

Dimuat di majalah SEKAR edisi no 27/10 tanggal 24 Maret 2010
Demi Senyum Ibu
Oleh Dwi Indarti
“Kalau kamu masih ingin ibu hidup lebih lama, segeralah menikah.” Ibu berbatuk-batuk di atas tempat tidur. Aku segera memijit pelan tengkuknya, berusaha membuat batuk ibu berhenti. Kuambil segelas air putih.
“Minum, bu…” Kusodorkan gelas itu. Tapi ibu menepisnya, sehingga sebagian air menyiprat dan membasahi bajuku.
“Apa yang kamu cari lagi, Lia. Umurmu sudah 34 tahun. Sudah punya pekerjaan mapan…uhuk-uhuk…” Omongan ibu kembali terhenti karena batuk hingga membuat tubuhnya terguncang-guncang. Aku memijit-mijit lengannya, hal yang aku tahu sama sekali tak membantu meredakan batuknya.
“Ibu sudah tak tahan mendengar omongan orang, Lia. Mereka bilang kamu perawan tua. Gadis tidak laku. Keburu lapuk....” Bicara ibu semakin berapi-api.
“Bu, sudahlah. Dokter bilang ibu jangan banyak pikiran. Nanti tekanan darahnya naik lagi. Ibu bilang sudah tidak betah di rumah sakit dan ingin segera pulang. Kalau ibu terus-menerus berpikiran macam-macam, kapan ibu bisa keluar dari rumah sakit?” Aku berusaha membuat ibu tenang.
“Bagaimana ibu bisa tenang, Lia. Ibu kasihan melihat anak perempuan satu-satunya belum mendapatkan pendamping hidup. Semua teman-temanmu sudah beranak dua atau tiga. Kamu kesepian…” Lanjut ibu.
“Saya tidak kesepian, bu. Saya senang dengan pekerjaan….”
“Kerja…kerja…kerja…itu masalahnya! Kamu terlalu mencintai pekerjaanmu sehingga lupa menikah. Masalah akut gadis-gadis metropolitan! Merasa sudah mampu mendapatkan segalanya, sehingga tidak lagi membutuhkan seorang laki-laki di sampingnya. Jadi antipati terhadap laki-laki.” Ibu memotong pembicaraanku tanpa belas kasihan.
“Bukan begitu, bu. Saya tidak antipati terhadap laki-laki. Ibu sendiri tahu, saat ini saya sedang dekat dengan seseorang.” Jawabku pelan.
“Siapa? Si Satria itu? Anak ingusan yang masih kuliah itu? Dia pantasnya jadi adik kamu, Lia. Ibu heran, apa yang membuat kamu kecantol sama laki-laki yang umurnya jauh lebih muda. Jangan-jangan, dia ‘melet’ kamu. Dia ingin dapat istri yang sudah mapan, punya rumah sendiri, gaji yang besar sehingga dia tak perlu kerja…”
“Astaghfirullah…Istighfar, bu. Satria bukan laki-laki seperti itu…” Air mataku hampir jatuh saat mengucapkan kata-kata itu. Untunglah, seorang suster datang dan memberitahu waktu besuk sudah habis.
“Ibu istirahat, ya. Besok pulang kerja, Lia kesini lagi.” Aku mencium tangan ibu.
“Kalau kamu sayang dan peduli sama orang tuamu yang tinggal satu ini, terimalah lamaran Bram dan menikah secepatnya. Supaya ibu tenang, bisa terseyum lagi dan tidak sakit-sakitan seperti ini.” Kata ibu sebelum melepasku pergi.
Aku berlari. Bunyi sepatuku bergema di koridor rumah sakit. Airmataku tumpah. Aku berbelok ke toilet dan menangis terisak-isak. Untung saja tak ada seorangpun di dalam toilet. Setelah berusaha sekuat tenaga menghentikan tangisku dan menghapus sisa-sisa air mata, aku mengirim sebuah pesan singkat kepada Satria.
Sat, kamu lagi dimana?
Tak lama, balasannya masuk.
Masih di kampus, Kak. Kenapa?
Aku ingin ketemu. Bisa?
Bisa, Kak. Kuliah selesai 30 menit lagi. Tempat biasa, ya.
Aku segera memanggil taksi
“Plaza Senayan, pak.”
Aku duduk bersandar di kursi belakang. Rasanya badanku lelah sekali. Sudah seminggu ini aku bolak-balik ke rumah sakit setiap pulang kerja. Ibu mengalami stroke ringan akibat tekanan darah tinggi yang sudah lama dideritanya. Dokter bilang, ibu terlalu banyak pikiran. Dan aku tahu persis siapa dan apa yang ada dalam pikirkan ibu. Aku dan status lajangku di usia 34 tahun.
Siapa yang mau melajang sampai usia segini? Aku yakin, setiap wanita ingin kehidupan yang normal dan sempurna. Lulus kuliah, kerja dan menikah di usia muda. Aku sendiri menyimpan keinginan untuk menikah sejak usia 21 tahun. Tapi apa mau dikata, kalau aku belum menemukan seseorang yang bisa membuat hatiku tenang. Sampai kira-kira setahun yang lalu, saat aku mengenal Satria lebih dekat dari teman biasa.
Dalam diri Satria, kutemukan semua yang kuinginkan dari seorang pria. Sederhana, gigih, tak kenal gengsi, rajin, dewasa, sayang pada keluarga. Tak pernah terpikirkan olehku kalau aku bisa menaruh rasa yang lebih dari pertemanan biasa. Dimataku, dia begitu sempurna. Kecuali satu hal. Umur.
Satria berumur 26 tahun. Terpaut 8 tahun di bawahku. Dia memanggilku dengan sebutan kakak. Awalnya hubungan kami hanya sebatas rekan kerja. Namun, semakin aku mengenalnya, semakin banyak sifat dan kepribadiannya yang membuatku terkagum-kagum. Kutemukan bukti nyata bahwa tingkat kedewasaan seseorang tidak bergantung oleh bilangan usia. Buktinya, di usia yang terbilang muda, Satria bisa membuat diriku merasa seperti wanita yang mendapat perlindungan, perhatian dan kasih sayang. Aku yakin dia tulus atas semua perhatiaan yang diberikan kepadaku. Akhirnya aku jatuh cinta lagi setelah hampir tujuh tahun hatiku hampa tanpa cinta setelah putus dengan Ricky, kekasihku yang dulu.
Bersama Satria, aku bisa menjadi diriku apa adanya. Tidak seperti dengan beberapa laki-laki yang sempat dekat denganku sebelumnya. Aku merasa harus terlihat ‘perfect’ di hadapan mereka. Ketika bersama Satria, aku bisa tertawa berbahak-bahak, makan kekenyangan sampai bertahak keras atau tanpa malu-malu, aku terbirit-birit ke kamar mandi mall karena mulas sehabis makan.
Akhirnya, Satria menyatakan isi hatinya padaku. Aku merasa telah menemukan sebelah kepingan hatiku. Semua terlihat sempurna. Lagi-lagi, hanya ada satu masalah. Umur.
Ibu memarahiku habis-habisan ketika aku menceritakan hubunganku dengan Satria. Mas Tio, kakak laki-lakiku juga melarangku. Susah payah aku menjelaskan tentang kebaikan Satria, tapi mereka menepis semua itu hanya dengan satu pertanyaan.
“Apa dia sudah siap menikah?”
Aku mati kutu.
Aku tahu persis keadaan Satria. Dia masih kuliah S1. Penghasilannya lebih rendah dariku sementara dia adalah tulang punggung keluarga yang masih membiayai sekolah 3 orang adik. Dia pernah berkata bahwa dia baru akan memikirkan tentang pernikahan setelah semua adik-adiknya lulus, mandiri dan dia sendiri sudah lulus menjadi sarjana. Kira-kira umur 30 tahun. Saat itu, umurku sudah 38 tahun. Glek!
Tak terasa, taksi yang kutumpangi sudah sampai di Plaza Senayan. Aku segera menuju café tempat kami biasa bertemu dan menunggu Satria. Tak lama kemudian, dia datang.
“Habis menangis ya, kak?” Tanya Satria saat melihat mataku sembab. Aku menumpahkan semua masalahku. Tentang ibu yang dirawat di RS, tentang tekanan untuk segera menikah dan tentang lamaran Bram, anak seorang kenalan ibu, minggu lalu. Ada jeda hening yang panjang setelah aku selesai bercerita, sebelum akhirnya Satria berbicara.
“Sebaiknya kakak menerima lamaran laki-laki itu.” Kata Satria. Aku tergugu.
“Tapi…”
“Kak, maafkan saya. Tapi sebaiknya kakak berpikir secara logis. Saya memang sayang sama kakak, tapi saya belum siap untuk menikah. Saya tidak bisa memperjuangkan kakak, kalau itu yang kakak harapkan dari saya. Maaf .” Satria tak menatapku saat dia berbicara. Aku sudah membeku. Harapanku, dia akan berjuang untukku. Tapi harapan itu sirna.
Malam itu, kuputuskan untuk pasrah dan menerima pada keadaan. Mungkin inilah jalanku. Aku harus patuh pada ibuku, orang tua tunggal semenjak ayah wafat 5 tahun yang lalu.
Kusampaikan keputusanku menerima lamaran Bram pada ibu dan mas Tio. Efeknya langsung terasa. Tiga hari kemudian, ibu sudah boleh keluar dari RS. Ibu meyakinkanku bahwa Bram adalah lelaki yang baik.
“Bram lebih tua setahun darimu, Lia. Posisinya sebagai manajer sebuah bank swasta, sebenarnya, membuatnya dikejar oleh banyak wanita. Selain wajahnya yang cukup tampan. Tapi sejauh ini dia menolak dengan cara yang baik. Kamu sangat beruntung bisa menaklukan hatinya. Dia sangat sopan terhadap wanita. Ibu tidak pernah melihat dia macam-macam dengan perempuan.” Ibu menjelaskan panjang lebar padaku. Aku mulai belajar untuk melupakan Satria dan menyukai Bram. Sejauh ini, dia memang laki-laki yang baik dan sopan.
Tiga bulan kemudian, resepsi pernikahanku digelar secara besar-besaran. Ibu tampak luar biasa bahagia mendampingiku sepanjang acara resepsi. Tak tampak kelelahan karena berdiri selama dua jam untuk menyalami para tamu.
Setelah acara berakhir, ibu menarikku ke kamar. Ibu mencium pipiku dan tersenyum lebar.
“Akhirnya kau menemukan pelabuhanmu, Lia. Percayalah pada ibu. Bram akan membahagiakan hidupmu selamanya. Akhirnya, kau membuat ibu bisa tersenyum bahagia kembali.”
Ya, ibu. Aku bahagia bila ibu bisa menemukan senyum kembali. Demi senyum ibu, mulai saat ini, segala yang terjadi dalam hidupku, biarlah kusimpan sendiri. Sebab, ibu tak akan pernah tahu, kalau sejak malam pertama, aku tahu bahwa aku telah terperosok dalam jurang yang teramat dalam. Sejak malam pertama dan malam-malam seterusnya, ketika aku membutuhkan nafkah batin, Bram selalu sibuk dengan handhpone-nya. Dan aku tahu apa yang sedang diketiknya.
Seto kekasihku, maafkan aku. Malam ini aku harus bersama istriku. Demi status. Tapi percayalah, hatiku hanya untukmu. Aku cinta kamu. Bram.
Kmy, 20 Des 2009
22.45 wib
Tidak ada komentar