Si Manja




Cerpen ini dimuat di majalah HAI edisi no 13 tanggal 29 Maret 2010

Si Manja
Oleh  Dwi Indarti


Hampir tiga bulan aku mengenalnya. Sejak saat itu kami selalu bersama. Kami tak terpisahkan, ibarat perangko dan lemnya. Dimana ada aku, selalu ada dia. Kemanapun aku pergi, dia selalu menemani. Semua terjadi begitu saja secara alami. Bukan kehendakku ataupun maunya dia, namun aku percaya semua ini takdir-Nya yang menyatukan kami saat ini.

Sebelum kebersamaan yang indah ini, aku sudah mengenalnya walau hanya sepintas. Kami tak pernah saling menyapa, hanya sesekali bertemu dan bertatap muka, setelah itu berlalu tanpa kesan apapun. Aku dan dia juga bukan musuh seperti cerita di sinetron-sinetron. From enemy into lovers. Awalnya tidak kenal, lalu saling bermusuhan, kemudian suka-sukaan dan akhirnya jadian, menikah, punya anak, cerai, dan jadi musuh lagi. Itu sih kisah cintanya para selebritis. Satu kata, basi!




Yang aku tahu tentang dia, sebelum dia menjadi milikku, adalah dia menjadi milik orang lain. Entah kebetulan atau tidak, nama mantannya sama dengan namaku. Kebersamaan mereka tergolong cukup lama. Aku tidak tahu persis apa penyebab utama retaknya hubungan mereka. Yang aku tahu hanyalah, tiba-tiba mantannya meninggalkan dia begitu saja.

“Loh, kok bisa ? Mereka ‘kan sudah lama bersama ? How come?” Begitu reaksiku ketika pertama kali mendengar berita tentang tragedi yang menimpanya.

“Entahlah. Tak banyak orang yang tahu tentang hal yang sebenarnya terjadi antara dia dan mantannya. Itu berita Top Secret. Hanya orang-orang tertentu yang tahu. Lagipula, kenapa heran, sih? Tak ada yang abadi di dunia ini. Begitu, kan kata Peterpan.” Kata seorang teman yang menceritakan kejadian itu kepadaku. Lalu dia memainkan gitarnya, jreng!

Tak ‘kan selamanya, tanganku mendekapmu…
Tak ‘kan selamanya, raga ini menjagamu…


Sampai sekarang aku tidak pernah menanyakan hal itu kepadanya, bagaimana rasanya ketika mantannya meninggalkannya. Sakit hatikah? Kecewakah? Biar saja pertanyaan-pertanyaan tadi aku simpan dalam kotak koleksi kata yang tidak terucapkan di dasar lubuk hati. Biarlah semua itu menjadi misteri. Menjadi bagian kelam dari masa lalunya. Hingga tiga bulan kebersamaan kami yang indah ini pun, aku belum mengetahui secara pasti tentang hal itu. Aku mencoba belajar menjadi orang yang menghargai privasi.

Aku juga punya cerita masa lalu. Sebelum ada dia, aku pun ada yang lain. Dulu, kami selalu bersama, seperti saat ini aku dengannya. Tetapi mantanku dulu bukanlah milikku seutuhnya. Selain bersamaku, dia juga bersama dengan yang lain. Aku tahu itu karena mantanku selalu jujur kepadaku. Aku tidak kecewa, tidak marah, bahkan sama sekali tidak cemburu. Kau pasti berpikir aku bodoh, mau saja di duakan. Tapi itu adalah konsekuensi yang harus aku terima dulu. Aku membutuhkannya, sementara dia sudah ada yang memiliki. Orang itu juga sangat membutuhkannya. Bahkan kebutuhan orang itu seringkali melebihi kebutuhanku. Terpaksa sering kali aku harus mengalah, mendahulukan kebutuhan orang itu. Karena secara yuridis dan de facto, mantanku memang bukan milikku. Aku seperti benalu yang menempel padanya. Pemiliknya yang dulu tahu kalau aku sering menghabiskan waktu bersamanya, namun dia tak berbuat apa-apa. Dia hanya mendiamkan kami. Dan aku sangat bersyukur atas sikapnya itu.

Namun kini hidupku sudah lebih tenang. Aku tak perlu merasa menjadi seperti benalu lagi. Karena aku telah menemukannya. Milikku seutuhnya.

Si Manja, begitu aku menamakan dirinya. Entah dia suka atau tidak, yang penting aku senang menyebut dia seperti itu. Tahukah kau mengapa aku menyebutnya Si Manja? Aku jadi tertawa geli mengingat peristiwa ini.

Beberapa minggu lalu, aku pergi bersamanya. Itu adalah perjalanan jarak jauh pertama yang kami tempuh, ke puncak. Rasa lelah yang dia rasakan membuatnya merengek sejadi-jadinya. Aku hanya tersenyum simpul dan berharap dia kuat sampai puncak. Aku terus memaksa dan meyakinkannya.

“Ayo, kau pasti bisa! Kita harus sampai puncak bersama-sama!” Kataku menyemangatinya. Namun dia tidak mau mendengar kata-kataku. Rengekannya yang keras menenggelamkan suaraku.

Kami harus berhenti beberapa kali untuk beristirahat. Kami tertinggal jauh dari rombongan. Aku berusaha sabar menghadapi kelakuannya yang baru kuketahui ini. Jadi, begini, toh sifat aslimu. Kataku dalam hati.

“Dasar manja! Baru mengahadapi medan seperti ini saja, sudah merengek-rengek dan minta berhenti. Lihat, kita tertinggal jauh di belakang. Kita harus segera menyusul yang lain kalau tak mau tersesat!” Omelku. Dia hanya terdiam. Tak membalas sekalipun omelan panjang lebarku. Cahaya matanya meredup. Rengekannya yang tadi sangat mengganguku, perlahan-lahan menghilang dan berhenti sama sekali. Hatiku luluh melihat keadaannya. Seharusnya aku belajar untuk lebih memahaminya. Seharusnya aku tidak terlalu memaksanya untuk menuruti semua keinginanku.

Aku bangkit, menghampirinya, dan membelainya dengan lembut. Dia langsung menerima permintaan maafku. Aku memberinya pilihan, meneruskan perjalanan atau kembali pulang saja. Dia memberi isyarat agar meneruskan perjalanan. Aku lega sekali, sebab kami sudah melewati setengah perjalanan. Sayang sekali kalau kami harus menyerah. Pasti nanti kami akan ditertawakan oleh kawan-kawanku di depan sana. Mereka sudah berkali-kali menghubungi ponselku, menanyakan posisi kami yang tertinggal jauh. Biar saja mereka menertawakan kami sepuasnya, aku tidak terlalu peduli akan hal itu.

Maka, dengan susah payah kami melanjutkan perjalanan hingga akhirnya sampai di tempat tujuan. Aku bangga sekali dengannya. Aku memandanginya dan dia tersipu-sipu malu. Tubuhnya penuh debu dan basah. Gerimis yang turun sepanjang perjalanan tadi cukup membuatnya basah dan berlumpur. Keadaanku pun tak jauh berbeda.. Mataku perih dan berair karena terlalu lama diterpa angin. Wajahku cemong-cemong oleh debu yang bercampur air hujan membentuk guratan-guratan lumpur. Tubuhku menggigil. Jaket yang kukenakan tak mampu menghalau hawa dingin pegunungan ini. Aku langsung mencuci muka setelah tiba di puncak. Brrrr, air yang menyentuh wajah dan tanganku membuat ku merasa seperti sebongkah es batu. Beku. Aku berusaha melumerkan topeng es batu yang menempel di wajahku dengan mengerut-erutkan alis, mangap-mangap, monyong-monyong, mengsong-mengsong. Kawan-kawanku menertawakan kelakuanku, dan memotret wajahku yang mirip hasil karya mahasiswa seni rupa tingkat satu. Mengsong sana sini. Usahaku lumayan berhasil, ketika kurasakan topeng es batu itu sudah tidak terlalu kuat menempel di wajahku. Namun belum sepenuhnya mengusir rasa beku yang menjalari setiap persendian tubuhku. Nafasku berasap. Haah…haahhh….aku menghembuskan nafas banyak-banyak untuk menghasilkan asap yang lebih banyak.

“Norak, lu!” Seorang kawan memukul kepalaku.

“Birain! Di Jakarta, kan gak bisa seperti ini.” Ujarku sambil berlalu.
Tidak lama kemudian, aku kembali kepada si dia. Akh, manja sekali dia. Dia tidak mau menatapku, memalingkan wajah dan membelakangiku. Kuurungkan niat untuk menyapanya, dan memberinya ruang dan waktu untuk beristirahat. Dia perlu menenangkan diri setelah perjalanan menanjak hampir lima jam tadi. Aku segera bergabung dengan kawan-kawanku Sejak saat itu, aku memberinya julukan si manja.

Hari-hariku selalu diwarnai oleh suaranya, teriakannya bahkan kedipannya. Kini aku sudah benar-benar bisa melupakan yang lalu, karena dia sudah menjadi milik orang itu seutuhnya. Tidak ada lagi yang harus diduakan. Tidak ada lagi pembagian waktu yang begitu terasa melelahkan. Aku mencintai si manja. Tapi aku kurang yakin dengan perasaannya. Andai, rasaku ini rasamu. Begitu kata Kerispatih yang belakangan ini selalu terngiang di telingaku dan mengalun di dalam hatiku. Pertanyaan konyol itu kupendam sendiri.

Sebenarnya, pada masa-masa awal perpisahan dengan mantannya, aku setengah berharap dia akan berpaling kepadaku. Pengharapan itu muncul begitu saja. Tanpa rasa takut atau persaingan, aku yakin bisa mendapatkannya. Rasa itu kian tumbuh, mekar dan subur di dalam hatiku.

Aku segera melalukan pendekatan awal. Aku menitip pesan kepada seseorang untuk menyampaikan perasaanku padanya. Setelah itu aku menanti sebuah jawaban.

Kalau ada hal yang sangat membosankan, salah satunya adalah menunggu, maka aku sangat setuju. Menunggu jawaban itu lama sekali. Aku merasa lelah. Aku sudah berusaha memintanya, namun belum ada jawaban pasti. Aku hampir putus asa, tapi diri ini yakin bisa mendapatkannya.

Hingga satu hari ketika aku berada diluar kota, sebuah pesan singkat masuk ponselku, memberi kabar gembira bahwa ‘pinanganku’ sudah disetujui. Artinya dia menjadi milikku. Euphoria suka cita begitu memenuhi dada ini. Rasa senang dan haru terus mengelayuti diriku. Sempat terlintas kalau ini adalah sebuah ‘kemenangan’ tapi aku langsung ingat bahwa ini adalah restu dari-Nya.

Kadang aku memang terlalu. Aku meninggalkan dia untuk beberapa jam tanpa tahu keadaannya. Begitu menyadarinya, aku langsung disergap ketakutan. Sudah maksimalkah rasa sayang yang aku berikan kepadanya? Kepuasan karena telah mendapatkannya kadang membutakan mataku. Perhatianku hanya sekilas saja. Tidak seperti dulu, ketika aku sangat menginginkannya. Mungkin itu memang sifat dasar manusia, kurang mensyukuri apa yang sudah dimiliki. Namun, aku berjanji untuk lebih memperhatikannya, mencurahkan rasa sayangku padanya.

Julukan si manja rupanya berdampak agak sedikit buruk pada kondisi fisiknya. Dia sangat mudah sakit. Mungkin karena dia lelah atau masih menyimpan sisa beban masa lalu.

Sepulang dari perjalanan puncak, rupanya rasa lelah masih saja dirasakan olehnya. Rasanya beda sekali, dia seperti terus mengingatkan aku agar memperhatikannya. Disuatu kesempatan, aku mengetahui kalau si manja benar-benar sakit. Aku bingung tak tahu harus berbuat apa.

Timbul sedikit penyesalan karena mengajaknya ke puncak waktu itu. Rupanya perjalanan itu yang membuatnya drop. Manja betul-betul kelelahan.. Kupikir, dulu dia merengek, tetapi ternyata dia sedang menahan sakit. Ada yang dia rasakan saat itu. Penyesalan yang tadinya hanya setitik, kini melebar manakala aku tidak mampu berbuat apa-apa.

“Alhamdullilah aku ada rejeki, besok aku akan mengobatimu.” ujarku padanya ketika akhirnya aku mendapat uang.. Dia hanya terdiam membisu. Hatiku sedih melihatnya.

Aku menghela nafas. Semoga kalimat ini bisa membuatnya tersenyum manja lagi. Aku mencari sela yang baik untuk angkat bicara. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya aku mendapat moment yang tepat. Tenggorokanku terasa kering. Lidahku kaku Kupaksakan mencabut sumbat yang menutupi pita suaraku.

“Ok, besok gue bawa elu ke bengkel motor. Biar rantenya dikencengin lagi. Sekalian ganti oli dan steam. Abis itu gue bawa elu ke cuci motor. Biar kinclong !”
Kupandangi motor bekas pemberian ayahku …Beginilah nasib punya motor bekas…tapi gue sayang sama elu…Manja…
***

Tidak ada komentar