Cuma mau bilang, Ring Tone-nya keren.”
Sialaaaan!!! Cuma Ring Tone! Jerit Rijal dalam hati.
‘***
Jakarta, 13 Feb 2010
Tidak ada komentar