

Dimuat di Majalah SAY edisi no 6 bulan Mei 2010
Di cerpen ini ada puisi karangan voldemort. Thanks udah ijinin gw pake puisi-nya.
LELAKI BERMATA ELANG
Oleh Dwi Indarti
Akhirnya dia datang. Konsentrasi ke 34 mahasiswa yang tertuju pada urian kuliah Antrophology seketika buyar. Semua menoleh padanya.
“Maaf saya terlambat.”
“Seperti yang telah kita sepakati bersama pada, siapapun yang terlambat lebih dari lima belas menit di kelas ini, maka diwajibkan untuk berekspresi di depan kelas. Nah, kamu mau bernyanyi atau berpuisi?” Pak Malik, dosen mata kuliah Antrophology yang kharismatik itu tersenyum. Beliau tampaknya sama sekali tak terganggu karena ceramahnya terpotong di tengah jalan.
“Puisi, pak…”
“Karanganmu sendiri?”
“Iya, pak…”
“Silahkan, kalau begitu…”
Suara baritonya mulai mengalun berirama, menghiasi setiap jengkal dinding ruangan ini. Juga dinding hatiku.
“Saat cinta mulai berhembus dalam nafasmu, tela’ah dahulu sebelum kau menghirupnya.
Saat cinta mulai bermain di matamu, pejamkanlah sesekali dan pikirkanlah.
Saat cinta telah menyatu di dalam hati, terima dia dengan ikhlas.
Saat cinta telah datang dan memohon padamu, siapkanlah hati untuk menerima rasa kecewa.
Sebab, bila cinta telah meninggalkanmu, rasa sakit itu telah ada pada tempatnya...”
Hening. Mata elang itu menyapu seluruh wajah yang tertuju padanya.
“Terima kasih, Rangga. Silahkan duduk agar saya bisa melanjutkan kuliah ini.”
Rangga menuju ke arahku. Hmm…bukan karena dia ingin duduk di dekatku, tapi karena kursi di sampingku adalah satu-satunya kursi kosong di kelas ini. Dia menoleh kepadaku. Juga bukan karena dia ingin menyapaku, tapi karena dia tak punya buku teks. Maka, aku mengulurkan buku kepadanya.
Kami terdiam. Tidak, dia yang terdiam. Sedangkan aku bergemuruh di dalam. Berada sedekat ini dengannya, aku bisa melihat jari-jarinya yang panjang dan kokoh, bulu-bulu halus pada lengannya, sisa-sisa keringat pada tengkuknya, dan hembusan pelan nafasnya. Ingin rasanya aku menyeka peluh yang membasahi wajahnya. Kutarik nafas panjang untuk mengusir fantasi yang mulai melintas di benakku.
Puisinya bagus. Kutulis kalimat itu pada secarik kertas dan kusodorkan padanya.
Thanks. Tulis Rangga.
Kamu suka puisi? Tulisku lagi
Lumayan. Tulisnya.
Boleh aku membaca puisi-puisimu?
Gak ditulis. Cuma ada di otakku.
Oh, sayang sekali. Btw, kenapa telat?
Kerja.
Kami terdiam lagi. Dia mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja. Aku sama sekali tidak menyimak uraian Pak Malik. Otakku sibuk memikirkan pertanyaan apalagi yang bisa aku lontarkan kepadanya. Aku ingin bertanya banyak hal tentang dirinya. Kerja dimana, tinggal dimana, no hp berapa, masih jomblo atau…Akh..!
Aku Sandra. Tulisku
Hehe, aku tahu. Tulisnya
Aku ingin sekali ngobrol dengannya, tapi itu tak mungkin dilakukan di kelas ini. Pak Malik memang dosen yang baik, namun jangan coba-coba mengabaikannya ketika dia sedang memberi kuliah. Bisa berdampak buruk pada nilai UAS.
Membuka percakapan di luar kelas pun kecil kemungkinan. Aku hanya bertemu dengannya pada mata kuliah Antrhopology. Aku selalu mencari kursi paling belakang, sengaja menyisakan satu kursi untuknya.
“Kenapa elu milih kursi paling belakang di kelas Pak Malik, San? Bukannya doi dosen favorit, lu?” Tanya Melanie, sahabatku.
“Mmm…gak papa, kok. Lagi pengen aja. Bosen duduk di depan terus.” Aku menghindar. Tapi Melanie tak mudah dibohongi. Dia tersenyum penuh arti.
“Karena dia, kan? Si gunung es ?” Tebak Melanie
Aku hanya tersenyum.
“Well, selamat berjuang deh.. Si gunung es itu sudah banyak membekukan hati cewek.” Ujarnya.
Ketika semester baru dimulai sebulan yang lalu, saat itulah pertama kali aku melihatnya. Dalam hati, aku memanggilnya si elang. Matanya yang dalam dan hitam menyorotkan ketajaman yang belum pernah aku temukan pada lelaki manapun. Kedua kelopak mata elang itu dihiasi oleh alis yang lebat dan bulu mata yang panjang.
Sejak saat itu, aku berusaha mencari tahu tentang dirinya. Namun, seperti seekor elang, dia datang dan pergi secepat angin. Akhirnya kutemukan sedikit celah untuk bisa melihat pantulan diriku pada mata elangnya, yaitu dengan menyisakan sebuah kursi kosong di belakang kelas.
“Sampai jumpa minggu depan! Selamat siang!” Suara Pak Malik menyadarkanku bahwa kuliah sudah berakhir. Kelas bising oleh suara anak-anak yang membereskan buku-buku mereka. Satria menghampiriku.
“Sandra, hari ini kamu jaga stand. Aku sudah booking tempat di depan ruang senat. Spanduk sudah dipasang.”
“Ok.Tapi aku makan dulu di kantin, ya.” Jawabku. Satria setuju dan bergegas pergi setelah memberi anggukan sopan pada si elang.
“Ada acara apa?” Tanya si elang yang masih membereskan tasnya.
“Pecinta alam. Kami akan naik ke Semeru minggu depan.” Jawabku singkat. Dan aku terpana saat mata elang itu tiba-tiba terpaku menatapku.
“Semeru?” Ulangnya.
“Yap. Mau ikut? Ini brosurnya. Biayanya gak mahal kok, cuma 200 ribu. Kamu bisa mendaftar sekarang kalau mau. Kebetulan aku panitia. Kami hanya buka pendaftaran hari ini sebab kami gak mau membawa rombongan terlalu besar. Kau tau ‘kan, Semeru masih sangat liar. Kami perlu menyeleksi peserta.” Akhirnya aku bisa bercakap-cakap dengannya. Dia menerima brosur dariku.
“Sepertinya gak bisa.” Dia mengembalikan brosur itu kepadaku.
“Kenapa? Minggu depan kita libur kuliah…” Bayangan mendaki gunung bersama si elang membuat semangatku membumbung tinggi.
“Gak papa.” Jawabnya
“Ayolah. Tak setiap saat kita punya kesempatan mendaki Semeru. Cuaca sedang bagus. Satria sudah mendapat ijin dari pihak kampus dan Taman Nasional Gunung Semeru.” Aku berusaha membujuknya.
“Maaf, aku duluan.” Si elang berlalu dengan tergesa-gesa. Aku agak kecewa.
Tiba-tiba, pluuuuk! Ada yang terjatuh dari tasnya. Aku memungutnya. Ternyata sebuah buku berjudul Lekaki Beraroma Rempah-Rempah karya…Punggung si elang sudah menghilang dibalik pintu, tinggal aku seorang diri yang masih di dalam kelas. Aku berlari mengejarnya.
“Ranggaaa!” Teriakku di koridor. Si elang berhenti dan menoleh.
“Bukumu jatuh.” Kuberikan buku itu kepadanya.
“Terima kasih.” Si elang segera berlalu dari hadapanku.
Aku menghela nafas. Hatiku sudah cukup senang karena hari ini bisa ngobrol dengannya walaupun hanya sebentar. Benar kata Melani, dia dingin seperti gunung es. Well, bahkan gunung es pun bisa mencair suatu saat nanti,’kan. Aku membesarkan diri.
Aku segera menuju kantin. Teman-temanku sudah menunggu disana. Kuliah hari ini sudah selesai, tapi mungkin aku akan berada di kampus sampai sore. Satria menugaskanku untuk menerima pendaftaran anak-anak yang mau ikut mendaki Semeru. Setelah itu aku akan mampir ke toko buku. Aku ingin mencari buku Lelaki beraroma Rempah-Rempah.
‘***
“Satria, sudah 20 orang lebih yang mendaftar. Rencananya rombongan kita maksimal 10 orang, ‘kan?” Aku menyerahkan daftar itu ke Satria.
“Gue gak nyangka. Gue pikir, hanya satu dua orang aja yang berminat. Sekarang tugas gue dan Ipon untuk menyeleksi mereka. Elu mau langsung pulang, San?”
“Gue mau mampir ke toko buku.”
“Mau nebeng?” Satria mengulurkan helm padaku.
“Boljug.” Aku dan Satria berjalan beriringan menuju parkir motor. Banyak yang mengira aku dan Satria mempunyai hubungan khusus. Tapi mereka salah. Aku dan Satria hanya teman. Aku memang menyukainya, tapi tidak seperti ‘itu’. Aku tahu Satria juga menyukaiku, tidak seperti ‘itu’. Sebab, dia pernah mengatakan padaku bahwa dia menyukai Melanie, sahabatku. Aku menawarkan bantuan kepadanya untuk mendapatkan hati Melanie. Namun, dia menolak dengan tegas. Saat ini, dia hanya ingin menjadi “secret admirer”-nya Melanie.
‘***
Sudah hampir setengah jam aku duduk di halte ini menunggu angkot yang menuju ke rumahku. Tadi aku tidak berhasil mendapatkan buku Lekaki Beraroma Rempah-Rempah. Stocknya lagi kosong, begitu kata mbak pramuniaga toko buku itu. Satria tadi hanya mengantarku sampai depan Mall dan dia langsung pulang.
Langit memerah pertanda senja telah tiba. Halte kosong, hanya aku sendiri yang duduk menunggu di sini. Ada seorang petugas kebersihan sedang menyapu jalan tak jauh dari tempatku. Tubuh dan wajahnya terutup rapat. Wearpack orangnye dengan tulisan di punggung “Dinas Kebersihan DKI Jakarta”, sepatu boot, dan topi. Wajahnya juga terutup kain hingga hanya menyisakan bagian mata. Mungkin untuk menghalau debu-debu terhirup masuk ke dalam rongga hidungnya. Penyapu jalan itu menunduk. Sapu lidi bergagang kayu yang diayunkannya menerbangkan butir-butir halus debu, membuatku terpaksa menutup hidung.
“Gak sopan , nih. Gak tau ada orang ya?” Pikirku geram. Penyapu jalan itu terus menyapu. Dia memunggungiku. Mungkin dia memang tak tahu ada orang di sini. Aku mengalihkan perhatian pada angkot yang mendekat. Aku bangkit dan melambaikan tangan. Tapi angkot itu sudah penuh sesak, sampai-sampai ada tiga orang berdiri bergelantungan di pintunya.
Kini aku berdiri di belakang si penyapu jalan. Kulihat terselip sebuah buku pada kantong belakang celana wearpacknya. Tepi bagian atas buku itu mencuat. Rasanya aku pernah melihat cover buku itu. Hmm…apa ya ? Aku terus berdiri di belakang si penyapu jalan. Ketika dia menunduk untuk mengeruk sampah dengan pengki, sebagian cover buku itu terlihat jelas. Ternyata, itu buku Lelaki Beraroma Rempah-Rempah!...Hmm, kebetulan sekali? Aku tergelitik. Seorang penyapu jalan, mengantungi sebuah buku? Bukan sembarang buku. Bukan TTS atau komik.
Aku masih berdiri mematung ketika penyapu jalan itu membalikkan badannya. Wajahnya mendongak dan kami beradu pandang. Ya Tuhan, mata itu …
Penyapu jalan itu tergugu. Pengki ditangannya terlepas, membuat daun-daun kering dan kertas-kertas sampah kembali bertebangan. Sementara dadaku bergemuruh.
Bagaimana mungkin aku tidak mengenali mata itu? Sepasang mata elang yang sudah hampir satu bulan menghantui malam-malamku dan menyelinap dalam mimpi-mimpiku. Sejenak aku tak tahu harus bagaimana. Penyapu jalan itu membalikkan badan.
“Rangga?” Aku menarik sikunya. Tubuh penyapu jalan itu tegang dan membeku, namun tak lama kemudian aku merasakan tubuhnya kembali rileks. Dia menarik nafas dan berbalik menghadapku.
“Hai, San…Belum pulang?” si Elang membuka penutup wajahnya dan tersenyum. Ya Tuhan, baru kali ini aku melihat senyumnya. Bibir tipis itu menyunggingkan senyum grogi, malu bercampur pasrah. Tapi tetap ganteng.
“Lagi nunggu angkot. Kerja ya?” Stupid question! Aku merutuki diriku karena melontarkan pertanyaan tolol itu. Tapi tampaknya si Elang sudah berhasil menguasai diri sepenuhnya. Dia kembali ke wujud asalnya, tenang dan tegar.
“Iya. Giliran shift sore. Duduk, ah. Istrirahat sebentar.” Kami duduk di halte. Keheningan kembali menelingkup.
“Kamu yang pertama tahu.” Katanya memecah keheningan. Aku menoleh, tak tahu harus berkata apa.
“Well, this is me. Si gunung es itu ternyata hanya seorang penyapu jalan.” Kata-katanya menyelamatkanku dari keharusan berkomentar.
“Jadi, kamu tahu kalau kamu di juluki gunung es?” Akhirnya aku menemukan suaraku kembali.
“Tahu. Banyak gadis yang berusaha mendekatiku. Tapi, apa reaksi mereka nanti melihat pekerjaanku? Aku gak mau ambil resiko untuk dicemooh.” Jawabnya. Hening kembali.
“Hey, tau tidak? Sudah lebih 20 orang yang mendaftar ikut ke Semeru. Kami harus menyeleksi mereka. Itu tugas Satria dan teman-temannya. Kalau kamu berminat, aku bisa ‘menyusupkan’ kamu dalam rombongan.” Aku berusaha melemparkan topik baru.
“Ingin sekali. Sejujurnya, aku rindu hutan dan gunung. Almarhum ayahku dulunya seorang polisi hutan. Beliau ditugaskan di Taman Nasional Tengger Semeru. Beliau sering membawaku naik gunung dan masuk hutan. Gunung dan hutan adalah darahnya, yang berarti juga darahku. Beliau meninggal dalam tugas ketika aku kelas 2 SMP, terkurung dalam api pada peristiwa kebakaran hutan. Sejak itu, aku, ibu dan adikku pindah ke Jakarta. Hidup kami hanya mengandalkan pensiunan ayah. Maka dari itu, aku bersedia bekerja apapun agar bisa bertahan hidup dan terus kuliah. Mendiang ayahku berpesan agar aku dan adik sekolah sampai sarjana. Sementara ini, hanya pekerjaan ini yang bisa kuperoleh untuk membiayai kuliah dan membantu biaya hidup. Ibuku membuka warung kecil di rumah dan adikku membantu dengan mengajar les privat. Ehm, maaf…aku tak pernah menceritakan hal ini pada siapapun. Aku gak tau kenapa aku merasa nyaman bercerita padamu, Sandra.” Si elang tampak malu karena sudah bercerita banyak.
Dia merasa nyaman denganku? Huh,huh,huh…aku berusaha memadamkan api yang berkobar-kobar di dadaku.
“Tak ada yang salah dengan pekerjaan menyapu jalan. Ini pekerjaan mulia. Apa jadinya kalau gak ada orang yang bersedia membersihkan jalan dari sampah-sampah. Gak perlu malu. Jadi, kamu mau ikut ke Semeru?” Tanyaku. Aku berusaha membuat si elang tidak merasa mempunyai kewajiban untuk bercerita. Pasti berat rasanya mengungkapkan apa yang selama ini berusaha ditutupi.
“Hmm, 200 ribu, bagiku itu jumlah yang besar. Aku tak punya uang sebanyak itu.” Jawabnya dengan nada miris. Tiba-tiba sebuah ide muncul dari benakku.
“Hei, kamu bisa menjadi guide kami. Pasti kamu tahu banyak seluk-beluk gunung Semeru,ya ‘kan? Kita bisa saling membantu. Kami tidak perlu membayar orang untuk menjadi guide dan kamu bisa bertemu teman lamamu di hutan sana. Kawanan simpanse…” Aku berusaha melucu. Tapi kok kedengarannya basi!? Si elang tak menjawab apa-apa, tapi kulihat sepercik binar di kedalaman sorot matanya. Dia masih ragu.
“Tenang saja. Satria, ketua tim kami orangnya ok. Dia pasti setuju. Nanti aku kabari lagi. Boleh minta nomer Hpmu?” Tanyaku. Akhirnya, kami bertukar nomer HP. Yes yes yes…! Jeritku dalam hati.
“Eh, angkot!” Aku melonjak berdiri ketika sebuah angkot yang masih kosong berhenti di depan halte. Kami berpisah. Dari dalam angkot, kulihat si elang kembali memasang penutup wajah dan meneruskan pekerjaannya. Ada rasa iba, haru dan bangga yang menyeruak dalam dadaku.
Bayangan mendaki gunung bersama si elang membuat senyumku tak henti mengembang. Di atas sana nanti, ingin kutangkap seekor elang jawa yang berterbangan di puncak Mahameru, untuk sekedar menunjukkan padanya bahwa bukan hanya dia yang memiliki sorot mata sedasyat itu. Ada mahluk lain yang juga memilikinya. Semoga perjalanan kami ke Semeru nanti menjadi awal kisah kami. Semoga…semoga…semoga…..
KMY, 6 Des 2009
Jam 01.30 dini hariiiiiii.
Tidak ada komentar