

Dimuat di Majalah KARTIKA edisi 82 bulan Juni 2010
Kursi Roda
Oleh Dwi Indarti
Dia duduk di kursi roda? Apa aku salah orang?
Aku berdiri mematung. Mungkin aku memang salah orang. Tapi…
“Hai, apa kabar Ratih?” Pria muda itu menggelindingkan kursi rodanya ke arahku. Aku berusaha menutupi keterkejutanku, tapi gagall.
“Maaf, kamu Aryo, kan?” Aku membuka suara.
“Yup! I am Aryo. Surprise,hah?!” Dia merentangkan kedua tangannya.
“Masuk dulu, yuk. Aku sudah memesan minuman untukmu, orange punch, itu ‘kan kesukaanmu?” Tanpa menunggu jawabanku, Aryo memutar kursi roda dan menggelingkan roda-rodanya dengan lengannya yang tampak kekar di balik kemeja putih lengan panjang yang dia kenakan. Aku mengikutinya dari belakang, masih belum percaya melihat keadaannya.
“Maafkan reaksiku yang berlebihan tadi, ya.” Aku lebih rileks setelah orange punch dingin membasahi kerongkonganku. Aryo tersenyum.
“Kamu bukan orang pertama yang bersikap seperti itu kepadaku. Aku sudah terbiasa.” Aryo menjawab dengan santai.
Dia setampan foto profile facebook-nya. Wajahnya putih bersih dengan lesung pipit pada kedua pipinya. Badannya ideal untuk ukuran seorang lelaki. Suara baritonnya sama seperti yang sudah sering aku dengar di telephone. Renyah dan menyenangkan didengar. Semua sama seperti yang aku bayangkan, kecuali kursi roda itu.
Ini pertama kali aku bertemu langsung dengannya, setelah sebelumnya kami ‘berkencan’ di facebook. Entah bagaimana awal pertemanan kami di facebook. Siapa yang meng-add siapa, aku lupa. Dia mulai menarik perhatianku dua bulan terakhir ini karena rajin komentar di setiap status yang aku pasang dan foto-foto yang aku upload. Intensitas pertemanan kami kemudian berlanjut chatting, sms, dan telephone.
Yang aku tahu, Aryo adalah seorang penulis dan fotographer lepas di sebuah surat kabar nasional, menyukai semua jenis film tak terkecuali film-film dalam negeri yang aku anggap norak, suka semua jenis musik termasuk dangdut yang aku anggap kampungan. And he is a bookworm. Salah satu penulis favorite-nya adalah Dan Brown yang juga penulis favoritku. Itu saja sudah cukup membuat kami terlibat dalam diskusi panjang berjam-jam via chatting, sms ataupun telephone.
Seminggu yang lalu bercerita pada Aryo kalau aku mendapat undangan reuni SMA. Sebenarnya aku malas datang, karena pasti semua teman-temanku datang dengan pasangan masing-masing. Sedangkan aku?
Sejak hubunganku dengan Syarif kandas setahun yang lalu, aku merasa trauma untuk memulai sebuah hubungan yang baru. Sakitnya masih sangat terasa. Hampir lima tahun aku menjalin hubungan asmara dengan Syarif, sejak di bangku kuliah, dan kami sudah menyusun rencana pernikahan. Namun, disaat-saat mendekati hari bahagia itu, aku memergoki Syarif selingkuh dengan kawan baikku sendiri. Beberapa bulan lamanya aku sempat kehilangan semangat hidup, namun perlahan-lahan aku berusaha bangkit.
Aku menceritakan semua ini kepada Aryo. Kata-katanya sangat membesarkan hatiku. Dia meyakinkan aku untuk datang ke pesta reuni SMA dan dia menawarkan diri untuk menemaniku. Ke pesta reuni dengan menggandeng cowok setampan Aryo tentu menjadi nilai lebih dimata teman-teman lamaku nanti. Dalam bayanganku tak ada kursi roda yang menemani Aryo.
Akhirnya kami sepakat untuk bertemu di sebuah kafe. Dan disinilah aku, duduk berhadapan dengannya face to face.
“Hoy, jangan bengong, Non!” Aryo melambaikan tangannya ke wajahku, membuatku tersadar kembali dari lamunan.
“You’re as beautiful as your picture.” Aryo memujiku. Aku tersenyum.
“Kamu juga.” Aku balas memujinya.
“Yeah, kecuali kursi roda ini, kan? Sampai sini, aku perlu bertanya, apakah kamu keberatan dengan kursi rodaku?” Aryo menatapku lurus. Aku balas menatapnya.
“Kenapa aku harus keberatan? Tidak ada yang salah dengan kursi rodamu. Maafkan sikapku tadi. Jujur, aku sama sekali tak pernah membayangkan kau dengan kursi roda. Salahmu sendiri ‘kan, karena kau tidak pernah menyinggung tentang ini.”
“Jadi, kamu masih mau pergi ke pesta reuni SMA-mu denganku? Tanya Aryo
“Why not?” Jawabku mantap. Aryo tersenyum lebar memamerkan deretan gigi putih dan kedua lesung pipitnya.
Kami pun beranjak meninggalkan kafe itu. Aryo menolak dengan tegas ketika aku berusaha mendorong kursi rodanya. Dia lebih nyaman menjalankan kursi roda itu sendiri. Aryo memanggil supir pribadinya via car call. Sebuah sedan hitam BMW berhenti di lobby. Kemudian si supir membopong Aryo ke dalam mobil dan melipat kursi roda untuk diletakkan di bagasi. Aku masuk dan duduk disamping Aryo.
Sedan melaju cepat menuju sebuah hotel bintang lima di bilangan Senayan, tempat reuni SMA-ku diadakan. Memang SMA-ku dulu adalah SMA borjuis dengan siswa-siswi yang berasal dari kalangan menengah ke atas, jadi tidak heran bila untuk acara reuni kami menyewa aula di sebuah hotel berbintang.
Sepanjang perjalanan kami berbincang seru tentang banyak hal. Aku bercerita tentang sahabat-sahabatku semasa SMA dulu dan menerka-nerka seperti apa mereka sekarang. Selepas SMA, papa mengirimku ke Sydney untuk kuliah dan baru sekitar dua tahun yang lalu aku kembali ke Jakarta untuk bekerja di salah satu perusahaan multinasional. Jadi, sejak lulus, aku belum pernah bertemu dengan teman-teman lamaku. Bertemu via FB atau Twitter sudah pasti, tapi kan beda rasanya kalau langsung face to face. Aryo mendengarkan dengan antusias. Sangat menyenangkan berada disisinya saat ini dan aku hampir lupa sama sekali tentang kursi roda. Dia pun sama sekali tidak menyinggungnya.
Satu jam kemudian, kami tiba. Dengan dibantu Udin – supir pribadinya – Aryo turun dari mobil dan kembali duduk di kursi roda. Kali ini aku bersikeras untuk mendorongnya. Begitu tiba di aula, banyak orang menoleh kearah kami. Sebuah jeritan menyambutku.
“Ratih Octaviani Chandrasasmita! Wow, look at you!!!” Brenda, sahabat SMA-ku menghambur dan memelukku, cipika cipiki.
“Makin cantik aja,lu jeung!”
“Kamu juga, Brenda. Kemana Brenda montok yang dulu selalu menghabiskan dua porsi spaghetti bolognise setiap acara makan-makan. Sekarang yang ada Brenda yang langsing. What a body!” Aku heran melihat perubahan tubuh Brenda.
“You know what, spaghetti bolognise itu membuat gue merogoh kocek jutaan rupiah untuk sedot lemak demi badan gue sekarang ini.” Brenda berbisik di telingaku.
“So, elu sama si-a-pa…?” Brenda mengucapakan kata ‘siapa’ dengan terputus-putus begitu melihat Aryo. Dengan sigap, Aryo mengulurkan tangannya.
“Aryo! Ratih’s boyfriend.” Katanya mantap. Aku melotot kepadanya. Boyfriend? Sejak kapan?
“Ow, your boyfriend? Cakep sih, tapi…” Kata-kata Brenda terpotong oleh serombongan orang yang mendekat ke arah kami. Brigitta, Julian, Stefani, Markus dan Bagas, satu per satu cipika cipiki denganku.
“Everybody! This is Ratih’s boyfriend!” Brenda memberi tekanan pada kata boyfriend sambil berusaha menutupi sikapnya yang merendahkan Aryo. Sayang, usahanya gagal karena cibiran dimulutnya sangat jelas sekali. Satu persatu teman-teman lamaku menyalaminya. Tatapan mereka tertuju pada kaki Aryo. Aku merasa sangat tidak nyaman, tapi Aryo tampak rileks dan menikmati semua itu. Aku mengusulkan agar segera keluar dari ruangan itu karena banyak teman-temanku yang lain menatap Aryo. Tapi Aryo menahanku agar tinggal di pesta supaya aku bisa bertemu teman-teman yang lain. Ketika Aryo pergi mengambil minuman, Brenda menarikku ke sudut.
“What’s on your mind, girl? Elu cantik, mantan ketua cheerleader, kaya, smart! Elu bisa dapat cowok manapun hanya dengan menjetikkan jari. Tapi kenapa someone like him yang elu pilih?” Kata-kata Brenda seperti membakar hatiku.
“Pertama, jangan pernah menyebutnya ‘someone like him’. Kedua, elu gak tau apapun tentang dia. Ketiga, this is not your business. Dan terakhir, hati-hati, kue tart itu bakal bikin elu sedot lemak lagi!” Aku meninggalkan Brenda yang terbelalak dengan mulut terbuka dan sepotong kue tart coklat menggangtung dibibirnya. Cukup! Aku harus segera pergi dari sini. Tanpa babibu lagi, aku mencari Aryo yang sedang asyik ngobrol dengan sekelompok laki-laki. Dia tersenyum lebar kepadaku.
“Hai, Julian baru saja cerita kalau kau dulu adalah ketua cheerleader tim basketnya. Kok kamu gak pernah cerita, dear?” Aryo tertawa lebar.
“Kita pergi. Bye semua.” Aku mendorong kursi roda melintasi ruangan, menghindari tatapan sinis Brenda.
“Hey…hey…what’s up?” Aryo keheranan tapi dia diam saja dikursi roda. Aku keluar dari hotel itu dan mencari sebuah tempat yang sepi. Akhirnya aku menemukan taman indah disamping hotel.
“Maafkan aku, Yo. Aku sudah membuatmu menjadi tontonan di dalam sana. Aku tidak mengira teman-temanku akan bersikap seperti itu. Padahal, mereka adalah orang-orang berpendidikan. Harusnya mereka bisa lebih menghargai…”
“Sudahlah, Ratih. Aku sama sekali tidak merasa tersinggung atau direndahkan. Aku malah bangga dan senang, kok.” Kata Aryo. Kami duduk berdampingan.
“Aku kagum kepadamu, Yo. Rasa percaya dirimu sangat tinggi. Kenapa kamu bangga dan senang diperlakukan seperti itu?” Tanyaku.
“Aku jadi tahu sifat orang yang sebenarnya. Ada orang bijak yang bilang kalau mau tau sifat orang yang asli, lihatlah bagaimana dia memperlakukan orang yang lebih rendah dari dia, bukan bagaimana dia memperlalukan orang yang lebih diatasnya. Dan teman-temanmu di dalam sana telah memperlihatkan sifat asli mereka dengan gamblang. Para pemuja materi…” Aryo menatap ke langit yang bertabur bintang. Aku mengikuti arah tatapannya.
“Indah ya…” Bisiknya.
“Aryo, boleh aku tahu, kenapa…” Hati-hati aku mengajukan pertanyaan yang sudah ingin aku lontarkan sejak bertemu dengannya.
“Kenapa aku di kursi roda? Mau tau, ya?” Aryo tersenyum nakal. Aku mengangguk serius.
“Boleh gak ,kalau kita gak ngomongin soal itu sekarang? Malam ini terlalu indah untuk dirusak.” Aryo membelai rambutku.
“Oh, maaf, kalau kau belum siap bercerita.” Lalu kami tenggalam dalam obrolan yang membuat kami lupa waktu hingga larut malam.
“Sepertinya pesta reuni sudah bubar.” Aku melihat beberapa temanku di kejauhan yang terbahak-bahak dan berjalan sempoyongan. Mabuk.
“Pulang, yuk.” Ajakku.
“Kamu masih mau bertemu denganku lagi, kan Ratih?” Tanya Aryo.
“Kamu gila? Setelah malam ini, bagaimana mungkin aku bisa tahan tidak ketemu kamu?” Jawabku.
“Yakin? Kamu gak malu punya cowok cacat sepertiku?”
“Cowok? Kapan kamu nembak aku?” Aku mengerutkan kening.
“Sekarang! Ratih, would you be my girlfriend and take me the way I am?” Aryo berkata sambil menggenggam tanganku. Aku tersenyum.
“Yes, I would.” Jawabku mantap.
“Ha ha ha…kita kayak lagi merit aja, nih. Tapi yes! Aku sekarang punya pacar cantik dan baik hati.” Kami tertawa lepas.
“Pulang yuk!” Ajaknya.
Aku berdiri dan siap-siap mendorong kursi rodanya. Tapi Aryo mengangkat tangannnya.
“Pegel juga duduk terus dari tadi. Jalan kaki, ah!” Tiba-tiba Aryo bangkit dan melemaskan badannya. Dia lompat-lompat merenggangkan kaki.
“Yo! Kamu?!”
“Maaf, dari tadi aku cuma acting buat nge-test kamu. Dan kamu lulus test.”
“Ah…kamu rese!!!” Aku menghujaninya dengan pukulan bertubi-tubi sementara Aryo terbahak-bahak
07.03.2010
08.00 pagi
Tidak ada komentar