Mahluk Manis di sudut kelas






Dimuat di Majalah HAI edisi No 24 tanggal 14 Juni 2010

Mahluk manis di sudut kelas
Oleh Dwi Indarti

Tak ada yang aneh dalam hidup Ableh. Semua kelihatan normal untuk seorang cowok kelas dua SMA. Dia suka musik dan nonton film, penggemar berat Moto GP, Milanisti dan Jakmania sejati. Dia pernah nembak cewek lebih dari 15 kali dan hanya 2 yang sukses dijadiin pacar, walaupun hanya bertahan seumur jagung karena dua-duanya diputusin secara sepihak oleh si cewek. Yang penting udah pernah pacaran. Untuk ukuran face, Ableh termasuk medium standard. Dia memang gak seganteng Nicholas Saputra tapi dia lebih ganteng kalau dibandingkan dengan Ajis gagap.





Hidupnya juga normal-normal saja. Jarang bolos sekolah meskipun suka nyontek kalau lagi kepepet, dan belum pernah gak naik kelas sejak masuk TK. Gak pintar tapi juga gak terlalu bodoh. Nilainya rata-rata. Gak rajin tapi juga gak malas. Itulah sebabnya dia jarang diingat sama guru, karena dia biasa-biasa saja. Para guru biasanya lebih gampang ingat sama murid yang ‘ter’. Terpintar atau terbodoh, tercantik atau terjelek, terajin atau termalas, terbaik atau terbadung. Nah, si Ableh ini kelasnya di tengah-tengah, jadi dia kurang dapat perhatian dari para guru.

Weekend biasanya dihabiskan dengan ‘merumput’ di lapangan bola bersama teman-temannya, atau nongkrong berjam-jam main game di Warnet. Kalau punya duit lebih, sesekali dia ngayap ke mall untuk cuci mata.

Hidupnya normal, setidaknya selama 16 tahun, 364 hari, 23 jam 59 menit. Karena tepat pada malam pergantian hari menjelang ulang tahunnya yang ke-17, hidup Ableh sama sekali jauh dari normal.

Semalam, saat jam menunjukkan pukul 00.00 wib, ketika Ableh memasuki usia 17 tahun, dia dibangunkan oleh sebuah suara halus yang berbisik dekat telinganya.

“Selamat ulang tahun, kak.” Kata suara itu. Ableh seperti bermimpi mendapat ucapan selamat dari sang kekasih hati, tapi itu mustahil sebab dia sedang berstatus jomblowan. Ketika membuka mata, dia kaget setengah mati dan jatuh terjerembab dari tempat tidurnya.

Sesesok bocah kecil berkepala botak duduk di tepi tempat tidur. Anak kecil itu hanya memakai cawat dan tubuhnya seputih susu.

“Hallo, kak…!” Kata bocah kecil itu. Ableh terbelalak dan berteriak.

“Emaaaaaaak…ada tuyuuuuul!”

Tak lama kemudian, emaknya masuk ke kamar dengan tergopoh-gopoh. Dia mendapati anak laki-laki semata wayangnya sedang meringkuk di sudut kamar.

“Selamat ulang tahun ke tujuh belas, anak emak yang paling ganteng!” Emaknya mencium kening Ableh. Ableh langsung memeluknya erat-erat. Matanya masih terpaku pada bocah yang duduk di tepi tempat tidur.

“Tu…tu…yul, Mak! Ada tuyul!” Katanya tergagap-gagap.

“Tenang, tong. Minum dulu nih. Si Supri emang udah lama tinggal di kamar ini. Dia gak ganggu, kok. Ternyata benar kata Alm babe lu, dulu. Elu istimewa.” Emak membawa Ableh duduk.

“A..apa maksudnya? Siapa Supri? Kenapa Alm babe? Apa yang istimewa?” Ableh bingung. Sekujur badannya masih gemetaran.

"Sudah waktunya emak cerita karena memang inilah saatnya. Begini, tong. Almarhum babe lu adalah anak ke tujuh dari keturunan ke tujuh Ki Jomblah Jambleh yang sakti mandraguna. Berdasarkan silsilahnya, anak laki-laki dari anak ke tujuh dari keturunan ke tujuh – udah, lu gak usah mikirin! – “ kata emaknya melihat muka si Ableh yang melongo bego,” akan mewarisi kemampuan untuk bisa melihat dan berkomunikasi dengan mahluk-mahluk ghaib yang ada di sekitar kita dan gak bisa dilihat oleh orang lain. Kemampuan ini akan muncul saat elu berumur 17 tahun. Alm babe kurang yakin akan hal ini karena melihat elu tumbuh biasa-biasa aja tanpa kelebihan apapun selain jerawat – he he, maap! – “ Tambah emaknya melihat Ableh manyun.

“Sayang, Alm babe gak bisa melihat kejadian hari ini gara-gara sepiring semur jengkol.” Emaknya berkaca-kaca. Ableh ingat kejadian 10 tahun yang lalu saat umurnya 7 tahun. Babenya seorang jengkol-mania. Melihat sepiring semur jengkol yang dimasak emak, babe lupa kalau saat itu dia sedang ada di atas pohon asem yang tinggi dan langsung terjun dengan kepala lebih dulu. Babe meninggal seketika. Sejak saat itu, emak gak mau melihat jengkol lagi seumur hidup.

“Jadi, jadi…” Ableh menemukan suaranya lagi.

“Iye, tong. Elu sekarang bisa melihat mahluk-mahluk itu. Sini emak tunjukin yang lain.” Emaknya membawa Ableh ke dapur. Di sudut dapur, dia melihat sosok hitam tinggi besar menyeringai padanya. Lalu emak membawanya ke halaman belakang di mana dia bisa melihat mahluk putih tinggi sedang bergelantungan diantara pohon-pohon sambil melambai-lambaikan tangan padanya. Lututnya lemas dan Ableh jatuh pingsan.
‘***
Paginya dia bangun dan berharap kejadian semalam hanyalah sebuah mimpi buruk. Tapi, ketika dilihatnya tuyul Supri berdiri disamping tempat tidur, Ableh harus menerima kenyataan bahwa dia memang ditakdirkan untuk memiliki kelebihan ini. Istilah kerennya, sekarang dia punya the sixth sense.

Sepanjang perjalanan ke sekolah, dia melihat bermacam-macam mahluk halus di setiap sudut. Mereka bersembuyi di sudut-sudut gelap menghindari sinar matahari. Ada yang meringkuk di bawah kursi angkot, ada yang menggelantung di kusen rumah, di kolong jembatan dan lain-lain. Mereka tidak menganggu sama sekali.

Sampai di kelas, Ableh diserbu oleh teman-teman se-genk-nya.

“Selamat ulang tahun, bro! Jangan lupa traktirannya!” Seru Ophank.

“Dapat hadiah apa dari emak tersayang? Ciuman mesra, ya?” Ledek Alay.

“Guys! Elu-elu gak bisa ngebayangin apa yang gue dapat di umur 17 ini!” kata Ableh menyombong. Tapi dia langsung ingat apa kata emaknya semalam.

“Ingat! Elu gak boleh kasih tahu siapapun soal ini dan jangan menggunakan kelebihan ini untuk hal-hal buruk dan hanya boleh digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat!”

Bel berbunyi. Ableh masuk kelas dan matanya langsung terpaku pada sosok yang berdiri di sudut kelas. Seorang gadis cantik berambut hitam panjang memakai seragam putih abu-abu. Gadis itu bukan teman sekelasnya. Apakah gadis itu …

“Akhirnya, kamu bisa melihat aku, ya…” Bisik gadis itu ketika Ableh sudah duduk di bangku deretan belakang.

“I…Iya. Kamu siapa?” Tanya Ableh.

“Woi! Elu lagi amnesia? Gue Somad!” Somad, teman sebangkunya, terheran-heran melihat kelakuan Ableh. Gadis itu terkikik.

“Aku Rara. Nanti kita ngobrol-ngobrol, ya…berdua saja di sini.” Katanya. Ableh mengangguk takut mengeluarkan suara lagi dan disangka gila.

Pagi itu dimulai dengan ulangan matematika yang super susah. Tapi Rara membisikkan jawaban-jawaban kepada Ableh. Dan semua jawaban itu benar. Untuk pertama kalinya, Ableh mendapat nilai tertinggi ulangan matematika.

Ketika istirahat, kelas menjadi kosong. Ableh duduk di sudut kelas ditemani Rara yang cantik jelita.

“Kamu sudah lama di sini?” Tanyanya. Rara mengangguk dan tersenyum manis.

“Sudah 7 tahun aku menghuni kelas ini. Aku meninggal di sini.” Katanya. Lalu dia menceritakan kenapa dia meninggal di kelas itu. Rara adalah korban kejahatan teman-temannya yang iri karena kecantikannya. Mereka menyekap Rara di kelas tanpa bermaksud membunuhnya, tapi sayang, mereka tidak tahu kalau Rara mengidap penyakit jantung yang akut. Rara ditemukan sudah tidak bernyawa keesokan hatinya.

“Bagaimana kamu tahu kalau aku bisa melihat kamu?” Tanya Ableh penasaran.

“Ha ha, Ableh…bangsa kami tahu bila ada manusia yang bisa mendeteksi keberadaan kami. Kemarin kamu memang tidak bisa melihatku, tapi tadi, ketika kamu masuk kelas, kita eye-contact dan aku langsung tahu bahwa kamu berbeda. Jangan takut, bangsa kami tidak mengganggu manusia bila tidak diusik. Walaupun ada beberapa dari kami yang suka usil. Kami bisa dijadikan sahabat, loh! Seperti aku. Aku bosan kesepian dan cuma berteman dengan dedemit penghuni toilet cowok. Dia suka isengin aku.” Rara cemberut.

Ableh ingin menyentuhnya, tapi dia hanya menangkap angin dan sensasi dingin merambah badannya. Rara terkikik.

“Kamu gak bisa sentuh aku, tapi, kamu mau ‘kan jadi sahabatku?” Tanya Rara.

“Wah, siapa yang gak mau punya sahabat cantik seperti kamu? Jadi pacar juga boleh!” Kata Ableh.

“Pacar? Kamu harus jadi seperti aku dulu untuk jadi pacarku. Mauuuu?” Tanya Rara
“Nggg…gak deh. Gak sekarang. He he.”

Bel berbunyi. Satu persatu siswa memasuki kelas. Rara kembali ke sudut kelas dan berdiam disana. Sesekali Ableh melirik padanya dan dibalas dengan senyum manis dari hantu cantik dan baik hati itu. Kadang-kadang Rara melayang mendekati Ableh. Ableh cengar-cengir sepanjang waktu.

“Iya! Gue tahu elu lagi ultah! Tapi gak usah jadi gila, gitu dong! Awas kalo ntar pura-pura lupa bayar upeti traktiran!” Somad sebal melihat temannya nyengir sepanjang waktu.

Ableh tidak peduli. Hatinya sedang membumbung tinggi. Dia sangat gembira dengan ‘gift’ ini. Sekarang, dia bukan Ableh yang dulu. Bukan lagi cowok biasa-biasa saja. Sekarang dia luar biasa. Apalagi ada mahluk manis yang akan selalu menunggunya di sudut kelas.

Ableh nyengir lagi …

Kmy, 28 Mei 2010

Tidak ada komentar