

Dimuat dimajalah HAI edisi No 21 tanggal 24 Mei 2010
My best friend is …
Oleh Dwi Indarti
“Aku sayang kamu”
Gue tersedak. Terbatuk-batuk. Ice capucino yang sedang meluncur di tenggorokan seolah mengkristal dan membentuk bongkahan batu es yang menyumbat saluran pernafasan. Cairan dingin menetes dari hidung padahal gue gak sedang pilek. Gue berusaha mengatur kembali nafas yang tersendat dengan susah payah. Gue ambil tissue dan membersit hidung sekeras-kerasnya. Perlu waktu beberapa saat sebelum akhirnya gue bisa meredakan rasa gatal di tenggorokan akibat tersedak minuman itu.
Perlahan gue mengangkat kepala dan menatapnya. Dia balas menatap. Gue bisa melihat pantulan wajah gue yang sedikit memerah pada lensa kaca matanya.
“Lo becanda, kan?” Suara gue sedikit serak.
“Aku serius. Aku sayang kamu. Aku cinta kamu, Harry.”
Beku. Gue seperti kena serangan hiportemia di kutub utara. Darah gue seolah berhenti. Mata gue menyapu sekeliling. Semua aktifitas di kantin sekolah ini seakan berhenti seketika.
Mang Somad, tukang somay di sudut kantin membeku dengan gaya mengacungkan pisau dan mata melotot pada anak kelas dua yang berdiri nyengir di hadapannya. Mba Surti berdiri mematung dalam perjalanannya mengantar lima gelas es teh manis kepada serombongan cewek yang duduk di tengah kantin. Tangan si Dinda, cewek manis ketua cheerleader, berhenti saat merapihkan rambut panjangnya. Matanya melirik pada Ronald. Sementara Ronald si jangkung, ketua tim basket, berhenti saat jari telunjuknya keluar dari salah satu lubang hidung dengan membawa segumpal kotoran hitam.
“Kamu baik-baik saja, Harry?” Usapan lembutnya pada tangan menjatuhkan gue kembali ke dunia nyata. Kontan gue menarik telapak tangan yang berada dalam genggamannya.
Cukup! Gue harus pergi dari sini. Hati gue berontak.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, gue berdiri mendadak, menggeser bangku panjang kantin dengan kasar, mengabaikan protes beberapa anak yang duduk sebangku, mengabaikan tatapannya yang shock terhadap reaksi gue, menutup telinga rapat-rapat pada teriakannya yang memanggil-manggil nama gue. Sepenuh hati gue berharap agar dia tidak bangun dari duduknya dan mengikuti gue.
Gue perlu sendiri. Gila! Semua ini gila!
Gue bergegas menyusuri koridor sekolah. Tujuan utama adalah memperlebar jarak antara gue dengannya sejauh mungkin. Saat ini, gue gak mau melihatnya.
‘***
Dia memang sahabat gue. Mungkin sahabat terbaik yang pernah gue punya. Bersamanya, gue jalani hari-hari di kota asing ini sejak dua tahun yang lalu.
Dia yang membuat gue bisa mengatasi home sick karena jauh dari keluarga. Bokap dan nyokap mengirim gue balik ke Jakarta karena gue bikin ulah di sekolah gue yang lama di Perth. Sebenarnya gue lebih suka Perth, karena sejak umur tujuh tahun gue tinggal di sana. Tapi gue gak bisa melawan kemarahan Bokap waktu dia tahu gue lebih sering nge-band dari pada sekolah. Akhirnya, gue dipaksa terbang ke Jakarta dan tinggal dengan Grandpa.
Gue benci Jakarta. Buat gue, kota ini terlalu panas dan berisik. Untungnya ada dia. Dia bisa membuat udara panas menjadi sejuk dan menghilangkan kebisingan menjadi keheningan.
Gue dan dia tinggal sekomplek dan satu sekolah, tapi gak sekelas. Dia anak IPS. Gue anak IPA. Gue dan dia seperti tak terpisahkan.
Kami disatukan oleh musik, film dan alam. Mulai dari Jason Mraz sampai Noel Gallagher ex Oasis. Dari Trivium sampai Lady Gaga. Dari My name is Khan sampai Avatar. Dari Java Jazz sampai Jiffest. Dari Grammy Award sampai Academy Award. Dari bioskop kampungan di kawasan Senen sampai Studio Premiere Blizz Megaplex. Dari Gede Pangrango sampai Semeru. Dari Merapi hingga Rinjani.
Gue dan dia sering berdebat seru setelah keluar dari bioskop atau selesai menonton konser musik. Kami membahas alur cerita, penokohan, mengulang dialog-dialog film, berjingkrak gila-gilaan di jalanan sambil bernyanyi keras-keras, menertawakan orang-orang tak berdosa yang melotot kepada kami, mencaci maki guru-guru di sekolah dan hal-hal bodoh lainnya. Kami sering keluar masuk toko yang menjual peralatan gunung hanya sekedar melihat dan mengagumi tas carrier keluaran terbaru, topi kupluk keren, sleeping bag yang bisa menghangatkan tubuh ditengah udara dingin di puncak gunung, tenda, lampu badai canggih, handphone satelit, dan peralatan pendakian lainnya.
Awalnya gue ragu saat pertama kali dia bilang kalau dia juga hobby naik gunung. Kaca mata minus dan tubuh kecilnya kurang meyakinkan. Namun tubuh kecil itu yang membuatnya lincah menapakkan jejak pada jalan menanjak meski carrier besar tersandang di punggung.
Buat gue mendaki gunung sudah menjadi obsesi. Suatu saat dalam hidup ini, gue harus menjejakkan kaki di puncak Everest atau Kilimanjaro. Itu obsesi gue. Di Australia, gue sudah pernah mendaki XXX yang berselimut salju. Jadi, buat gue, gunung-gunung di pulau Jawa kurang menantang meski layak untuk di jamahi.
Gue merasa pertemuan dengannya seperti takdir. Tuhan menghibur gue melalui dirinya. Kami selalu kompak. Kehadirannya membuat gue bisa melupakan kerinduan pada anak-anak band di Perth yang lama kelamaan kehilangan kontak Disisinya, gue bisa menghapus rasa kangen pada Jessica, cewek bule berambut pirang yang gue kencanin selama lima bulan sebelum gue angkat kaki dari Perth. Kepada dia, gue bisa memamerkan trophy playboy tanpa rasa malu. Gue ingat bagaimana reaksinya ketika gue menjejerkan foto-foto para mantan.
“Ini semua mantan kamu? Psyco! Dasar playboy!” Wajahnya berubah tegang dan mengeras.
“Well, Perth dan cewek-cewek ini adalah masa lalumu. Aku dan Jakarta adalah masa kini dan masa depanmu. Kamu gak akan pernah kembali ke Perth,kan?” Tanyanya.
“Gak tau. Ortu gue masih di sana. Liat nanti sajalah.” Gue menjawab asal-asalan.
Sejak itu, gue gak pernah lagi melihat foto para mantan gue. Waktu itu gue gak terlalu peduli.
Sekarang gue baru tersadar, seperti orang yang disiram air dingin, terbangun kelagapan dan megap-megap. Dibenak gue seolah potongan-potongan puzzle menyatu dengan sendirinya, membentuk sebuah jawaban yang jelas dan mengerikan. Tiga kata yang dia ucapkan di kantin tadi adalah jawaban untuk semua pertanyaan-pertanyaan yang dulu gue anggap tolol.
Dia selalu ada disisi gue. Dia selalu menjaga, mengingatkan, membantu, menghibur gue. Apapun yang gue lalukan, kemanapun gue pergi, kapanpun gue minta, dia selalu hadir. Seolah dia membentengi gue dari pergaulan luar.
Asli, gue baru ‘ngeh’ kalau ternyata gue gak punya temen deket lain selain dirinya. Dunia gue hanya terfokus padanya.
Gue inget waktu gue terpaksa menginap di rumah sakit karena kena demam berdarah. Dia nemenin gue 24 jam sampai rela bolos sekolah. Juga ketika gue kemalaman dan kehujanan pulang dari bimbel. Sopir Grandpa mendadak sakit, sedangkan gue belum hapal seluk-beluk jalanan di Jakarta. Untuk naik taksi, gue pas gak bawa duit.
Akhirnya, gue telephone dia. Tak sampai setengah jam, dia muncul dengan payung besar dan memapah gue yang menggigil kedinginan ke mobilnya. Tak terhitung banyaknya bentuk-bentuk perhatian kecil maupun besar yang dia berikan kepada gue tanpa gue sadari maksud dibalik perhatian-perhatian tersebut. Gue bergidik sendiri. Bulu kuduk gue tiba-tiba meremang mengingat semua itu.
Persahabatan. Itu hal terbaik yang bisa gue berikan kepadanya. Namun rupanya dia mengharapkan sesuatu yang lebih dari sekerdar persahabatan.
Shit! Gue gak bisa dan gue gak mau. Sama sekali gak mau!
Semalam dia sms. Harry, ada yang ingin aku sampaikan. Besok aku tunggu di kantin sekolah jam istirahat. Be there, please. Gue gak membalas sms itu tapi gue memenuhi permintaannya untuk ke kantin sekolah pada jam istirahat.
‘***
“Tumben lo di sini.” Tepukan keras di pundak membuat gue menoleh. Martin, teman sebangku gue tahu-tahu nongol dan duduk di sebelah gue. Biarpun duduk sebangku, tapi gue gak terlalu akrab dengannya. Dia membuyarkan lamunan gue di sudut taman belakang sekolah.
“Lagi ngadem aja.”
“Sendirian? Sohib lo mana?” Tanyanya. Gue diam.
“Lo kenapa? Muka lo kaya habis dihantam tornado begitu.” Lanjutnya. Entah kenapa, tiba-tiba mulut gue berucap.
“Gue baru ditembak.”
“Hua ha ha…Selamat selamat! Cewek mana yang nembak elu? Gue juga pengen sekali-sekali ditembak sama cewek duluan. Asyik kali, ye…” Martin terkekeh-kekeh senang. Beberapa saat kemudian, dia diam dan melototin gue.
“Oh, elu gak suka sama cewek itu, ya? Poor girl.” Mimik wajah Martin dibuat seserius mungkin tapi senyum jahil masih membayang jelas di bibirnya.
“Tapi siapa sih yang nembak elu? Kasih tau dong, Jack! Gue bisa jaga rahasia, kok! Sumpah kolor, dah!” Martin mendesak.
“Janji elu gak bilang siapa-siapa?” Tanya gue
“Janji! Emang siapa orangnya?” Katanya.
“Syamsul.”
Gubraak. Martin terjengkang.
Tidak ada komentar